Ikuti Kami Di Medsos

Pendidikan

Hak Syukur dan Hutang Budi

Published

on

Sebagian manusia memahami bahwa sebagian pertolongan tidak hanya meringankan beban hidup, tetapi juga menjaga harapan agar tidak padam.
Bersyukur dimaknai bahwa sekecil apa pun pertolongan, tidak hanya meringankan beban hidup, tetapi juga menjaga harapan agar tetap menyala. (Dok. ABI)

Oleh: Ustadz Muhammad Elyas
Ketua DPD ABI Bekasi, dan Pengajar Hauzah Ilmiah Shiddiqah Zahra Condet, Jakarta Timur

Ahlulbait Indonesia, 29 Mei 2026 — Dalam zikir takbir Idul Adha terdapat penggalan doa: Alhamdulillah, wa lahusy syukru ‘alâ mâ aulânâ. “Bersyukur kepada Allah atas segala karunia yang Dia berikan kepada kami”. Di dalamnya terkandung satu pengakuan penting bahwa manusia hidup di bawah limpahan pemberian. Nafas yang terus berjalan, akal yang berpikir, tubuh yang bekerja, hingga orang-orang yang menolong dalam kehidupan. Semuanya merupakan bentuk karunia yang sering diterima sebelum sempat disadari.

Baca juga: Akhirnya Syahid Imam Khamenei pun “Berkurban”

Namun anehnya, manusia lebih mudah mengingat apa yang belum dimiliki daripada apa yang selama ini telah diterima. Kita cepat merasa kekurangan, tetapi lambat mengakui jasa. Padahal dalam pandangan agama, syukur bukan hanya hubungan vertikal antara hamba dan Tuhan, melainkan juga kesadaran moral terhadap sesama yang pernah menghadirkan kebaikan dalam hidup kita.

Karena itu, selain mengajarkan syukur kepada Allah, para Imam Ahlul Bait a.s, juga mengajarkan pentingnya berterima kasih kepada manusia. Orang yang memuliakan dan memberi manfaat kepada orang lain berhak mendapatkan penghargaan atas kebaikannya. Imam Ali Zainul Abidin a.s, mengajarkan:

Amma haqqu dzil ma’ruf ‘alaika fa an tasykurahu”; adapun hak seorang yang berbuat kebaikan kepadamu ialah kamu bersyukur atau berterima kasih kepadanya. (Al-Khishal/Syaikh Shaduq, hadis 1, hlm. 568).

Dalam istilah ilmu akidah dikenal konsep ‘irfânul jamîl, yaitu kesadaran untuk mengenali dan menghargai pemberi kebaikan. Ayatullah Syaikh Makarim Syirazi, dalam pembahasan tentang Ma’rifatullah, menjelaskan bahwa salah satu jalan mengenal Tuhan adalah melalui kesadaran terhadap nikmat yang diterima. Beliau memberi perumpamaan seseorang yang mendapati dirinya berada di hadapan jamuan besar dengan berbagai hidangan yang tersedia cuma-cuma. Secara naluriah, orang itu akan bertanya, siapakah pemilik jamuan ini?

Demikian pula manusia di hadapan kehidupan. Kita lahir ke dunia yang telah dipenuhi berbagai sarana untuk hidup dan berkembang. Udara untuk bernapas, akal untuk memahami, hati untuk mencintai, serta hukum-hukum kehidupan yang teratur. Dari sana, kesadaran tentang Tuhan tumbuh secara fitri, bahwa di balik keteraturan dan karunia yang demikian besar terdapat Sang Pemberi yang Mahakaya, Mahakuasa, dan Maha Pemurah.

Baca juga: Syahid Imam Khamenei: “Islam Agama Tablig”

Bimbingan Hujjah Allah

Karunia Ilahiah terbesar yang menyertai manusia sepanjang zaman setidaknya hadir dalam dua bentuk.

Pertama, karunia internal berupa akal. Dengannya manusia mampu bertanya tentang asal dan tujuan hidupnya. Akal membuat seseorang tidak hanya menjalani hidup, tetapi juga mencari makna kehidupan. Dari sana muncul pertanyaan besar, dari mana semua karunia ini berasal dan bagaimana cara membalasnya?

Kedua, karunia eksternal berupa para Hujjah Allah a.s, sepanjang zaman. Merekalah yang membimbing manusia agar tidak tersesat dalam memahami kehidupan dan Tuhannya. Mereka mengingatkan tentang asal (mabda’) dan tujuan akhir (ma‘ad), sekaligus mengajarkan bagaimana nikmat Ilahi diterjemahkan menjadi jalan hidup yang benar.

Di antara bimbingan terpenting itu adalah ajaran tentang syukur. Syukur kepada Allah tidak berhenti pada ucapan, tetapi hadir dalam bentuk ketaatan. Demikian pula syukur kepada manusia tidak berhenti pada basa-basi, melainkan diwujudkan melalui penghormatan terhadap jasa dan kebaikan mereka.

Pada titik inilah agama sedang mendidik manusia agar tidak menjadi makhluk yang lupa asal-usul kebaikan.

Sebab dalam kehidupan sosial, tidak ada manusia yang benar-benar membangun dirinya sendirian. Setiap orang tumbuh di atas bantuan dan pengorbanan orang lain. Ada hutang ilmu kepada orang berilmu, hutang didikan kepada guru, hutang kasih sayang kepada orang tua, hutang perhatian seorang suami kepada istrinya, juga pengabdian seorang istri kepada suaminya, serta berbagai bentuk jasa lain yang sering kali tidak mungkin dibalas sepenuhnya.

Baca juga: Ujian Kesetiaan kepada Imam Mahdi di Tengah Badai Zaman

Syarat Berterima Kasih

Kadang-kadang nilai sebuah pertolongan baru terasa ketika seseorang berada dalam titik paling rapuh dalam hidupnya.

Dalam sebuah komunitas, ada seorang ibu yang aktif mengikuti majelis doa dan kajian rutin di Husainiyah. Ia sangat ingin berziarah ke Karbala. Untuk itu ia menabung sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun. Dalam tahajudnya, selalu memohon agar suatu hari dapat menziarahi pusara Abu Abdillah a.s,.

Namun kehidupan tidak selalu memberi ruang bagi keinginan hati. Ketika tabungannya mulai terkumpul, datang kebutuhan anak yang mendesak. Setelah itu disusul kebutuhan lain yang juga harus segera dipenuhi. Hingga akhirnya habislah seluruh tabungan yang dikumpulkan selama beberapa tahun.

Saat musim Arbain tiba dan orang-orang di sekelilingnya berangkat ziarah, ia hanya mampu memandang dengan perasaan campur aduk antara rindu, sedih, dan iri yang manusiawi. Sesekali ia melihat kembali tabungannya yang kosong sambil bertanya lirih, “Kapan saya bisa ziarah?”

Sebagian orang mencoba menghiburnya dengan kalimat, “Kalau dipanggil Imam, pasti akan berangkat juga.”

Mungkin kalimat itu benar. Namun bagi orang yang sangat berharap, nasihat semacam itu kadang terasa pahit. Seperti orang yang membanggakan anaknya di hadapan wanita yang telah lama menikah tetapi belum juga dikaruniai keturunan.

Hingga suatu hari, Allah mengabulkan doanya melalui jalan yang tidak disangka-sangka. Seorang sahabat datang bukan dengan nasihat, melainkan dengan membiayainya untuk berziarah ke Karbala.

Saat mendengarnya, ia menangis. Bukan hanya karena akhirnya bisa berangkat, tetapi karena merasa disentuh oleh kemurahan hati yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Dalam momen seperti itulah manusia memahami bahwa sebagian pertolongan tidak hanya meringankan beban hidup, tetapi juga menjaga harapan agar tidak padam.

Karena itu Islam mengajarkan agar kebaikan orang lain tidak dibiarkan berlalu begitu saja. Nabi SAW bersabda:

Man lam yasykurin nâs lam yasykurillâh; “Siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak berterima kasih kepada Allah.”

Baca juga: Jangan Menukar Syukur dengan Kufur

Lalu bagaimana cara berterima kasih?

Dalam lanjutan riwayat tersebut, Imam Sajjad a.s, menjelaskan bahwa seseorang harus selalu mengingat kebaikan orang yang telah menolongnya, menyebutkan hal-hal baik tentang dirinya, dan tulus mendoakannya kepada Allah SWT. Dengan demikian, rasa terima kasih tidak berhenti sebagai ucapan formal, tetapi berubah menjadi ingatan moral yang hidup di dalam hati.

Barangkali itulah sebabnya manusia yang luhur bukanlah manusia yang merasa paling mandiri, melainkan manusia yang tidak lupa siapa saja yang pernah menjadi jalan kebaikan dalam hidupnya.

Sebab pada akhirnya, hidup sesungguhnya dibangun oleh begitu banyak tangan yang mungkin tidak selalu terlihat. Ada orang tua yang diam-diam mengorbankan hidupnya. Ada guru yang sabar membimbing. Ada sahabat yang datang pada masa sulit. Ada orang-orang yang mungkin telah dilupakan namanya, tetapi jasanya tetap tinggal di dalam perjalanan hidup seseorang.

Dan di atas semuanya, ada Allah SWT yang menghadirkan seluruh kebaikan itu melalui jalan-jalan yang sering kali tidak diduga. Karena itu, syukur yang sejati bukan hanya mengingat nikmat, melainkan juga mengingat dari siapa kebaikan itu pernah datang. []

Baca juga: Pesan Tahun Baru dan Idul Fitri Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei