Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Bin Salman Jatuh ke Sumur yang Digalinya di Yaman

Published

on

Arab Saudi menghadapi tekanan militer dan ekonomi setelah serangan Yaman menyasar pelayaran dan kepentingan minyaknya.
Arab Saudi menghadapi tekanan militer dan ekonomi setelah serangan Yaman menyasar pelayaran dan kepentingan minyaknya.

Ahlulbait Indonesia, 10 Agustus 2026 — Arab Saudi menghadapi tekanan militer dan ekonomi yang semakin besar setelah pasukan Yaman memberlakukan blokade terhadap pelayaran Saudi di Selat Bab el-Mandeb. Mengutip analisis CNN, Fars News Agency melaporkan pada Minggu (9/8/2026) bahwa ekspor minyak mentah Saudi melalui jalur tersebut telah turun sedikitnya 50 persen, sementara biaya militer Riyadh meningkat.

CNN menyoroti serangan rudal dan drone Yaman terhadap fasilitas minyak dan pelayaran Saudi, serta dampaknya terhadap perekonomian negara tersebut. Laporan itu juga membahas konsekuensi penutupan Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz terhadap konflik kawasan dan pasar energi global.

Baca juga: Saudi Terpukul, Yaman Ancam Balas Setiap Eskalasi

Menurut CNN, Ansarullah merupakan salah satu kekuatan terkuat di Poros Perlawanan. Gerakan tersebut menjalankan operasi militer di sejumlah front melawan Arab Saudi dan pasukan lokal yang didukung Riyadh.

Laporan itu menyebut konflik Yaman telah berlangsung lebih dari satu dekade, bermula dari perang antara pasukan yang berbasis di Sanaa dan koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintahan di Aden. Riyadh melancarkan intervensi militer besar-besaran pada 2015 dalam upaya menggulingkan pemerintahan Sanaa. Konflik tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia dan menghancurkan berbagai sumber pendapatan Yaman, termasuk sektor minyak.

Gencatan senjata yang dicapai pada 2022 tidak menghasilkan perdamaian permanen. CNN menilai Arab Saudi kini kembali menghadapi ancaman serangan rudal serta tekanan terhadap kapal-kapalnya di Bab el-Mandeb.

Dani Citrinowicz, mantan kepala cabang Iran pada unit intelijen militer Israel, mengatakan kepada CNN bahwa konflik Arab Saudi dengan pasukan Yaman belum berakhir. Menurutnya, pasukan Yaman telah melewati ambang politik dan militer sehingga tidak lagi bersedia kembali pada kondisi sebelumnya, ketika Riyadh dapat memberlakukan blokade darat dan laut terhadap wilayah utara Yaman tanpa menghadapi pembalasan.

CNN menilai keterlibatan Saudi dalam perang yang lebih luas akan menjadi pilihan mahal dan berisiko, terutama setelah Riyadh selama satu dekade terakhir berfokus menarik investasi asing dan menjalankan program pembangunan Vision 2030.

Baca juga: Yaman kepada Saudi: Pakta Makkah Tak Akan Mengubah Apa Pun

Dalam upaya memperkuat pertahanan, Arab Saudi pada Jumat menandatangani perjanjian pertahanan bersama dengan Turki dan Pakistan. Kesepakatan tersebut menetapkan bahwa serangan terhadap salah satu negara akan dipandang sebagai serangan terhadap ketiganya.

Tekanan terhadap ekspor minyak

Menurut CNN, ancaman dari Yaman kini mengganggu upaya Saudi mengirim jutaan barel minyak dari Teluk Persia menuju Laut Merah untuk diekspor. Ekspor minyak mentah Saudi melalui Bab el-Mandeb disebut telah berkurang sedikitnya 50 persen sejak blokade terhadap kapal-kapal Saudi diumumkan.

CNN juga menyebut Selat Hormuz berada dalam kondisi tertutup. Gangguan terhadap dua jalur strategis tersebut berpotensi memberikan tekanan lebih besar terhadap perdagangan energi global.

Serangan terhadap fasilitas minyak Saudi sebelumnya telah memicu gejolak harga minyak dunia. Jika eskalasi berlanjut, gangguan terhadap ekspor Saudi dapat menekan rantai pasok energi global dan mendorong kenaikan harga minyak.

Baca juga: NBC News Bongkar Kejahatan AS di Yaman

Blokade pelayaran juga dapat berdampak pada impor barang kebutuhan pokok ke Arab Saudi karena meningkatnya biaya transportasi dan asuransi. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Vision 2030 yang bergantung pada pendapatan minyak yang stabil dan investasi asing.

CNN menggambarkan Arab Saudi berada di bawah tekanan militer sekaligus ekonomi. Perluasan konflik berpotensi meningkatkan beban yang harus ditanggung Riyadh sekaligus memperbesar dampaknya terhadap pasar energi global. []

Baca juga: Ansarullah: “Blokade Dibalas Blokade”, Jutaan Warga Yaman Nyatakan Dukungan