Ikuti Kami Di Medsos

Lifestyle

“Takjub!” Kesan Pertama Menyaksikan Peringatan Syahadah Imam Husain pada 10 Muharram

Published

on

Rahmat (bukan nama sebenarnya) membagikan kesan pertamanya setelah menghadiri peringatan Syahadah Imam Husain a.s. pada 10 Muharram di Jakarta. Bagi pemuda perantau asal Cilacap itu, peringatan Asyura menjadi titik awal untuk memaknai agama sebagai jalan kemanusiaan, keadilan, dan keberanian berpihak kepada kebenaran. (Foto: Media ABI)
Rahmat (bukan nama sebenarnya) membagikan kesan pertamanya setelah menghadiri peringatan Syahadah Imam Husain a.s. pada 10 Muharram di Jakarta. Bagi pemuda perantau asal Cilacap itu, peringatan Asyura menjadi titik awal untuk memaknai agama sebagai jalan kemanusiaan, keadilan, dan keberanian berpihak kepada kebenaran. (Foto: Media ABI)

Jakarta, 1 Juli 2026 — “Takjub!” Satu kata itu meluncur spontan ketika Rahmat, bukan nama sebenarnya, diminta merangkum pengalaman pertamanya menghadiri peringatan Syahadah Imam Husain a.s. pada 10 Muharram. Di balik jawaban yang singkat, tersimpan perjalanan batin yang mengubah cara pandangnya tentang agama, kemanusiaan, dan tujuan hidup.

Perjalanan itu bermula ketika Rahmat untuk pertama kalinya menghadiri peringatan Syahadah Imam Husain a.s. pada 10 Muharram yang diselenggarakan Lembaga Komunikasi Ahlul Bayt (LKAB) Jakarta, Jumat (26/6/2026). Mengusung tema “Inspirasi Abadi Kemanusiaan dan Perlawanan terhadap Ketidakadilan“, majelis tersebut menghadirkan Karbala sebagai ruang perenungan tentang nilai-nilai kemanusiaan yang terus hidup melintasi zaman.

Rahmat datang ke Jakarta sebagai seorang perantau muda asal Cilacap. Selama ini, agama dijalaninya dengan sederhana. Salat, puasa, berbuat baik kepada sesama, lalu kembali menjalani rutinitas sehari-hari. Pembahasan tentang mazhab tidak pernah menarik perhatiannya. Istilah Syiah maupun Sunni pun nyaris asing dalam perjalanan spiritualnya. Karena itu, Rahmat datang ke majelis tersebut tanpa membawa latar belakang kajian keagamaan yang mendalam ataupun pandangan tertentu tentang Karbala.

Baca juga: Ustadz Husain Syahab: Di Tengah Heningnya 1,4 Miliar Umat, Karbala Tetap Bergema

Namun, pengalaman pertamanya menghadiri peringatan Syahadah Imam Husain a.s. menghadirkan sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya. Bukan perubahan identitas, melainkan perubahan cara memandang agama. Dari majelis itu, agama dipahaminya sebagai jalan untuk merawat kemanusiaan, menegakkan keadilan, dan menemukan tujuan hidup yang lebih utuh.

Beberapa hari kemudian, saat berbincang dengan Media ABI di Sekretariat Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (DPP ABI), Rahmat tidak memulai ceritanya dengan susunan acara ataupun siapa saja yang hadir. Ingatannya justru kembali pada satu momen yang paling membekas, pembacaan maktam.

Ketika syair-syair duka Karbala mulai dilantunkan, suasana majelis berubah menjadi hening. Setiap bait seakan membawa para hadirin menyusuri kembali perjalanan Imam Husain a.s. bersama keluarga dan para sahabatnya di padang Karbala.

Pengalaman pertama menghadiri peringatan Syahadah Imam Husain a.s. mengubah cara pandang seorang pemuda tentang agama, kemanusiaan, dan makna hidup melalui pesan abadi Karbala.

Pengalaman pertama menghadiri peringatan Syahadah Imam Husain a.s. mengubah cara pandang seorang pemuda tentang agama, kemanusiaan, dan makna hidup melalui pesan abadi Karbala. (Dok. Media ABI)

Rahmat terdiam sejenak ketika diminta mengungkapkan kesan yang dirasakannya. Seolah memilih kata yang paling mendekati pengalaman batin yang sulit dijelaskan.

“Saya tidak bisa menceritakannya. Ketika syair itu dibacakan, terutama pada bagian tertentu, badan saya merinding.”

Majelis telah usai. Namun, pertanyaan yang lahir dari syair-syair Karbala terus mengiringi langkahnya. Sepulang dari majelis, satu pertanyaan berputar di benaknya: untuk apa hidup dijalani jika tidak memiliki arah yang jelas?

Jawaban itu perlahan ditemukan dalam kisah Imam Husain a.s.

“Hidup ini harus punya pegangan. Tidak asal hidup. Setelah mendengar kisah dalam syair maktam, saya merasa hidup harus punya visi, punya misi, dan ada harapan yang ingin dicapai.”

Bagi Rahmat, Karbala bukan lagi kisah yang berhenti di padang pasir Irak lebih dari empat belas abad silam. Nilai-nilainya terus hidup, berbicara tentang manusia, keberanian, dan keadilan, serta menemukan maknanya dalam kehidupan hari ini.

“Karbala bukan soal Syiah maupun Sunni. Ini tentang kemanusiaan. Tentang keadilan. Tentang hati dan ruh manusia.”

Baca juga: Dari Karbala untuk Indonesia: Ustadz Zahir Yahya Tegaskan Asyura sebagai Landasan Martabat Bangsa

Di situlah Rahmat menemukan kekuatan pesan Karbala. Nilai-nilai yang diperjuangkan Imam Husain a.s. tidak terikat oleh ruang dan waktu. Keberanian mempertahankan kebenaran, membela keadilan, dan menjaga martabat manusia selalu menemukan relevansinya di setiap zaman.

Belum semua yang dirasakannya mampu dirangkai menjadi kalimat. Namun, satu keyakinan telah mengendap kuat dalam benaknya.

“Kebenaran ada dalam Karbala. Kemanusiaan ada dalam Karbala. Keadilan ada dalam Karbala.”

Menjelang akhir wawancara, Media ABI mengajukan satu pertanyaan sederhana. Jika seluruh pengalaman itu harus dirangkum dalam satu kata, apa yang paling tepat menggambarkannya?

Rahmat tersenyum.

“Takjub!”

Satu kata itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi Rahmat, “takjub” menjadi penanda lahirnya cara pandang baru terhadap agama. Dari Karbala, ia menemukan bahwa iman tidak berhenti pada ibadah, tetapi hidup dalam keberanian membela kebenaran, menegakkan keadilan, dan memuliakan kemanusiaan sebagaimana diteladankan Imam Husain a.s. []

Baca juga: Dr. Tedi Kholiludin: Asyura Hari Ini Adalah Perlawanan terhadap Penindasan yang Diajarkan Syahid Ali Khamenei