Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Zoljanah dan Qaem, Jalur Baru Peluncuran Antariksa Iran

Published

on

Iran mengembangkan Zoljanah dan keluarga Qaem untuk memperluas kemampuan peluncuran berbahan bakar padat dan meningkatkan fleksibilitas operasional.
Dua Dekade Program Antariksa Iran.

Media ABI, 25 Agustus 2026 — Setelah membangun kemampuan peluncur berbahan bakar cair melalui Safir dan Simorgh, Iran mengembangkan jalur lain dengan memanfaatkan teknologi bahan bakar padat dan sistem hibrida, demikian menurut laporan Tasnim News pada Senin (24/8/26).

Jalur tersebut melahirkan Zoljanah di lingkungan industri pertahanan dan keluarga Qaem yang dikembangkan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam. Keduanya memiliki pendekatan berbeda, tetapi sama-sama diarahkan untuk memperluas kapasitas dan fleksibilitas peluncuran Iran.

Dalam program ini, persoalan bukan lagi semata-mata bagaimana membawa satelit ke orbit. Kecepatan persiapan, mobilitas, kapasitas angkut, serta kemampuan melakukan peluncuran berulang mulai menjadi bagian dari perhitungan.

Baca juga: Citra Satelit Perlihatkan Kerusakan Infrastruktur Militer AS akibat Serangan Iran

Zoljanah dan keunggulan bahan bakar padat

Teknologi motor berbahan bakar padat menjadi salah satu bidang yang kompleks dalam industri kedirgantaraan. Sistem tersebut memiliki konstruksi mekanis yang relatif lebih sederhana karena tidak membutuhkan pompa dan jaringan perpipaan serumit mesin berbahan bakar cair.

Bahan bakar padat juga dapat disimpan dalam waktu lama dan memungkinkan kesiapan peluncuran yang lebih cepat.

Zoljanah menjadi peluncur tiga tahap yang menggunakan dua tahap berbahan bakar padat dan satu tahap berbahan bakar cair. Mesin tahap pertama dan kedua memiliki diameter 1,5 meter dan mampu menghasilkan daya dorong sekitar 74 hingga 75 ton.

Peluncur tersebut dirancang membawa muatan antara 200 dan 220 kilogram ke orbit setinggi 500 kilometer.

Salah satu karakteristik Zoljanah adalah kemampuannya menggunakan platform peluncuran bergerak. Dengan sistem tersebut, peluncur tidak sepenuhnya bergantung pada menara peluncuran tetap.

Mobilitas memberikan fleksibilitas dalam menentukan lokasi peluncuran dan menyesuaikan sudut inklinasi orbit. Kemampuan tersebut menjadi penting ketika peluncuran diarahkan untuk pembangunan konstelasi satelit.

Baca juga: Iran Pamer Citra Satelit, Bukti Serangan Presisi ke Pangkalan AS Terungkap

Dari Qased menuju Qaem 100

Pasukan Dirgantara Garda Revolusi mengembangkan jalur sendiri dengan pendekatan yang menekankan efisiensi biaya, penggunaan material komposit, dan kemampuan melakukan peluncuran secara cepat.

Qased menjadi tahap awal dari jalur tersebut. Peluncur hibrida ini menggunakan tahap pertama berbahan bakar cair yang berasal dari pengembangan rudal kelas Qadr. Tahap kedua dan ketiganya menggunakan mesin berbahan bakar padat berbasis komposit, termasuk mesin Salman.

Mesin Salman menggunakan sistem kendali vektor dorong dengan nosel bergerak untuk membantu pengendalian peluncur di ruang hampa.

Qased berhasil menempatkan satelit Noor 1, Noor 2, dan Noor 3 ke orbit pada ketinggian sekitar 425 hingga 500 kilometer.

Setelah itu, tahap pertama berbahan bakar cair Qased digantikan dengan booster berbahan bakar padat yang menggunakan mesin Rafe.

Dari perubahan tersebut lahir Qaem 100, yang disebut sebagai peluncur pertama Iran yang seluruh tahapnya menggunakan bahan bakar padat.

Qaem 100 dirancang membawa muatan sekitar 80 kilogram ke orbit setinggi 750 kilometer. Satelit Soraya menjadi salah satu muatan yang berhasil ditempatkan pada orbit tersebut.

Pada September 2024, satelit penelitian Chomran-1 yang dikembangkan SaIran juga ditempatkan ke orbit sekitar 550 kilometer menggunakan Qaem 100.

Peluncuran tersebut menunjukkan bahwa kemampuan peluncur yang dikembangkan Pasukan Dirgantara Garda Revolusi mulai digunakan untuk membawa muatan dari sektor pemerintahan.

Baca juga: Citra Satelit Tunjukkan Kerusakan Fasilitas Strategis AS akibat Serangan Iran

Qaem 105 dan Qaem 120

Pengembangan keluarga Qaem kemudian berlanjut ke tingkat yang lebih besar.

Qaem 105 dirancang sebagai peluncur empat tahap dengan kapasitas muatan sekitar 200 kilogram ke orbit setinggi 500 kilometer. Dalam sumber Tasnim, pengujian penelitian sistem tersebut ditargetkan pada akhir 2024 atau awal 2025.

Tantangan pentingnya terletak pada mekanisme pemisahan empat tahap. Keberhasilan dalam sistem tersebut akan menjadi salah satu dasar untuk mengembangkan peluncur dengan ukuran dan kemampuan yang lebih besar.

Di atasnya terdapat Qaem 120.

Peluncur tersebut dirancang untuk membawa satelit komunikasi berat dari orbit rendah Bumi menuju orbit geostasioner pada ketinggian sekitar 36.000 kilometer. Pengujian penelitian Qaem 120 direncanakan sekitar 2027 hingga 2028.

Rangkaian Qaem memperlihatkan pendekatan yang berbeda dari pengembangan Simorgh. Jika Simorgh bertumpu pada peluncur berbahan bakar cair dan peningkatan kapasitas, keluarga Qaem menempatkan bahan bakar padat, mobilitas, dan kecepatan peluncuran sebagai bagian penting dari desainnya.

Ekosistem industri yang menopang peluncur

Pengembangan peluncur Iran tidak berlangsung hanya di satu lembaga.

Organisasi Industri Dirgantara Kementerian Pertahanan dan Pasukan Dirgantara Garda Revolusi menjadi dua unsur utama dalam pengembangan sistem peluncuran. Keduanya memiliki pendekatan desain dan kebutuhan yang berbeda.

Baca juga: Citra Satelit Perlihatkan Kerusakan Luas Pangkalan AS akibat Serangan Balasan Iran

Di antara peluncur dan satelit terdapat SaIran, kelompok antariksa dari perusahaan industri elektronik Kementerian Pertahanan.

Menurut keterangan yang dikutip Tasnim, SaIran telah bergerak dari tahap transfer teknologi menuju pengembangan dan industrialisasi sistem antariksa. Lembaga tersebut memiliki rekam jejak dalam produksi dan pengembangan satelit Omid, Rasad, Fajr, Tolou, Paya, Keyhan 2, Hatif 1, dan Chomran-1.

Rantai pasok yang mendukung industri ini juga berkembang. SaIran disebut terhubung dengan lebih dari 1.300 perusahaan berbasis pengetahuan dan sekitar 7.000 perusahaan swasta yang memiliki hubungan dengan Kementerian Pertahanan.

Dengan demikian, keluarga Zoljanah dan Qaem tidak berdiri sendiri. Keduanya merupakan bagian dari ekosistem yang menghubungkan industri pertahanan, perusahaan berbasis pengetahuan, lembaga penelitian, dan sektor swasta.

Perkembangan berikutnya membawa Iran ke kelas peluncur yang jauh lebih besar. Di sana terdapat Sarir dan Soroush, yang dirancang untuk membawa muatan dalam skala ton dan membuka jalan menuju orbit geostasioner. []

Baca juga: Tantang Dominasi Starlink, Iran Bangun Jaringan Satelit Nasional Syahid Soleimani