Pendidikan
Asyura: Ujian Besar Kita di Zaman Ini

Ahlulbait Indonesia, 25 Juni 2026 — Setiap Muharam, umat Islam kembali mengenang Karbala. Nama Imam Husain a.s. disebut dengan penuh cinta, majelis-majelis duka dipenuhi air mata, dan peristiwa yang terjadi lebih dari empat belas abad lalu kembali hidup dalam ingatan. Yang menarik bukan kenyataan bahwa umat masih menangisinya, melainkan kenyataan bahwa Karbala tidak pernah kehilangan daya hidupnya. Banyak peristiwa besar akhirnya tinggal sebagai catatan sejarah. Karbala menempuh jalan yang berbeda. Semakin jauh jaraknya dari masa kini, semakin luas pengaruhnya dalam kesadaran umat.
Barangkali karena yang terjadi di Karbala jauh lebih besar daripada sebuah peperangan. Di sana tersingkap salah satu persoalan paling mendasar dalam kehidupan manusia: hubungan antara kebenaran dan kesetiaan. Persoalannya bukan siapa yang mengetahui kebenaran dan siapa yang tidak. Banyak orang mengenal Imam Husain a.s. Mereka mengetahui kedudukannya sebagai cucu Rasulullah SAW., memahami keutamaannya, bahkan menyatakan dukungan kepadanya. Persoalan muncul ketika pengakuan harus dibuktikan dengan keberpihakan, dan keberpihakan menuntut pengorbanan.
Baca juga: Dokumen Penyerahan Trump dan Awal Babak Baru Kawasan
Ketika pengorbanan menjadi kenyataan, jumlah orang yang bertahan ternyata jauh lebih sedikit daripada jumlah orang yang berbicara. Ada yang memilih keselamatan dirinya, ada yang khawatir kehilangan kedudukan, ada yang menunggu situasi yang lebih aman, dan ada yang meyakinkan diri bahwa diam merupakan pilihan yang paling bijak. Karbala memperlihatkan kenyataan yang tidak selalu nyaman untuk diakui: mengetahui kebenaran tidak otomatis membuat seseorang siap membelanya.
Karbala terus hidup bukan karena umat Islam mewarisi ingatan tentang sebuah tragedi, melainkan karena persoalan yang tersingkap di sana tidak pernah benar-benar pergi dari kehidupan manusia. Setiap zaman memiliki ketakutannya sendiri, kepentingannya sendiri, dan pembenarannya sendiri. Bentuknya berubah, tetapi ujian yang dihadapi manusia tetap serupa. Tidak banyak orang yang memilih kebatilan secara sadar. Kebanyakan sampai ke sana melalui pembenaran-pembenaran kecil yang terus diulang sampai kehilangan kemampuan membedakan antara yang benar dan yang menguntungkan.
Karena itu, Asyura sulit dipahami apabila hanya ditempatkan sebagai peristiwa duka. Dalam rangkaian besar sejarah Islam, Bi’tsah membawa risalah, Ghadir menetapkan kepemimpinan, Asyura menjaga agama dari penyimpangan, dan Zhuhur menjadi puncak penyempurnaan perjalanan tersebut. Setiap mata rantai memiliki tempatnya masing-masing. Memisahkan Asyura dari masa depan yang dijanjikan berarti memotong salah satu makna terpenting yang dikandungnya.
Penantian memperoleh maknanya yang paling menuntut. Menanti Imam Mahdi a.f. bukan terutama soal waktu, melainkan soal kesiapan. Bukan tentang kapan beliau datang, melainkan manusia seperti apa yang sedang dipersiapkan untuk menyambut kedatangannya. Sebab sejarah menunjukkan bahwa pengakuan tidak selalu melahirkan kesetiaan, sebagaimana pengetahuan tidak selalu berujung pada keberanian.
Baca juga: Pesan Pemimpin Revolusi: Revolusi yang Tahu Apa yang Tidak Boleh Dikompromikan
Penduduk Kufah mengetahui siapa Imam Husain a.s. Mereka mengenalnya jauh lebih baik daripada generasi-generasi yang datang sesudahnya. Mereka mendengar namanya, mengetahui kedudukannya, bahkan mengundangnya datang. Namun pengetahuan itu berhenti ketika pengorbanan dimulai. Yang terbukti langka bukan pengenalan terhadap kebenaran, melainkan kesediaan memikul akibat dari pengenalan tersebut. Barangkali di situlah letak salah satu ironi terbesar dalam sejarah manusia: tidak sedikit orang gagal bukan karena tersesat, melainkan karena tidak sanggup berjalan di jalan yang sebenarnya telah mereka kenali.
Karena alasan itulah Muharam tidak pernah berhenti pada ruang emosi. Air mata memiliki arti sejauh mampu mengubah sesuatu dalam diri manusia. Bukan banyaknya yang menjadi ukuran, melainkan arah yang dituju setelahnya. Apakah kecintaan kepada Imam Husain a.s. melahirkan keberanian untuk membela kebenaran, kejujuran dalam bersikap, kepedulian terhadap penderitaan sesama, dan kesediaan menanggung tanggung jawab yang dibebankan zaman. Ataukah semuanya berhenti sebagai rasa haru yang perlahan menghilang bersama berakhirnya peringatan.
Mungkin karena itulah Karbala tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Setiap Muharam, peristiwa itu kembali mengetuk kesadaran umat dengan pertanyaan yang sama. Setelah majelis berakhir, setelah bendera diturunkan, dan setelah air mata mengering, apa yang tersisa dalam diri kita? Sebab persoalan terbesar yang disingkap Karbala bukan kurangnya orang yang mengenal Imam Husain a.s., melainkan sedikitnya orang yang bersedia menanggung harga dari kesetiaan kepada beliau. Pertanyaan itu belum selesai pada tahun 61 Hijriah. Ia terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, menunggu jawaban yang tidak diberikan melalui kata-kata, melainkan melalui pilihan yang diambil manusia ketika kebenaran menuntut keberpihakan. []







