Internasional
Rincian Baru Kerusakan di Pangkalan Utama AS di Teluk

Ahlulbait Indonesia, 10 Agustus 2026 – Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran melancarkan serangkaian serangan drone terhadap Pangkalan Udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab dalam Operasi True Promise 4 pada 28 Februari 2026. Menurut laporan Fars News Agency pada Senin, 10 Agustus 2026, serangan tersebut menghantam sejumlah fasilitas yang digunakan militer Amerika Serikat dan menjadi bagian penting dari koordinasi operasi udara koalisi Barat di kawasan Teluk.
Laporan Fars menyebut Al Dhafra, yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Abu Dhabi, merupakan salah satu pusat utama penempatan personel dan peralatan militer Amerika Serikat di Teluk. Pangkalan tersebut juga disebut menjadi lokasi pengoperasian pesawat tempur, drone strategis, serta sistem komando dan pertahanan udara.
Baca juga: Citra Satelit Rekam Kehancuran Pangkalan AS di Yordania
Menurut hasil penelusuran intelijen yang dikutip Fars, Al Dhafra menjadi sasaran beberapa gelombang serangan drone bersamaan dengan respons militer Iran pada 28 Februari 2026.

Serangan drone Iran menghantam fasilitas drone, hanggar pesawat peringatan dini, sistem pertahanan udara, serta pusat komando AS di Al Dhafra.
Serangan drone menargetkan fasilitas penting
Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran disebut menggunakan taktik swarm drone dengan mengerahkan sejumlah drone bunuh diri, termasuk Shahed-136. Menurut laporan tersebut, drone Iran berhasil menembus lapisan pertahanan udara berlapis di sekitar pangkalan.
Baca juga: Citra Satelit Tunjukkan Gudang Amunisi Pasukan Khusus AS di Yordania Remuk
Analisis citra satelit yang dikutip Fars menyebut serangan tersebut mengenai area penempatan drone pengintai dan serang milik militer Amerika Serikat, hanggar pesawat peringatan dini, salah satu sistem pertahanan udara Crotale, serta pusat komando dan komunikasi militer Amerika Serikat.
Fars menyebut sejumlah fasilitas tersebut mengalami kerusakan dan kehancuran akibat serangan. Namun, laporan itu tidak memberikan rincian independen mengenai tingkat kerusakan maupun jumlah korban.
Menurut Fars, dampak serangan tersebut tidak terbatas pada kerusakan fisik. Serangan dinilai berpotensi mengurangi kemampuan pengintaian dan komando koalisi yang dipimpin Amerika Serikat, menciptakan celah dalam sistem pertahanan udara Al Dhafra, serta menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan salah satu pangkalan militer utama Amerika Serikat di kawasan.
Fars juga menilai operasi tersebut sebagai salah satu contoh penting penggunaan taktik drone dalam perang yang berlangsung selama 40 hari. Menurut evaluasi yang dikutip dalam laporan, operasi itu berpotensi memengaruhi perhitungan strategis terkait pencegahan dan keamanan di kawasan Teluk. []
Baca juga: Citra Satelit Tunjukkan Kerusakan Fasilitas Strategis AS akibat Serangan Iran







