Lifestyle
Jihad Menyeluruh Imam Baqir a.s, dalam Pandangan Imam Ali Khamenei

Ahlulbait Indonesia | 24 Mei 2026 — Kepribadian dan jejak perjuangan Imam Muhammad al-Baqir a.s, dalam pemikiran Ayatullah Syahid Imam Ali Khamenei jauh melampaui gambaran umum yang menyederhanakan beliau hanya sebagai pengajar fikih dan hadis. Dalam pandangan beliau yang dijelaskan dalam buku “Ensan-e 250 saleh“, kehidupan Imam Baqir a.s, merupakan manifestasi menonjol dari sebuah jihad yang cerdas, mendalam, dan menyeluruh demi meletakkan fondasi tatanan tauhid yang adil. Gerakan komprehensif ini dapat dianalisis melalui tiga poros utama yang saling menopang dan berimbang.
Baca juga: Imam Baqir a,s: Pemrakarsa Kebangkitan Intelektual Syiah
1. Melawan Distorsi dan Pembentukan Mentalitas Menyimpang dalam Masyarakat
Jihad Kebudayaan
Setelah masa-masa berat dan mencekam pasca-Tragedi Karbala, masyarakat Islam menghadapi gelombang besar penyimpangan akidah dan pemikiran. Kekhalifahan Umayyah, demi melegitimasi kezaliman, diskriminasi, dan kekuasaan mereka yang tidak sah, melakukan distorsi luas terhadap ajaran dan hukum Islam. Mereka membeli loyalitas sebagian ulama dan perawi hadis atau mengancam mereka agar menyebarkan tafsir-tafsir menyimpang, seperti menggeneralisasi konsep ulil amri kepada setiap penguasa zalim atau mengklaim bahwa kekhalifahan lebih tinggi daripada kenabian.
Dalam situasi seperti itu, tugas utama Imam Baqir a.s, adalah menghadapi arus distorsi terhadap ajaran Islam. Ayatullah Ali Khamenei menegaskan bahwa aktivitas keilmuan tersebut bukan kegiatan ilmiah yang netral (tanpa arah), melainkan sebuah perjuangan budaya dengan orientasi revolusioner. Imam Baqir a.s, sebagai pengurai hakikat-hakikat Qurani dan ilmu-ilmu Islam, berupaya membersihkan mentalitas anti-Islam yang telah meresap ke dalam benak masyarakat dan membuka jalan bagi tegaknya pemerintahan Ilahi. Setiap reformis dan kelompok masyarakat yang berhadapan dengan ajaran murni tersebut akan mengalami perubahan mendasar dalam cara memandang legitimasi penguasa saat itu.
Baca juga: Hari Kesyahidan Imam Baqir As
2. Organisasi dan Kaderisasi Struktural
Jihad Pendidikan dan Organisasi
Poros kedua yang jarang disorot dalam sirah Imam Baqir a.s, adalah unsur pembentukan jaringan dan organisasi. Ayatullah Khamenei menggunakan analogi menarik. Ajaran Ilahi diibaratkan sebagai benih yang jika disebar begitu saja di tengah masyarakat akan terinjak-injak atau mengering. Namun seorang tukang kebun yang ahli dan petani ulung akan menjaga benih-benih itu agar tetap hidup dan tumbuh.
Imam Baqir a.s, merupakan sosok tukang kebun ulung tersebut. Dengan mendidik murid-murid pilihan, beliau membangun organisasi tersembunyi dan menciptakan mata rantai penghubung di seluruh dunia Islam, dari Madinah dan Kufah hingga Khurasan Raya. Organisasi ini sedemikian rapi dan sensitif sehingga sebagian sahabat dekat Imam, seperti Jabir bin Yazid al-Ju’fi, dikenal sebagai ashab al-sirr atau para penjaga rahasia.
Kisah Jabir yang berpura-pura gila demi menggagalkan perintah pembunuhan dari khalifah Umayyah yang berkuasa, Hisyam bin Abdul Malik, menunjukkan kompleksitas kerja organisasi tersebut. Semua ini membuktikan bahwa kekhalifahan memandang aktivitas Imam sebagai ancaman struktural terhadap kelangsungan rezim dan menganggap keberadaan beliau sebagai sesuatu yang tak tertahankan.
Baca juga: Imam Muhammad Baqir: Pejuang Hak dan Kebenaran
3. Konfrontasi dengan Thaghut
Jihad Politik dan Media
Bagian ketiga dari mosaik perjuangan yang seimbang ini adalah konfrontasi langsung dengan rezim politik saat itu serta kehebatan Imam dalam menjaga kesinambungan perjuangan tersebut. Pemanggilan paksa Imam Baqir a.s, ke Syam oleh Hisyam bin Abdul Malik dirancang untuk melemahkan mental dan merendahkan beliau. Namun Imam justru membalik keadaan dengan menolak mengikuti protokol lazim, misalnya tidak memberi salam menggunakan gelar khusus khalifah, serta menyampaikan pidato keras dan bersejarah di istana yang mengguncang legitimasi semu penguasa. Bahkan suasana penjara di Syam pun berubah akibat pengaruh beliau.
Situasi berkembang sedemikian rupa sehingga Imam bahkan merancang strategi untuk masa setelah wafatnya. Beliau memerintahkan agar sebagian hartanya digunakan selama sepuluh tahun untuk menyelenggarakan majelis duka bagi dirinya di musim haji dan padang Mina. Pemilihan Mina sebagai titik paling padat dalam ibadah haji, tempat jamaah bermukim selama beberapa hari dan memiliki kesempatan berdialog, merupakan strategi yang sangat terukur.
Majelis-majelis itu setiap tahun menanamkan ribuan tanda tanya di benak para peziarah dari seluruh dunia Islam dan menjadikan syahadah Imam sebagai jaringan propaganda global terbesar pada zamannya sekaligus pusat bagi peta jihad pasca-syahadah.
Baca juga: Biografi Singkat Imam Muhammad Baqir
Kesimpulan
Dalam pandangan Ayatullah Ali Khamenei, masa kepemimpinan Imam Baqir a.s, merupakan sebuah garis perjuangan yang konsisten, terang, dan komprehensif. Masa tersebut memperlihatkan sinergi antara ideologi, kaderisasi, taqiyah politik, dan upaya mengobarkan harapan.
Melalui kerja intelektual dan organisasi yang mendalam, beliau membangun fondasi yang, meskipun rezim penguasa dan para sejarawan resmi, khususnya para sejarawan bercorak Abbasiyah, berusaha menyensor detail-detail tersembunyinya atau membiarkannya tetap diselimuti kesamaran, pada akhirnya menjamin keberlangsungan gerakan Syiah untuk selamanya. []
Baca juga: Jihad Imam Muhammad Baqir







