Ikuti Kami Di Medsos

Lifestyle

Anak-anak Perempuan, Nikmat Tuhan yang Tidak Dihargai Kaum Jahiliah

Published

on

Al-Qur'an mengkritik pandangan kaum jahiliah yang merendahkan anak perempuan dan menegaskan bahwa setiap anak adalah karunia serta amanah dari Allah SWT.
Al-Qur'an mengkritik pandangan kaum jahiliah yang merendahkan anak perempuan dan menegaskan bahwa setiap anak adalah karunia serta amanah dari Allah SWT. (Dok. Farsnews Agency)

Ahlulbait Indonesia, 21 Juni 2026 — Tidak semua kesesatan lahir karena kurangnya bukti. Sebagian justru tumbuh ketika tanda-tanda kebenaran hadir begitu jelas, tetapi manusia tidak lagi bersedia mengikutinya. Surah Az-Zukhruf ayat 11–22 berbicara tentang fenomena itu. Ayat-ayat ini mengajak manusia melihat kembali nikmat yang setiap hari mereka saksikan, sekaligus menunjukkan bagaimana kesombongan dan prasangka dapat menghalangi seseorang dari kebenaran yang berada tepat di hadapannya.

Dalam Tafsir al-Mizan, Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabathaba’i menjelaskan bahwa rangkaian ayat ini memperlihatkan hubungan yang erat antara rububiyah Allah, kepastian hari kebangkitan, dan kebatilan syirik. Allah terlebih dahulu mengingatkan manusia kepada berbagai nikmat-Nya, lalu menunjukkan bagaimana sebagian manusia justru mengingkari nikmat tersebut dan menisbatkan sesuatu yang tidak layak kepada-Nya.

Baca juga: Pelajaran Perang Hunain: Saat Jumlah Tak Menjamin Kemenangan

Hujan dan Pelajaran tentang Kebangkitan

Al-Qur’an memulai pembahasannya dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan manusia, yakni hujan.

“Dan Dialah yang menurunkan air dari langit menurut ukuran, lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati.” (QS. Az-Zukhruf: 11)

Setiap tahun manusia menyaksikan pemandangan yang sama. Tanah yang sebelumnya kering dan tak bernyawa kembali menghijau. Tumbuhan tumbuh, kehidupan bersemi, dan alam yang tampak mati memperoleh kehidupan baru.

Di tengah gambaran yang begitu akrab itu, Al-Qur’an mengarahkan manusia kepada realitas yang lebih besar.

“Demikianlah kamu akan dikeluarkan (dari kubur).” (QS. Az-Zukhruf: 11)

Menurut Allamah Thabathaba’i, ayat ini merupakan salah satu argumentasi Al-Qur’an yang paling jelas tentang kebangkitan. Kekuasaan yang mampu menghidupkan kembali bumi yang mati adalah kekuasaan yang sama yang akan membangkitkan manusia setelah kematiannya.

Kebangkitan bukanlah sesuatu yang jauh dari pengalaman manusia. Jejaknya dapat disaksikan berulang kali di alam. Karena itu, Al-Qur’an tidak mengajak manusia mencari bukti di tempat yang jauh. Bukti itu hadir di hadapan mereka setiap kali bumi kembali hidup setelah turunnya hujan.

Baca juga: Surah Ghafir dan Mereka yang Mengira Tak Tersentuh

Nikmat yang Seharusnya Mengantarkan kepada Tauhid

Setelah itu, Al-Qur’an mengingatkan manusia kepada berbagai sarana kehidupan yang telah disediakan Allah.

“Dan Dialah yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal-kapal dan hewan ternak yang kamu tunggangi.” (QS. Az-Zukhruf: 12)

Kapal yang membelah lautan, hewan yang membantu perjalanan, dan berbagai kemudahan yang menopang kehidupan bukan sekadar fasilitas duniawi. Semuanya adalah bagian dari nikmat yang memungkinkan manusia menjalani kehidupannya dengan lebih baik.

Karena itu, Al-Qur’an mengajarkan sebuah doa yang sederhana namun sarat makna.

“Mahasuci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami tidak akan mampu menguasainya.” (QS. Az-Zukhruf: 13)

Doa ini mengajarkan kesadaran yang sering kali terlupakan. Manusia mungkin mampu menggunakan berbagai sarana kehidupan, tetapi tidak pernah benar-benar menjadi pemilik mutlak atas semua itu. Di balik setiap kemampuan terdapat karunia yang lebih dahulu diberikan oleh Allah.

Baca juga: Jihad Menyeluruh Imam Baqir a.s, dalam Pandangan Imam Ali Khamenei

Ayat tersebut kemudian ditutup dengan pengingat bahwa pada akhirnya manusia akan kembali kepada Tuhan. Nikmat bukan dimaksudkan untuk melahirkan kesombongan, melainkan rasa syukur dan kesadaran tentang tujuan hidup.

Nikmat yang Tidak Melahirkan Syukur

Setelah mengingatkan manusia kepada berbagai karunia-Nya, Al-Qur’an memperlihatkan sebuah paradoks yang terjadi dalam diri kaum musyrik.

Mereka menikmati nikmat Allah dan mengakui-Nya sebagai Pencipta. Namun pada saat yang sama, mereka menisbatkan anak kepada-Nya dan menyebut para malaikat sebagai putri-putri Allah.

Di sinilah Al-Qur’an mengajukan pertanyaan yang membongkar kontradiksi tersebut.

“Apakah Dia memilih anak-anak perempuan untuk diri-Nya, sedangkan Dia mengutamakan anak-anak laki-laki untuk kalian?” (QS. Az-Zukhruf: 16)

Pertanyaan ini bukan hanya bantahan terhadap keyakinan kaum musyrik. Ia sekaligus memperlihatkan kerusakan cara berpikir yang tersembunyi di balik keyakinan itu. Mereka menolak sesuatu untuk diri mereka sendiri, tetapi menganggapnya pantas untuk dinisbatkan kepada Allah. Apa yang mereka anggap rendah bagi diri mereka sendiri justru mereka nisbatkan kepada Tuhan.

Anak Perempuan dan Logika Jahiliah

Al-Qur’an kemudian menggambarkan bagaimana sebagian masyarakat Arab jahiliah menyikapi kelahiran anak perempuan.

“Apabila seseorang di antara mereka diberi kabar tentang anak perempuan, wajahnya menjadi hitam dan dia menahan amarah.” (QS. Az-Zukhruf: 17)

Ayat ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi kaum jahiliah bukan hanya persoalan sosial, melainkan juga persoalan cara berpikir. Mereka memandang anak perempuan sebagai sumber aib dan kehinaan. Namun pada saat yang sama, mereka menisbatkan malaikat sebagai putri-putri Allah. Kontradiksi itu menunjukkan bahwa masalah mereka bukan permasalahan tradisi, tetapi hilangnya kejujuran dalam menilai sesuatu.

Yang dibongkar Al-Qur’an bukan hanya kebiasaan merendahkan anak perempuan. Yang dikritik adalah standar ganda yang membuat seseorang memiliki dua ukuran berbeda dalam menilai satu perkara. Apa yang dianggap buruk bagi dirinya sendiri justru dianggap layak untuk dinisbatkan kepada Tuhan.

Baca juga: Hak Syukur dan Hutang Budi

Syirik tampil bukan hanya sebagai kesalahan teologis, tetapi juga sebagai kegagalan moral dan intelektual. Islam kemudian datang untuk meruntuhkan warisan jahiliah tersebut. Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh ketakwaan dan kualitas amalnya di hadapan Allah.

Bukti Tidak Lagi Cukup

Bentuk lain dari penyimpangan kaum musyrik terlihat ketika mereka mencoba membebaskan diri dari tanggung jawab atas pilihan yang mereka buat.

Mereka berkata: “Jika Allah Yang Maha Pengasih menghendaki, tentu kami tidak akan menyembah mereka (malaikat).” (QS. Az-Zukhruf: 20)

Dengan alasan itu, mereka berusaha menjadikan takdir sebagai pembenaran atas kesalahan mereka sendiri.

Allamah Thabathaba’i menjelaskan bahwa klaim semacam ini tidak memiliki dasar ilmu. Allah memberikan kemampuan memilih kepada manusia dan menunjukkan jalan kebenaran serta jalan kesesatan. Namun pilihan yang salah tidak dapat dibenarkan dengan menyandarkannya kepada kehendak Allah.

Pada akhirnya, ayat-ayat ini mengungkap akar persoalan yang sebenarnya. Masalah kaum musyrik bukanlah kurangnya bukti.

Mereka melihat hujan yang menghidupkan bumi. Mereka menikmati berbagai nikmat kehidupan. Mereka menyaksikan keteraturan alam semesta. Mereka bahkan mengakui keberadaan Sang Pencipta. Mereka tidak kekurangan tanda. Yang hilang adalah kesediaan untuk tunduk pada makna dari tanda-tanda itu.

Barangkali karena itulah Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia kembali melihat hal-hal yang paling dekat dengannya. Hujan yang turun, bumi yang hidup, kendaraan yang ditumpangi, dan anak yang lahir dalam sebuah keluarga. Semua itu adalah ayat-ayat Tuhan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Persoalannya bukan apakah tanda-tanda itu ada. Persoalannya adalah apakah manusia masih bersedia membacanya. Sebab sejarah menunjukkan bahwa yang paling sulit bukan menemukan kebenaran, melainkan mengalahkan kesombongan yang membuat seseorang enggan menerimanya. []

Baca juga: Ziarah Jami’ah Kabirah dan Cara Tradisi Syiah Menjaga Otoritas Spiritual