Lifestyle
Mengantar Sang Pemimpin Syahid: Di Musala Imam Khomeini, Sebuah Bangsa Mengucapkan Salam Perpisahan (2)

Ahlulbait Indonesia, 4 Juli 2026 — Tulisan ini disusun berdasarkan laporan, informasi, dan dokumentasi yang dibagikan rekan-rekan wartawan Islamic Republic News Agency (IRNA) kepada Media Ahlulbait Indonesia (ABI), serta pemberitaan yang dipublikasikan melalui situs resmi IRNA. Seluruh fakta, kutipan, kronologi, dan substansi utama dalam artikel ini tetap mengacu pada laporan IRNA. Adapun penyajiannya telah diolah dan disusun ulang dalam bentuk feature naratif guna menghadirkan alur yang lebih utuh, kontekstual, dan nyaman diikuti pembaca. Karena itu, naskah ini bukan terjemahan harfiah dari artikel IRNA, melainkan sebuah adaptasi editorial yang tetap menjaga akurasi fakta, integritas sumber, dan pesan utama laporan aslinya.
Menggema Melampaui Iran
Sementara penghormatan terus berlangsung di dalam Musala, gema peristiwa itu telah lebih dahulu melampaui batas-batas Teheran. Sehari sebelumnya, ibu kota Republik Islam Iran menjadi tempat berlangsungnya penghormatan resmi yang mempertemukan para kepala negara, pejabat tinggi pemerintahan, ulama, serta tokoh-tokoh agama dan mazhab dari berbagai belahan dunia. Mereka datang membawa belasungkawa dan memberikan penghormatan terakhir kepada Ayatullah Agung Sayyid Ali Khamenei.
Di tengah ketegangan geopolitik yang masih membayangi kawasan, pertemuan para pemimpin politik, ulama, dan utusan berbagai negara menghadirkan dimensi lain dari hari berkabung tersebut. Bagi IRNA, kehadiran mereka menunjukkan bahwa wafatnya Ayatullah Khamenei dipandang bukan hanya sebagai peristiwa penting bagi Republik Islam Iran, tetapi juga sebagai peristiwa yang menarik perhatian dunia Islam dan masyarakat internasional.
Di antara delegasi internasional yang hadir tampak pula rombongan Ahlulbait Indonesia (ABI) yang dipimpin Ketua Umum ABI, Ustadz Zahir Yahya, didampingi Ketua Dewan Syura ABI, Ustadz Husain Syahab, Sekretaris Jenderal ABI, Sayyid Ali Ridho Assegaf, serta Sekretaris Dewan Syura ABI, Ustadz Abdullah Beik, bersama anggota delegasi lainnya. Kehadiran mereka menjadi bagian dari barisan tamu mancanegara yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Ayatullah Agung Sayyid Ali Khamenei.
Media resmi Iran memaknai kehadiran para tamu mancanegara sebagai penanda luasnya pengaruh Ayatullah Khamenei selama masa kepemimpinannya. Prosesi penghormatan tidak hanya mempertemukan rakyat Iran dengan pemimpinnya, tetapi juga menghadirkan tokoh-tokoh dunia yang datang memberikan penghormatan atas peran yang, menurut pandangan Republik Islam, telah beliau jalankan dalam dinamika politik, keagamaan, dan regional selama lebih dari tiga dasawarsa.
Berbagai bahasa terdengar di lorong-lorong tempat para tamu berkumpul. Ragam pakaian kebesaran keagamaan dan busana resmi negara hadir dalam satu ruang yang sama. Perbedaan asal-usul dan kebangsaan tidak menghilangkan tujuan kedatangan mereka: menyampaikan perpisahan kepada seorang tokoh yang jejak kepemimpinannya melintasi batas-batas nasional.
Berkumpulnya para pemimpin politik, ulama, serta tokoh agama dipandang sebagai pengingat bahwa masih terdapat ruang bagi penghormatan, dialog, dan hubungan antarmasyarakat yang melampaui batas negara.
Prosesi itu, karena itu, tidak hanya dicatat sebagai besarnya jumlah pelayat atau panjangnya iring-iringan masyarakat di Teheran. Ia juga menjadi gambaran tentang bagaimana seorang pemimpin dikenang dalam lingkup yang lebih luas, ketika penghormatan datang bukan hanya dari rakyatnya sendiri, tetapi juga dari berbagai negara, organisasi, dan komunitas yang hadir untuk memberikan salam perpisahan.
Perjalanan Terakhir
Meski perhatian dunia tertuju kepada Teheran, penghormatan di Musala itu hanyalah awal dari perjalanan terakhir yang telah dipersiapkan oleh Republik Islam Iran. Setelah dua hari memberikan kesempatan kepada masyarakat menyampaikan salam perpisahan, prosesi kemudian bergerak melintasi kota-kota yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah, keilmuan, dan spiritualitas Islam Syiah.
Berdasarkan pengumuman Panitia Peringatan Syahadah Imam Mujahid Ayatullah al-Uzhma Sayyid Ali Khamenei, penghormatan di Musala Imam Khomeini berlangsung pada Sabtu dan Minggu, 4–5 Juli 2026 (13–14 Tir 1405 Hijriah Syamsiah). Selama dua hari itu, ribuan pelayat dari berbagai provinsi terus memenuhi Teheran, menjadikan ibu kota sebagai titik temu terakhir antara rakyat dan pemimpinnya.
Pada Senin, 6 Juli 2026 (15 Tir 1405 Hs), prosesi berlanjut dengan pemakaman kenegaraan di Teheran. Dari ibu kota, iring-iringan kemudian bergerak menuju Qom, kota yang selama berabad-abad menjadi pusat pendidikan Islam Syiah dan salah satu fondasi intelektual Revolusi Islam. Di kota itulah masyarakat kembali dijadwalkan memberikan penghormatan pada Selasa, 7 Juli (16 Tir).
Rangkaian berikutnya membawa prosesi melintasi batas negara menuju Najaf dan Karbala pada Rabu, 8 Juli (17 Tir). Bagi masyarakat Syiah, kedua kota suci tersebut bukan semata-mata lokasi bersejarah, melainkan ruang spiritual yang selama berabad-abad menjadi pusat tradisi keilmuan dan ziarah. Penyelenggaraan penghormatan di sana memperlihatkan bahwa gaung wafatnya Ayatullah Khamenei menjangkau jejaring keagamaan yang melampaui batas-batas Iran.
Rangkaian itu mencapai titik akhirnya di Mashhad. Pada Kamis, 9 Juli 2026 (18 Tir 1405 Hs), jenazah dijadwalkan dimakamkan di kompleks suci Imam Ali bin Musa ar-Ridha a.s. Bagi jutaan peziarah yang setiap tahun mendatangi kota tersebut, tempat itu bukan hanya lokasi pemakaman, tetapi salah satu pusat spiritual terpenting dalam dunia Islam Syiah. Karena itu, pemakaman di Mashhad dipandang sebagai penutup yang sarat makna bagi jejak seorang ulama sekaligus pemimpin yang sepanjang hidupnya dikaitkan dengan pengabdian kepada agama, revolusi, dan negara.
Dalam pembacaannya, IRNA tidak memandang rangkaian tersebut hanya sebagai perpindahan jenazah dari satu kota ke kota lain. Setiap pemberhentian membawa simbol yang berbeda, menghubungkan pusat pemerintahan, pusat keilmuan, pusat spiritual, dan ruang sejarah dalam satu lintasan yang utuh. Dengan demikian, perjalanan terakhir Ayatullah Khamenei diposisikan sebagai rangkaian penghormatan yang mempertemukan dimensi kenegaraan, keagamaan, dan sejarah Republik Islam Iran.
Makna Sebuah Perpisahan
Di balik jutaan langkah yang memenuhi Musala, rangkaian perjalanan menuju Qom, Najaf, Karbala, dan Mashhad, serta kehadiran para tamu dari berbagai negara, IRNA berulang kali menggarisbawahi satu gagasan yang menjadi benang merah seluruh liputannya: bahwa hari-hari penghormatan tersebut dipandang sebagai peristiwa yang melampaui sebuah pemakaman kenegaraan.
Selain merekam besarnya arus pelayat, IRNA juga menyoroti keberagaman masyarakat yang memenuhi kawasan musala. Kehadiran ulama, keluarga para syuhada, mahasiswa, pekerja, pedagang, hingga anak-anak dipandang sebagai gambaran kesinambungan pengalaman sejarah yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Makna tersebut juga tercermin dalam berbagai pernyataan sepanjang prosesi. Alireza Kazemi menyoroti persatuan masyarakat, sementara Yaqub Rezazadeh menekankan pentingnya menjaga semangat kemandirian dan keteguhan sebagai warisan kepemimpinan Ayatullah Khamenei. Kehadiran para tamu internasional melengkapi dimensi tersebut.
Dalam salah satu ulasannya, IRNA menyebut rangkaian penghormatan ini sebagai “pesan persatuan”. Di tengah kawasan yang masih diliputi konflik dan ketegangan, berkumpulnya masyarakat serta para tamu dari berbagai negara dipandang sebagai ruang perjumpaan yang melampaui batas politik maupun geografis.
Senja di Musala Imam Khomeini
Menjelang senja, cahaya keemasan perlahan menyelimuti halaman Musala. Namun satu hal tidak berubah. Arus manusia yang sejak fajar mengalir menuju kawasan itu belum juga surut. Dari jalan-jalan utama Teheran, dari peron-peron Metro, dari terminal antarkota, hingga dari lorong-lorong yang bermuara ke musala, para pelayat masih terus berdatangan dengan langkah yang sama tenangnya seperti ketika hari baru dimulai.
Di dalam musala, lantunan ayat suci Al-Qur’an tetap bergema, diselingi salawat dan doa yang tidak pernah benar-benar berhenti. Relawan masih berdiri di tempatnya, membagikan air minum dan membantu mengarahkan arus masyarakat. Petugas kesehatan tetap bersiaga. Barisan pelayat terus bergerak perlahan, sementara wajah-wajah baru menggantikan mereka yang telah lebih dahulu keluar. Tidak ada yang tergesa-gesa. Seolah setiap orang memahami bahwa perpisahan seperti ini tidak dapat diukur oleh lamanya berdiri atau dekatnya jarak, melainkan oleh penghormatan yang dibawa dalam hati.
Ketika cahaya matahari mulai condong ke barat, kehidupan Teheran perlahan kembali menemukan ritmenya. Kendaraan kembali memenuhi jalan-jalan utama. Kereta Metro datang dan pergi mengikuti jadwalnya. Toko-toko membuka pintu, dan hiruk-pikuk kota mulai terdengar kembali. Namun di jantung ibu kota, di bawah kubah Musala, waktu seakan masih bertahan pada pagi yang sama.
Orang-orang terus datang. Sebagian membawa mushaf Al-Qur’an yang mereka dekap sejak berangkat dari rumah. Sebagian memutar tasbih tanpa henti. Sebagian lagi menggenggam potret Ayatullah Agung Sayyid Ali Khamenei di dada mereka. Mereka tidak saling mengenal. Tidak pula datang dari tempat yang sama. Namun pada hari itu, mereka dipertemukan oleh satu perjalanan yang sama.

Prosesi penghormatan itu pada akhirnya memang akan selesai. Rangkaian perjalanan akan bergerak menuju Qom, Najaf, Karbala, lalu berakhir di Mashhad. Para tamu internasional akan kembali ke negara masing-masing. Delegasi-delegasi yang datang dari berbagai penjuru dunia, termasuk rombongan Ahlulbait Indonesia (ABI), akan meninggalkan Teheran dengan kenangan yang mereka bawa pulang. Jalan-jalan ibu kota akan kembali dipenuhi kesibukan sehari-hari. Metro akan kembali menjadi ruang bagi rutinitas masyarakat. Namun sore itu, semua itu masih terasa jauh.
Yang masih terdengar hanyalah gema tilawah yang mengalun dari ruang utama, langkah-langkah pelan yang terus bergerak menuju tempat penghormatan, dan doa-doa yang dipanjatkan dalam keheningan.
Pagi hari, pintu-pintu kompleks Musala dibuka untuk menyambut ribuan orang yang datang mengantar pemimpinnya. Ketika malam turun di atas Teheran, pintu-pintu itu masih tetap terbuka. Arus manusia terus mengalir. []
Baca juga: Jutaan Penziarah Padati Teheran, Iran Gelar Penghormatan Terakhir bagi Pemimpin Syahid Revolusi







