Lifestyle
Ustadz Miqdad Turkan dan Empat Pilar Kebahagiaan Manusia Modern
Tulisan ini merupakan pembacaan dan pengembangan gagasan dari kajian rutin Selasa malam (malam Rabu) yang disampaikan Ustadz Miqdad Turkan di Pondok Pesantren Darut Taqrib Jepara pada 6 Mei 2026.
Jepara, 13 Mei 2026 — Di tengah dunia yang semakin bising, manusia modern justru semakin sulit menemukan ketenangan. Media sosial dipenuhi pencapaian, gaya hidup, dan citra kebahagiaan. Pada saat yang sama, banyak orang mengalami kecemasan, kelelahan mental, dan rasa hampa yang sulit dijelaskan.
Orang bekerja lebih keras dari sebelumnya, tetapi tidak selalu merasa lebih damai. Banyak orang membuka ponsel sesaat setelah bangun tidur, lalu menghabiskan hari di tengah notifikasi, percakapan digital, dan arus informasi tanpa jeda. Teknologi membuat manusia semakin terhubung, namun tidak sedikit yang merasa kesepian. Di tengah keramaian itu, perlahan manusia kehilangan ruang sunyi untuk mendengarkan dirinya sendiri.
Baca juga: Peringatan 7 Hari Ustadz Safwan, Ustadz Miqdad: Kematian adalah Pengingat bagi Semua
Dalam pandangan Islam, kebahagiaan (sa‘adah) bukan hanya soal kenyamanan materi atau kesenangan sesaat. Kebahagiaan tumbuh dari keselarasan antara fitrah manusia, kualitas jiwa, dan cara seseorang menjalani hidupnya. Ketenangan tidak lahir hanya dari pengakuan sosial, harta, atau pencapaian. Ada bagian dalam diri manusia yang tetap merasa kosong ketika hidup kehilangan makna.
Banyak orang mengira kebahagiaan akan datang setelah memiliki lebih banyak uang, jabatan, atau pujian. Namun setelah semua itu diraih, kegelisahan sering kali tetap tinggal. Kehidupan modern membuat manusia mudah terjebak dalam perlombaan tanpa akhir. Semua ingin terlihat berhasil. Semua ingin diakui. Semua takut tertinggal dari orang lain.
Dalam tradisi intelektual Islam, kegelisahan seperti ini dipahami sebagai persoalan kualitas jiwa manusia. Kebahagiaan bukan hanya suasana hati yang datang dan pergi, tetapi hasil dari kematangan batin dan keseimbangan hidup.
Karena itulah tradisi Islam menempatkan Al-Hikmah (Kebijaksanaan) sebagai fondasi pertama kehidupan yang sehat secara batin. Di tengah arus informasi yang bergerak terlalu cepat, manusia mudah bereaksi sebelum memahami, berbicara sebelum berpikir, dan mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat. Al-Hikmah bukan hanya pengetahuan, melainkan kemampuan menjaga kejernihan berpikir ketika dunia di sekitar terasa semakin riuh.
Fondasi berikutnya adalah Asy-Syaja‘ah (Keberanian). Bukan hanya keberanian fisik, tetapi keberanian moral untuk mengambil sikap yang benar. Kehidupan modern sering membuat manusia takut berbeda. Banyak orang memilih mengikuti arus demi menjaga citra sosial dan penerimaan lingkungan. Dalam situasi seperti itu, keberanian berarti tetap mampu mempertahankan nilai dan kebenaran tanpa terus-menerus tunduk pada tekanan keramaian.
Baca juga: Pidato Ustadz Miqdad Turkan: Imam Ja’far Shadiq Kunci Persatuan Umat Islam
Adapun Al-‘Ifah (Menjaga Kehormatan Diri) merupakan kemampuan menjaga martabat dan mengendalikan diri dari hal-hal yang merendahkan nilai kemanusiaan. Di era ketika hampir semua hal dipertontonkan dan validasi sosial menjadi candu baru, banyak orang hidup terlalu bergantung pada penilaian publik hingga kehilangan ketenangan batinnya. Padahal tidak semua hal harus diumumkan, dipamerkan, atau dinilai orang lain. Al-‘Ifah juga berarti menjaga ruang sunyi dalam diri manusia. Ruang yang tidak sepenuhnya tunduk pada sorotan dunia luar.
Fondasi lainnya adalah Al-‘Adalah (Keadilan), yaitu kemampuan menempatkan segala sesuatu secara proporsional, baik dalam hubungan sosial maupun spiritual. Keadilan tidak hanya berarti tidak menzalimi orang lain, tetapi juga tidak merusak diri sendiri. Banyak manusia modern hidup dalam ketimpangan. Ada yang terlalu sibuk mengejar dunia hingga kehilangan jiwanya. Ada pula yang tenggelam dalam spiritualitas, tetapi jauh dari realitas sosial dan tanggung jawab hidup. Al-‘Adalah mengajarkan keseimbangan di tengah kehidupan yang terus bergerak tanpa jeda.
Manusia pada akhirnya tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan jasadnya. Tubuh membutuhkan makan, istirahat, dan kesejahteraan hidup. Jiwa juga membutuhkan makna, iman, ilmu, dan ketenangan spiritual. Ketika salah satunya diabaikan, hidup perlahan kehilangan arah.
Fenomena kelelahan mental yang semakin luas hari ini sering lahir dari hilangnya keseimbangan tersebut. Ada orang yang tampak berhasil secara ekonomi, tetapi hidup dalam kecemasan dan ketakutan kehilangan apa yang dimilikinya. Ada pula yang terlihat aktif dan ramai di media sosial, tetapi diam-diam merasa kosong dan tidak tahu lagi untuk apa semua itu dijalani.
Islam tidak mengajarkan manusia untuk menjauh dari realitas dunia. Bekerja, membangun kehidupan yang layak, dan memenuhi kebutuhan keluarga merupakan bagian dari tanggung jawab spiritual manusia. Kebahagiaan bukan tentang memilih antara dunia atau akhirat. Kebahagiaan tumbuh ketika nilai-nilai akhirat tetap hidup dalam cara manusia menjalani kehidupannya di dunia.
Baca juga: Ustadz Miqdad Turkan Dorong Penguatan Peran ABI dalam Program Strategis Nasional
Dalam konteks ini, harta tidak dipandang buruk. Persoalan muncul ketika manusia menjadikan harta sebagai pusat makna hidupnya. Kekayaan baru memiliki nilai ketika menghadirkan manfaat yang lebih luas, membantu sesama, membangun kebaikan sosial, dan meninggalkan jejak kemanfaatan bagi orang lain.
Pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan kehidupan yang terlihat berhasil, tetapi juga kehidupan yang terasa bermakna. Kebahagiaan sejati bukan tentang memiliki lebih banyak, melainkan tentang menjadi manusia yang utuh. Pikirannya jernih, jiwanya tenang, tidak kehilangan martabat, dan tetap tahu ke mana hidup sedang diarahkan.
Mungkin kebahagiaan sejati bukan tentang memiliki kehidupan yang paling ramai dipuji, melainkan kemampuan menjaga jiwa tetap tenang di tengah dunia yang semakin bising tanpa kehilangan arah menuju Allah SWT. [Moh. Ali]
Baca juga: Ustadz Miqdad Ajak Pemuda Mahdawiyah Berjuang dengan Ketulusan di Jalan Allah






