Lifestyle
Mengantar Sang Pemimpin Syahid: Di Musala Imam Khomeini, Sebuah Bangsa Mengucapkan Salam Perpisahan (1)

Ahlulbait Indonesia, 4 Juli 2026 — Tulisan ini disusun berdasarkan laporan, informasi, dan dokumentasi yang dibagikan rekan-rekan wartawan Islamic Republic News Agency (IRNA) kepada Media Ahlulbait Indonesia (ABI), serta pemberitaan yang dipublikasikan melalui situs resmi IRNA. Seluruh fakta, kutipan, kronologi, dan substansi utama dalam artikel ini tetap mengacu pada laporan IRNA. Adapun penyajiannya telah diolah dan disusun ulang dalam bentuk feature naratif guna menghadirkan alur yang lebih utuh, kontekstual, dan nyaman diikuti pembaca. Karena itu, naskah ini bukan terjemahan harfiah dari artikel IRNA, melainkan sebuah adaptasi editorial yang tetap menjaga akurasi fakta, integritas sumber, dan pesan utama laporan aslinya.
Pintu-pintu Musala Besar Imam Khomeini baru saja terbuka ketika gelombang manusia mulai mengalir tanpa henti. Langit Teheran masih diselimuti cahaya pucat fajar. Lantunan ayat suci Al-Qur’an, salawat, dan doa perlahan memenuhi udara pagi, mengiringi ribuan pelayat yang melangkah menuju ruang utama musala. Tidak ada aba-aba yang memulai prosesi itu. Tidak ada sorak-sorai ataupun percakapan yang memecah keheningan. Yang terdengar hanyalah derap langkah, bisikan doa, dan sesekali isak tangis yang larut di tengah lautan pakaian hitam.
Dari berbagai penjuru ibu kota, manusia berdatangan dengan cara yang hampir serupa. Sebagian menggenggam mushaf Al-Qur’an, sebagian memutar tasbih di sela jemarinya, sementara yang lain membawa potret Ayatullah Agung Sayyid Ali Khamenei yang mereka dekap sepanjang perjalanan. Jalan-jalan menuju musala perlahan berubah menjadi arus pejalan kaki. Kendaraan bergerak tersendat, dan tidak sedikit orang memilih meninggalkan mobil mereka jauh dari lokasi agar dapat melanjutkan perjalanan bersama ribuan pelayat lainnya.
Di bawah permukaan kota, pemandangan yang sama berlangsung di setiap rangkaian Metro Teheran. Gerbong-gerbong yang biasanya dipenuhi percakapan pagi berubah menjadi ruang yang nyaris sunyi. Wajah-wajah lebih banyak tertunduk. Sebagian membaca doa dalam hati, sebagian memandangi tasbih yang terus berputar di tangan mereka, sementara yang lain menatap keluar jendela tanpa sepatah kata. Setiap kereta yang berhenti di stasiun terdekat kembali menurunkan ratusan penumpang yang segera melebur ke dalam arus manusia menuju musala.
Baca juga: Jutaan Penziarah Padati Teheran, Iran Gelar Penghormatan Terakhir bagi Pemimpin Syahid Revolusi
Ketika matahari mulai meninggi, halaman Musala Imam Khomeini telah berubah menjadi lautan manusia. Barisan pelayat memanjang hingga ke ruas-ruas jalan di sekitarnya, bergerak perlahan tanpa pernah benar-benar terputus. Relawan membagikan air minum, petugas kesehatan bersiaga di berbagai sudut, sementara aparat keamanan mengatur jalannya prosesi dengan tenang. Di dalam ruang utama, gema tilawah Al-Qur’an terus mengalun mengiringi ribuan orang yang datang memberikan salam perpisahan terakhir kepada sosok yang selama lebih dari tiga dasawarsa memimpin Republik Islam Iran.
Hari itu adalah Sabtu, 4 Juli 2026 (13 Tir 1405 Hijriah Syamsiah). Sejak fajar, rakyat Iran memenuhi Musala Besar Imam Khomeini untuk mengantarkan Ayatullah Agung Sayyid Ali Khamenei, yang menurut narasi resmi Republik Islam Iran gugur sebagai syahid dalam serangan militer Amerika Serikat dan rezim Zionis pada 28 Februari 2026 (9 Esfand 1404 Hijriah Syamsiah). Namun sebelum angka-angka kehadiran diumumkan dan pidato-pidato disampaikan, Teheran lebih dahulu menulis sejarahnya sendiri melalui jutaan langkah yang bergerak menuju satu tempat, satu tujuan, dan satu perpisahan.
Musala Imam Khomeini telah berkali-kali menjadi saksi peristiwa penting sejak berdirinya Republik Islam. Pagi itu, bangunan tersebut memikul makna yang berbeda. Ia menjadi tempat bertemunya kehilangan pribadi, kesadaran bersama sebuah bangsa, dan keyakinan yang, menurut banyak pelayat, tidak ikut berakhir bersama wafatnya seorang pemimpin. Sejak saat itulah, iring-iringan menjelma bukan lagi seremoni kenegaraan, melainkan cermin tentang bagaimana sebuah masyarakat mengenang sosok yang mewarnai perjalanan sejarahnya selama puluhan tahun.
Arus yang Tak Pernah Terputus
Arus manusia terus bertambah seiring berjalannya pagi. Rombongan-rombongan kecil yang sejak dini hari berdatangan dari berbagai arah perlahan menjelma menjadi aliran panjang yang nyaris tanpa putus. Dari jalan-jalan utama Teheran hingga lorong-lorong yang bermuara ke Musala, setiap langkah mengarah ke tujuan yang sama. Ibu kota Republik Islam seolah bergerak dalam satu irama.
Tidak ada komando yang mengatur barisan itu. Tidak pula ada tanda yang mengharuskan mereka berjalan beriringan. Namun ribuan orang bergerak dengan ketertiban yang lahir dari kesadaran bersama. Mereka memberi jalan kepada para lansia, menggandeng anak-anak, dan menunggu dengan sabar ketika arus melambat. Di tengah lautan manusia, keheningan justru menjadi penanda yang paling terasa.
Barisan itu memperlihatkan wajah Iran dalam keberagamannya. Para ulama dengan sorban hitam dan putih berjalan berdampingan dengan veteran perang, mahasiswa, pegawai negeri, buruh, pedagang, keluarga para syuhada, hingga anak-anak yang menggenggam tangan orang tua mereka. Perbedaan usia, profesi, dan latar belakang seakan larut dalam satu identitas yang sama: masyarakat yang datang mengantar pemimpinnya.
Sesekali salawat bergema, lalu kembali tenggelam dalam lantunan ayat suci Al-Qur’an yang mengalun dari pengeras suara di kawasan musala. Sebagian pelayat mengangkat tangan ketika melintasi gerbang utama. Sebagian lainnya tetap menundukkan kepala, seolah menyimpan setiap langkah dalam doa yang tak terucapkan. Air mata tampak mengalir di sejumlah wajah, tetapi duka pagi itu lebih banyak hadir dalam bentuk diam daripada ratapan.
Menurut laporan IRNA, sejak pintu-pintu Musala dibuka pada dini hari, arus masyarakat tidak pernah benar-benar terputus. Gelombang pelayat terus berdatangan dari berbagai provinsi, sebagian menempuh perjalanan semalaman agar dapat tiba sebelum prosesi dimulai. Kehadiran mereka menjadikan kawasan musala bukan hanya lokasi penyelenggaraan upacara kenegaraan, melainkan titik temu masyarakat dari seluruh penjuru Iran untuk menyampaikan salam terakhir kepada Ayatullah Agung Sayyid Ali Khamenei.

Suasana haru di Musala Imam Khomeini, perjalanan Metro Teheran, hingga kehadiran delegasi internasional mewarnai penghormatan terakhir kepada Ayatullah Ali Khamenei. (IRNA)
Di sekitar kompleks musala, para relawan bekerja tanpa henti. Mereka membagikan air minum, menunjukkan jalur masuk dan keluar, serta membantu pelayat yang memerlukan pertolongan. Petugas kesehatan bersiaga di sejumlah titik, sementara aparat keamanan mengatur arus massa dengan tenang. Di tengah kerumunan yang terus bertambah, tidak tampak kepanikan ataupun desakan. Yang terlihat justru kerja sama yang berlangsung nyaris tanpa komando, seolah setiap orang memahami perannya masing-masing.
Semakin mendekati ruang utama, langkah para pelayat semakin perlahan. Banyak yang berhenti sejenak untuk membaca beberapa ayat Al-Qur’an atau memanjatkan doa sebelum kembali mengikuti barisan. Di dalam musala, gema tilawah terus memenuhi ruangan, menyatukan ribuan orang dalam suasana yang khusyuk. Bagi sebagian pelayat, inilah kesempatan terakhir untuk menyampaikan salam perpisahan secara langsung. Bagi yang lain, kehadiran mereka merupakan bentuk penghormatan kepada pemimpin yang selama lebih dari tiga dasawarsa menjadi bagian dari perjalanan Republik Islam Iran.
Lambat laun, kawasan itu tidak lagi menjadi tujuan perjalanan. Ia menjelma menjadi pusat yang menarik seluruh denyut ibu kota ke arahnya. Jalan-jalan raya, terminal antarkota, dan jalur Metro Teheran mengalir ke satu titik yang sama. Di sanalah, duka pribadi bertemu dengan ingatan kolektif sebuah bangsa. Dan dari sanalah, denyut perjalanan itu berlanjut melalui nadi yang menghubungkan seluruh penjuru kota: Metro Teheran.
Metro Menuju Sebuah Perpisahan
Jika jalan-jalan di permukaan memperlihatkan besarnya arus pelayat, maka di bawah tanah Teheran, denyut kota dapat dirasakan dari setiap rangkaian metro yang terus berdatangan. Pagi itu, Metro Teheran tidak lagi kawasan yang menghubungkan satu kawasan dengan kawasan lain. Ia menjadi nadi yang mengalirkan ribuan orang menuju Musala.
Di Jalur 4, dari arah Stasiun Kolahdooz, suasana yang direkam IRNA berbeda dari rutinitas hari-hari biasa. Begitu pintu kereta terbuka, para penumpang masuk tanpa tergesa-gesa. Kursi-kursi segera terisi, sementara lorong gerbong dipenuhi mereka yang memilih berdiri. Namun, tidak ada riuh percakapan yang lazim mengiringi perjalanan pagi. Yang tampak justru kepala-kepala tertunduk, jemari yang perlahan memutar tasbih, dan bibir yang bergerak lirih melafalkan doa.
Hampir seluruh penumpang mengenakan pakaian hitam. Mereka saling berhadapan, tetapi lebih banyak berbicara melalui keheningan. Sesekali seorang pemuda mempersilakan lansia duduk. Di sudut lain, seorang ibu merangkul anaknya yang masih kecil. Tidak banyak kata yang terucap. Dalam gerbong itu, rasa kehilangan menjadi bahasa yang dipahami tanpa perlu diucapkan.
Setiap kali kereta berhenti, gelombang manusia kembali mengalir. Ratusan penumpang turun, lalu segera melebur dengan barisan pelayat di permukaan. Kereta berikutnya datang membawa wajah-wajah baru yang menempuh perjalanan dengan tujuan yang sama. Rutinitas harian menuju kantor, kampus, atau pasar pagi itu berubah menjadi perjalanan menuju sebuah perpisahan.
IRNA menggambarkan perjalanan tersebut sebagai sebuah ham-safari (perjalanan bersama) yang mempertemukan orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal. Mereka berasal dari berbagai kota, profesi, dan generasi, tetapi dipersatukan oleh satu tujuan. Dari balik jendela kereta, Teheran tetap menjalani denyut kehidupannya. Lalu lintas mulai ramai, toko-toko bersiap membuka pintu, dan matahari perlahan meninggi. Namun di dalam gerbong, waktu seolah bergerak lebih lambat, memberi ruang bagi setiap orang untuk larut dalam doa dan kenangan.
Pemandangan serupa tidak hanya berlangsung di satu jalur. Stasiun-stasiun yang terhubung dengan kawasan Musala terus dipenuhi penumpang dari berbagai penjuru kota. Sebagian baru tiba setelah menempuh perjalanan semalaman dari provinsi lain. Sebagian lagi adalah warga Teheran yang memilih menggunakan metro untuk menghindari kepadatan lalu lintas. Semua berakhir pada satu peron, lalu melanjutkan langkah menuju musala.
Ketika mereka keluar dari stasiun, batas antara penumpang metro, pejalan kaki, dan mereka yang datang dengan kendaraan pribadi seakan lenyap. Seluruh arus itu menyatu di jalan-jalan menuju kompleks Musala, mengikuti lantunan Al-Qur’an dan salawat yang terdengar semakin jelas setiap kali jarak dengan musala semakin dekat.
Apa yang terjadi di Metro Teheran pagi itu bukan hanya kisah tentang sistem transportasi yang mengangkut ribuan penumpang. Ia menjadi cermin dari suasana yang menyelimuti seluruh ibu kota. Dari bawah tanah hingga halaman musala, Teheran bergerak dalam satu irama, mengantar seorang pemimpin menuju perjalanan terakhirnya.
Di Jantung Musala
Begitu melewati gerbang utama, langkah para pelayat seolah melambat dengan sendirinya. Hiruk-pikuk kota yang masih terdengar samar di luar kawasan musala perlahan menghilang, digantikan gema tilawah Al-Qur’an yang memenuhi ruang utama. Satu per satu pelayat memasuki area penghormatan dengan kepala tertunduk. Ada yang mengangkat tangan seraya memanjatkan doa, ada pula yang memilih berdiri beberapa saat dalam diam sebelum kembali mengikuti arus yang bergerak perlahan.
Di dalam Musala, waktu seakan memiliki ritmenya sendiri. Tidak tampak kegelisahan untuk segera tiba di barisan depan ataupun keinginan mendahului orang lain. Ribuan orang bergerak dengan tenang, seolah memahami bahwa perpisahan ini tidak ditentukan oleh seberapa dekat mereka berdiri, melainkan oleh ketulusan niat yang mereka bawa.
Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an terus bergema, sesekali disusul salawat yang diikuti oleh para pelayat hingga memenuhi seluruh ruangan. Di antara barisan itu tampak ulama, keluarga para syuhada, veteran perang, mahasiswa, pekerja, pedagang, aparatur negara, hingga anak-anak yang tetap menggenggam tangan orang tua mereka. Perbedaan usia, profesi, dan latar belakang larut dalam suasana berkabung yang sama. Pada pagi itu, kawasan Musala menjadi ruang tempat identitas sosial melebur menjadi satu identitas yang lebih besar: sebuah bangsa yang datang mengantar pemimpinnya.
Di berbagai sudut, relawan bergerak tanpa banyak menarik perhatian. Sebagian membagikan air minum, sebagian membantu mengatur arus pelayat, sementara petugas kesehatan dan aparat keamanan menjalankan tugas mereka dengan tenang. Di tengah kerumunan yang terus bertambah, tidak tampak kepanikan ataupun desakan. Yang hadir justru ketertiban yang tumbuh dari kesadaran bersama akan kekhidmatan peristiwa tersebut.
Menurut IRNA, sejak pagi arus masyarakat yang memasuki musala tidak pernah benar-benar berhenti. Gelombang pelayat terus berdatangan dari berbagai provinsi, menjadikan ruang utama bukan hanya lokasi penyelenggaraan upacara resmi, tetapi ruang tempat sebuah bangsa mengekspresikan duka, penghormatan, dan ikatan sejarahnya terhadap seorang pemimpin.
Di antara barisan itu, sebagian pelayat menggenggam mushaf Al-Qur’an, sebagian memutar tasbih tanpa henti, sementara yang lain memejamkan mata ketika gema tilawah memenuhi ruangan. Isak tangis sesekali terdengar, tetapi segera larut kembali dalam bacaan Al-Qur’an. Duka hadir tanpa ledakan emosi, justru melalui ketenangan yang menyelimuti seluruh ruangan.
Bagi banyak orang yang hadir, prosesi itu bukan hanya kesempatan mengucapkan salam perpisahan. Ia juga menjadi cara mengenang perjalanan panjang seorang pemimpin yang, selama lebih dari tiga dasawarsa, mewarnai kehidupan politik dan keagamaan Republik Islam Iran. Dari suasana itulah berbagai pernyataan para pejabat memperoleh maknanya. Kata-kata yang kemudian disampaikan bukan berdiri sendiri sebagai pidato, melainkan lahir dari pemandangan yang terbentang di hadapan mereka.
Suara dari Tengah Duka
Di tengah lautan pelayat itu, perhatian sesaat tertuju kepada rombongan guru, tenaga kependidikan, dan pelajar yang datang dari berbagai provinsi. Mereka berdiri di antara ribuan warga lainnya, tanpa pembatas dan tanpa keistimewaan, menyatu dalam arus penghormatan yang memenuhi Musala. Dari tengah suasana itulah Menteri Pendidikan Iran, Alireza Kazemi, berbicara.
Tidak ada pidato panjang. Yang ia sampaikan lebih menyerupai ungkapan seorang warga yang turut merasakan kehilangan. Di hadapan para guru dan pelajar, Kazemi mengakui bahwa menerima kenyataan wafatnya Ayatullah Agung Sayyid Ali Khamenei bukanlah perkara mudah. Namun, menurutnya, gelombang masyarakat yang datang dari seluruh penjuru Iran sejak fajar memperlihatkan bahwa duka tersebut telah menjadi milik bersama.
“Sulit menerima kenyataan bahwa kami telah kehilangan pemimpin sebesar beliau. Namun kehadiran masyarakat dari seluruh penjuru negeri menunjukkan bahwa luka ini adalah luka seluruh bangsa.”
Kalimat itu seolah menyatu dengan pemandangan yang terbentang di hadapannya. Di sekelilingnya, lantunan Al-Qur’an tetap bergema. Barisan pelayat terus bergerak perlahan menuju ruang utama musala, sementara dari kejauhan gelombang manusia baru masih memasuki kawasan. Kata-kata Kazemi tidak berdiri sendiri sebagai pernyataan resmi; ia memperoleh maknanya dari ribuan wajah yang datang membawa doa dan penghormatan.
Bagi Kazemi, besarnya kehadiran masyarakat melampaui makna sebuah upacara berkabung. Ia melihatnya sebagai cerminan persatuan nasional sekaligus penegasan bahwa nilai-nilai yang selama ini dikaitkan dengan kepemimpinan Ayatullah Khamenei tetap hidup di tengah masyarakat. Karena itu, menurutnya, partisipasi jutaan rakyat juga merupakan jawaban terhadap berbagai tekanan yang selama ini dihadapi Republik Islam Iran.
Pemandangan di dalam musala seakan menguatkan pandangan tersebut. Para ulama berdiri berdampingan dengan keluarga para syuhada, veteran perang, mahasiswa, pekerja, pedagang, aparatur negara, hingga anak-anak yang menggenggam tangan orang tua mereka. Tidak ada pidato yang dapat menggambarkan persatuan itu lebih kuat daripada kenyataan yang tampak di hadapan mereka.
Apa yang disampaikan Kazemi kemudian menjadi salah satu benang yang menjelaskan mengapa prosesi tersebut dipandang memiliki arti yang melampaui seremoni kenegaraan. Hari itu, dalam pandangan para pejabat Republik Islam, bukan hanya menandai berakhirnya kepemimpinan seorang tokoh, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menegaskan kesinambungan cita-cita yang diyakini telah dibangun sejak Revolusi Islam.
Pandangan itu memperoleh penegasan dari lembaga lain. Jika Kazemi berbicara tentang persatuan yang tampak di tengah masyarakat, maka Yaqub Rezazadeh mengajak publik melihat warisan yang, menurutnya, ditinggalkan oleh pemimpin yang sedang mereka antar.
Warisan yang Terus Hidup
Di tengah prosesi penghormatan yang terus berlangsung, anggota Presidium Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Majelis Syura Islam, Yaqub Rezazadeh, memaknai kepergian Ayatullah Khamenei bukan hanya sebagai kehilangan seorang pemimpin negara, tetapi sebagai saat untuk menimbang kembali nilai-nilai yang, menurutnya, telah membentuk perjalanan Republik Islam selama lebih dari empat dekade.
Dalam wawancaranya dengan IRNA, Rezazadeh menilai bahwa peninggalan terpenting Ayatullah Khamenei tidak pertama-tama terletak pada kebijakan-kebijakan yang pernah diambil selama masa kepemimpinannya. Yang lebih penting, menurutnya, adalah terbentuknya budaya politik yang bertumpu pada semangat mempertahankan kemerdekaan bangsa, keberanian menghadapi tekanan dari luar, menjaga kedaulatan negara, serta menumbuhkan keyakinan terhadap kemampuan rakyat sendiri.
Ia memandang nilai-nilai tersebut sebagai salah satu fondasi yang memungkinkan Iran menghadapi berbagai tantangan, termasuk konflik yang dalam narasi resmi Republik Islam disebut sebagai Perang Ramadan. Karena itu, warisan tersebut, menurutnya, tidak berhenti bersama wafatnya seorang pemimpin, melainkan menjadi amanah yang harus diteruskan oleh generasi berikutnya.
Rezazadeh juga menggarisbawahi bahwa selama lebih dari tiga dasawarsa memimpin Republik Islam, Ayatullah Khamenei senantiasa menempatkan Imam Khomeini sebagai rujukan utama dalam arah kepemimpinannya. Kesinambungan itulah yang, menurutnya, tercermin dalam berbagai kebijakan, pidato, dan sikap yang beliau tunjukkan sepanjang masa kepemimpinannya.
Apa yang disampaikan Rezazadeh menemukan pantulannya di dalam musala. Di antara para pelayat tampak potret Imam Khomeini berdampingan dengan Ayatullah Khamenei.
Bersambung.







