Ikuti Kami Di Medsos

Hikmah

Mengapa Ghadir Tidak Pernah Selesai

Published

on

Makam Suci Imam Ali di Najaf. (shiastudies.com)
Makam Suci Imam Ali di Najaf. (Foto: shiastudies.com)

Oleh: Muhlisin Turkan
(Ketua Departemen Humas, Media dan Penerangan (HMP) DPP ABI)

Khalifah dan Pertanyaan tentang Manusia

Ahlulbait Indonesia | 1 Juni 2026 — Sejak awal penciptaan manusia, Allah SWT tidak membiarkan manusia berjalan tanpa hujjah. Karena itu, kepemimpinan Ilahi tidak pernah sepenuhnya tunduk kepada kehendak politik manusia. Kehadirannya merupakan bagian dari kehendak Allah SWT sendiri. Ketika Allah berfirman kepada para malaikat dalam Surah Al-Baqarah ayat 30, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi,” para malaikat bertanya, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?

Baca juga: Jihad Menyeluruh Imam Baqir a.s, dalam Pandangan Imam Ali Khamenei

Pertanyaan itu tidak berhenti pada kisah Nabi Adam a.s,. Pertanyaan tersebut terus mengikuti sejarah manusia hingga hari ini. Bagaimana manusia menjaga arah hidupnya di tengah kecenderungan menuju kerusakan, kekuasaan, dan pertumpahan darah?

Karena itu, khalifah Ilahi tidak hadir sebagai hasil kesepakatan manusia. Kekhalifahan merupakan bagian dari kehendak Allah SWT dalam menjaga arah kehidupan manusia. Risalah dan Imamah berada dalam satu garis hidayah. Risalah membawa wahyu, sementara Imamah menjaga manusia tetap terhubung dengan kebenaran wahyu di dalam sejarah. Dari sini bahwa Ghadir Khum bukan peristiwa sejarah biasa. Ghadir berbicara tentang kesinambungan misi Ilahi setelah berakhirnya kenabian.

Ghadir dan Kesinambungan Hidayah

Sepulang dari Haji Wada’ pada 18 Dzulhijjah tahun 10 Hijriah, Rasulullah SAW menghentikan ribuan kaum Muslimin di sebuah tempat bernama Ghadir Khum. Di tengah padang yang panas, beliau menyampaikan pernyataan yang kemudian menjadi salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah Islam.

“Man kuntu mawlahu fa hadza ‘Aliyyun mawlahu.” “Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya.

Sebagian orang melihat peristiwa tersebut sebagai penegasan keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib a.s,. Sebagian lain melihatnya sebagai bagian dari polemik politik awal Islam. Namun bagi Syiah, Ghadir melampaui dua pembacaan itu. Ghadir menjadi deklarasi tentang kesinambungan hidayah setelah berakhirnya kenabian.

Ghadir tidak pernah selesai sebagai peristiwa sejarah. Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya soal siapa yang memimpin umat. Persoalannya lebih dalam lagi. Siapa yang menjaga arah agama ketika wahyu tidak lagi turun?

Baca juga: Ustadz Zahir Yahya: Perang Iran Hari Ini, dari Sabda Imam Ali ke Strategi Imam Ridha

Peristiwa Ghadir sering dikaitkan dengan turunnya Surah Al-Ma’idah ayat 67. “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika engkau tidak melakukannya, maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa wilayah bukan perkara pinggiran dalam agama. Jika penyampaiannya disejajarkan dengan keseluruhan risalah, maka wilayah menyentuh struktur paling dasar hidayah dalam Islam.

Wilayah dan Garis Kekhalifahan Ilahi

Wilayah bukan urusan perebutan kekuasaan setelah wafat Nabi. Wilayah menyangkut kesinambungan kekhalifahan Ilahi di muka bumi. Karena itu, Ghadir tidak berdiri terpisah dari kisah penciptaan Adam a.s,. Keduanya berada dalam satu garis yang sama. Penetapan manusia pilihan sebagai khalifah dan hujjah Allah di tengah kehidupan manusia.

Ketika Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 30, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi,” Al-Qur’an memperlihatkan bahwa kekhalifahan lahir dari penetapan Allah SWT, bukan dari kesepakatan manusia. Prinsip yang sama berlanjut dalam peristiwa Ghadir Khum. Pengangkatan Imam Ali a.s,. sebagai kelanjutan dari rangkaian hidayah Ilahi setelah berakhirnya kenabian.

Imamah melampaui urusan kepemimpinan sosial umat. Imamah berbicara tentang manusia yang memikul amanah Ilahi untuk menjaga agama dan membimbing manusia menuju kebenaran. Sebagaimana Adam a.s,. diajarkan al-asma’ oleh Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 31, maka Imam Ali a.s,. dipahami sebagai pewaris ilmu kenabian dan penjaga makna Al-Qur’an.

Khalifah bukan semata-mata sebagai penguasa yang mengatur kehidupan manusia. Khalifah adalah manusia pilihan yang memikul amanah Ilahi dalam menjaga arah kehidupan. Karena itu Imamah hadir sebagai kelanjutan dari fungsi kekhalifahan setelah berakhirnya kenabian.

Al-Qur’an bahkan memperlihatkan bahwa seorang nabi sekalipun memerlukan penetapan langsung dari Allah SWT untuk memikul kedudukan tersebut. Ketika Nabi Ibrahim a.s,. diuji dan berhasil menunaikan tugasnya, Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 124, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.”

Disini, Imamah tidak lahir dari pilihan manusia semata. Imamah berkaitan dengan penjagaan arah hidayah di dalam sejarah manusia. Karena itu, setelah Rasulullah SAW, Imam dengan ke-Imamahannya tidak membawa wahyu baru. Tugasnya menjaga manusia tetap terhubung dengan kebenaran wahyu yang telah diturunkan.

Wilayah bukan loyalitas politik kepada individu tertentu. Wilayah merupakan keterhubungan manusia dengan garis hidayah Ilahi yang menjaga agama tetap hidup dalam sejarah.

Baca juga: Ustadz Zahir Yahya: Panji Perjuangan Imam Ali Khamenei Tak Boleh Jatuh

Di situlah agama tetap hidup di tengah manusia.

Imam Ali a.s,. bukan figur politik dalam pengertian biasa. Beliau hadir sebagai kelanjutan otoritas spiritual Islam. Sosok yang menjaga agama tetap berada di orbit tauhid dan keadilan.

Ketika Agama Kehilangan Arah Moral

Tanpa Imamah, agama berisiko kehilangan pusat orientasi ruhaniahnya. Ritual tetap berjalan. Hukum tetap diperdebatkan. Simbol-simbol keagamaan tetap dipertahankan. Namun arah batin agama perlahan memudar. Agama terus dibicarakan, tetapi tidak lagi melahirkan manusia yang berani berdiri tegak di hadapan kebatilan.

Karena alasan itulah sejarah Islam terus kembali kepada Ghadir. Ghadir berbicara tentang kebutuhan manusia terhadap otoritas moral yang menjaga agama dari reduksi kepentingan duniawi.

Di banyak zaman, agama tetap hadir sebagai identitas sosial. Rumah ibadah penuh. Ayat-ayat suci terus dibaca. Ceramah tersebar di mana-mana. Namun sejarah juga memperlihatkan sesuatu yang lain. Bahwa agama dapat kehilangan daya pembebasnya ketika dipisahkan dari keberanian moral dan orientasi keadilan.

Agama berubah menjadi simbol kesalehan, sementara kezaliman tetap berjalan di bawah bayang-bayangnya. Krisis semacam itu membuat Ghadir terus hidup melampaui zamannya.

Ghadir yang Tidak Pernah Selesai

Inti wilayah bukan kultus individu. Inti wilayah adalah penjagaan terhadap ukuran moral agama. Imam Ali a.s,. dikenang bukan karena kemegahan kekuasaan yang diwariskan, tetapi karena keteguhannya menjaga keadilan bahkan ketika keadilan menuntut pengorbanan pribadi. Dalam diri beliau, kekuasaan tunduk sepenuhnya kepada kebenaran.

Krisis terbesar umat hari ini mungkin bukan kekurangan ceramah, simbol religius, atau perayaan keagamaan. Yang semakin langka justru pusat orientasi moral yang membuat manusia tetap jujur ketika kebohongan lebih menguntungkan, tetap adil ketika ketidakadilan terasa lebih aman, dan tetap berpihak kepada yang lemah ketika mayoritas memilih diam.

Baca juga: Musuh Kalah Jika Mukminin Punya Dua Unsur Ini

Peradaban modern dapat menghasilkan masyarakat yang sangat religius secara simbolik, tetapi rapuh secara moral. Agama hadir di ruang publik, namun kehilangan kemampuan membentuk manusia yang sanggup mempertahankan martabat dan keadilan di tengah tekanan kekuasaan, kepentingan, dan popularitas. Karena itu Ghadir berubah menjadi pertanyaan permanen bagi setiap zaman. Siapa yang menjaga agama agar tetap hidup sebagai jalan hidayah dan bukan berubah menjadi identitas sosial semata?

Sebab agama tidak akan runtuh ketika manusia meninggalkannya. Kadang agama kehilangan makna justru ketika agama tetap ramai dibicarakan, tetapi tidak lagi memiliki pusat moral yang menjaga arah kemanusiaannya.

Karena itu Ghadir tidak pernah selesai.

Ghadir terus hidup sebagai pengingat bahwa manusia tidak dibiarkan berjalan sendirian dalam sejarah. Sejak Adam a.s,. hingga Ghadir Khum dan hari ini, garis hidayah itu terus dijaga melalui para pembawa risalah dan para penjaga makna wahyu. Di situlah wilayah memperoleh maknanya yang paling mendalam. Keterhubungan manusia dengan cahaya Ilahi yang tidak pernah terputus dari kehidupan manusia. []

Baca juga: Imam Ali a.s. dalam Ucapan Imam Ali Khamenei