Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Sarir dan Soroush, Ambisi Iran Menembus Orbit Strategis

Published

on

Jaringan Satelit Syahid Soleimani akan terdiri atas 24 satelit orbit rendah yang mendukung komunikasi data, IoT, dan kebutuhan industri strategis Iran.
Jaringan Satelit Syahid Soleimani akan terdiri atas 24 satelit orbit rendah yang mendukung komunikasi data, IoT, dan kebutuhan industri strategis Iran.

Media ABI, 25 Agustus 2026 — Menurut laporan Tsnm News Agency pada Senin (24/8/26), setelah membangun peluncur ringan, kelas menengah, dan sistem berbahan bakar padat, Iran kini mengarahkan program antariksa menuju kelas yang jauh lebih berat.

Nama Sarir berada di salah satu ujung peta jalan tersebut. Di atasnya terdapat keluarga Soroush yang dirancang membawa muatan hingga belasan ton. Bersamaan dengan itu, Iran mengembangkan blok transfer orbit, teknologi peluncuran berbasis udara, serta mesin kriogenik.

Semua proyek tersebut bertemu pada satu kebutuhan yang sama, yaitu memperbesar kemampuan Iran untuk mengirim, memindahkan, dan mengoperasikan satelit secara mandiri di orbit yang lebih tinggi.

Baca juga: Tantang Dominasi Starlink, Iran Bangun Jaringan Satelit Nasional Syahid Soleimani

Sarir dan lompatan ke kelas berat

Sarir dirancang dengan tinggi 35 meter dan diameter 4,5 meter. Kapasitas angkutnya diproyeksikan mencapai sekitar 1.500 kilogram ke orbit rendah Bumi.

Peluncur ini diposisikan sebagai perubahan kelas dalam program antariksa Iran. Salah satu kemampuan yang direncanakan adalah menempatkan enam hingga tujuh satelit sekaligus ke orbit rendah.

Sarir juga dirancang membawa satu satelit menuju orbit geostasioner atau GEO pada ketinggian sekitar 36.000 kilometer.

Menurut laporan Tasnim, tahap desain Sarir telah selesai dan pembangunan subsistemnya sedang berlangsung. Peluncuran awal ditargetkan dalam dua hingga tiga tahun setelah 2026.

Jika kemampuan tersebut terealisasi, Sarir akan memperbesar kapasitas Iran dalam menjalankan peluncuran multisatellit. Hal ini berkaitan langsung dengan rencana pembangunan konstelasi satelit yang membutuhkan kemampuan mengirim sejumlah muatan dalam satu misi.

Namun, untuk muatan yang jauh lebih berat, Iran menyiapkan kelas berikutnya.

Baca juga: Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Dapat Disaksikan di Indonesia

Keluarga Soroush, yang terdiri atas Soroush 1 dan Soroush 2, dirancang membawa muatan sekitar 6 hingga 15 ton. Kapasitas tersebut menuntut teknologi propulsi yang berbeda dari sistem yang digunakan pada peluncur sebelumnya.

Iran karena itu mulai mengembangkan teknologi mesin kriogenik melalui kerja sama dengan universitas-universitas di dalam negeri.

Mesin kriogenik menggunakan bahan bakar dan oksidator cair pada temperatur yang sangat rendah. Teknologi tersebut dikenal memiliki impuls spesifik tinggi dan menjadi salah satu pilihan untuk meningkatkan kemampuan peluncur berat.

Dalam peta jalan Iran, pengembangan ini ditempatkan sebagai tahapan menuju misi antariksa yang lebih kompleks, termasuk kemungkinan peluncuran berawak dan eksplorasi di luar orbit Bumi.

Blok transfer orbit menjadi kunci

Memiliki peluncur yang mampu mencapai orbit belum menyelesaikan seluruh persoalan.

Dalam misi antariksa modern, roket dapat menempatkan satelit terlebih dahulu di orbit parkir. Setelah itu, blok transfer orbit mengambil alih untuk membawa satelit menuju posisi yang dituju.

Sistem tersebut dapat memindahkan satelit dari orbit sekitar 500 kilometer menuju GEO pada ketinggian 36.000 kilometer melalui serangkaian manuver yang dapat berlangsung berbulan-bulan.

Fungsinya juga penting untuk pembangunan konstelasi. Setelah menempatkan satu satelit, blok transfer orbit dapat mengubah ketinggian dan sudut orbit sebelum melepaskan satelit berikutnya.

Teknologi tersebut menjadi bagian penting dalam rencana pembangunan Konstelasi Syahid Soleimani yang terdiri atas 24 satelit.

Baca juga: Stok Rudal AS Menipis, Pentagon Paksa Industri Senjata Tingkatkan Produksi

Kepala Badan Antariksa Iran Hassan Salarieh menyebut pengembangan blok transfer orbit dilakukan secara paralel oleh Institut Penelitian Antariksa Iran melalui keluarga Saman dan Organisasi Industri Dirgantara.

Sistem tersebut membutuhkan mesin berbahan bakar cair yang memiliki tingkat keandalan tinggi serta kemampuan dinyalakan dan dimatikan berulang kali di ruang hampa.

Dengan kata lain, masa depan program peluncuran Iran tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membuat roket lebih besar. Kemampuan mengelola satelit setelah roket menyelesaikan tugasnya juga menjadi bagian penting dari rantai tersebut.

Dari pengguna layanan menjadi penyedia

Pengembangan kemampuan domestik memiliki konsekuensi terhadap hubungan Iran dengan industri antariksa internasional.

Dalam sejumlah misi, Iran masih menggunakan peluncur asing seperti Soyuz Rusia untuk satelit yang membutuhkan tingkat keandalan tinggi atau sudut orbit tertentu. Satelit yang disebut dalam konteks tersebut antara lain Khayyam, Kowsar, Hatif, dan Pars.

Penggunaan peluncur asing merupakan praktik yang lazim dalam industri antariksa. Namun, bagi Iran, ketergantungan tersebut juga memiliki konsekuensi diplomatik.

Negara-negara Barat berulang kali menuduh bahwa program peluncuran Iran dapat menjadi kedok bagi pengembangan rudal balistik antarbenua. Iran menolak tekanan tersebut dan terus mengembangkan kemampuan peluncuran domestik.

Baca juga: Citra Satelit Rekam Kehancuran Pangkalan AS di Yordania

Jika Qaem 120 dan Sarir mencapai tahap operasional, ketergantungan terhadap fasilitas peluncuran asing dapat dikurangi.

Badan Antariksa Iran juga berupaya menciptakan pasar domestik bagi industri antariksa dengan kebijakan pembelian data dan citra satelit. Kebijakan tersebut memberi ruang bagi perusahaan swasta untuk mengembangkan satelit mikro dan nano, termasuk keluarga Kowsar.

Persoalan lain adalah biaya.

Peluncuran merupakan salah satu komponen paling mahal dalam rantai ekonomi antariksa. Kemampuan membawa beberapa satelit dalam satu misi dapat menurunkan biaya per kilogram muatan.

Jika teknologi tersebut berhasil dioperasikan secara konsisten, lebih banyak perusahaan berbasis pengetahuan dapat masuk ke sektor yang memanfaatkan data antariksa. Potensinya mencakup pertanian presisi, pencegahan bencana, pengelolaan sumber daya alam, dan asuransi pertanian.

Iran juga menyatakan rencana menawarkan layanan peluncuran kepada negara-negara sahabat dan sekutu. Jika terealisasi, langkah tersebut akan membawa Iran memasuki pasar jasa peluncuran dan mengubah posisinya dari pengguna teknologi menjadi penyedia layanan.

Ruang angkasa sebagai kepentingan strategis

Di balik agenda ekonomi tersebut terdapat pertimbangan geopolitik.

Orbit geostasioner menjadi salah satu sasaran penting karena titik orbit pada ketinggian sekitar 36.000 kilometer memiliki nilai strategis untuk komunikasi. Alokasi posisi orbit berada dalam kerangka Uni Telekomunikasi Internasional atau ITU dan berkaitan dengan prinsip pemanfaatan.

Baca juga: Wall Street Journal: Kecepatan Iran Pulihkan Infrastruktur Strategis Lampaui Perkiraan Intelijen Barat

Karena itu, kemampuan menempatkan satelit pada posisi yang telah dialokasikan dipandang sebagai bagian dari kepentingan nasional.

Iran juga mengembangkan konsep peluncuran berbasis udara untuk mengurangi ketergantungan pada fasilitas peluncuran tetap. Pesawat pembawa dapat membawa peluncur ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi sebelum peluncuran dilakukan.

Selain fleksibilitas lokasi, sistem tersebut memungkinkan penyesuaian lintasan dan sudut inklinasi orbit. Kemampuan semacam itu penting bagi negara yang ingin membangun konstelasi dengan susunan orbit yang beragam.

Pada akhirnya, seluruh proyek tersebut membentuk satu rantai.

Baca juga: Kuwait Bantah Terlibat dalam Serangan terhadap Iran

Safir membuktikan kemampuan dasar. Simorgh membawa Iran ke kelas menengah. Zoljanah dan Qaem memperluas jalur bahan bakar padat. Sarir diarahkan untuk membawa muatan lebih besar, sementara Soroush dan mesin kriogenik berada pada tahap yang lebih jauh.

Blok transfer orbit menghubungkan peluncuran dengan penempatan satelit pada posisi yang diinginkan. Konstelasi satelit kemudian membuka jalan menuju pemanfaatan data dalam skala yang lebih besar.

Bagi Iran, persoalannya kini bukan lagi hanya bagaimana mencapai orbit. Tantangan berikutnya adalah membangun sistem yang mampu bekerja secara berulang, efisien, dan mandiri.

Jika berbagai proyek tersebut mencapai tahap operasional sesuai target yang disebutkan dalam laporan Tasnim, program antariksa Iran akan memasuki fase baru. Negara itu tidak hanya berupaya memiliki peluncur sendiri, tetapi juga membangun rantai kemampuan dari produksi satelit hingga pengiriman, distribusi, dan pemanfaatan data antariksa.

Perjalanan yang dimulai Safir dengan satu satelit kini mengarah pada ambisi yang jauh lebih besar. Di titik itu, ruang angkasa bukan lagi sekadar tujuan teknologi, melainkan medan baru bagi ekonomi, industri, dan kepentingan strategis sebuah negara.

Baca juga: Serangan Iran Hancurkan Infrastruktur Pendukung Pangkalan Militer AS

Continue Reading