Tafsir
Surah Ghafir dan Mereka yang Mengira Tak Tersentuh

Ahlulbait Indonesia, 29 Mei 2026 — Ada orang-orang yang hidup terlalu lama di puncak kekuasaan hingga mulai percaya bahwa tidak ada lagi yang mampu menjatuhkan mereka. Mereka dikelilingi pujian, dijaga oleh kekuatan, dan terbiasa melihat ketakutan di mata orang lain. Semuanya tampak kokoh. Padahal sejarah berkali-kali memperlihatkan bahwa kejatuhan paling besar justru sering bermula dari keyakinan bahwa diri mereka tak tersentuh.
Baca juga: Dimensi Spiritualitas dan Kebudayaan dalam Tradisi Menghafal Al-Quran Menurut Ayatullah Ali Khamenei
Al-Qur’an mengingatkan pola itu melalui kisah Fir‘aun, Haman, dan Qarun. Nama-nama yang bukan hanya milik masa lalu, melainkan wajah yang terus berulang dalam sejarah manusia. Ada kekuasaan yang mabuk oleh dirinya sendiri, ada kekayaan yang merasa mampu membeli segalanya, dan ada pula orang-orang yang sibuk menjaga kebatilan tetap tampak meyakinkan.
Dalam ayat 17 sampai 25 Surah Ghafir, Al-Qur’an mengingatkan kembali bahwa kekuasaan yang kehilangan moral pada akhirnya akan runtuh oleh dirinya sendiri. Allamah Thabathabai dalam Tafsir Al-Mizan menjelaskan bahwa kehancuran para pelampau batas merupakan sunnatullah yang terus berulang sepanjang sejarah. Sebagian penguasa mungkin tampak kuat untuk sementara waktu. Mereka membangun rasa takut, menguasai ruang publik, bahkan merasa berhasil membungkam kebenaran. Namun kekuasaan yang kehilangan moral biasanya mulai retak dari dalam dirinya sendiri.
Hari Ketika Semua Dibuka
Rangkaian ayat ini dimulai dengan gambaran tentang Hari Kiamat, hari ketika manusia berdiri tanpa perlindungan apa pun selain amalnya sendiri. Tidak ada jabatan, pengaruh, atau jaringan kekuasaan yang dapat dipakai untuk menghindar. Pada hari itu manusia sadar bahwa banyak hal yang dulu diperebutkan ternyata terlalu kecil untuk dipertahankan dengan kezaliman.
Baca juga: Al-Quran: Pegangan Utama Persatuan
Di dunia, orang sering merasa aman karena kekuasaan, kekayaan, atau dukungan massa. Sebagian bahkan bertindak seolah-olah tidak akan pernah dimintai pertanggungjawaban. Al-Qur’an mematahkan ilusi itu sejak awal. Semua kekuasaan duniawi bersifat sementara. Cepat atau lambat, manusia akan berdiri di hadapan pengadilan yang tidak dapat dibeli dan tidak bisa dipermainkan. Banyak tirani terlihat menakutkan hanya karena berlangsung terlalu lama.
Ketika Kekuasaan Mulai Mabuk
Ada titik ketika kekuasaan tidak lagi dipakai untuk menjaga keadilan, melainkan untuk mempertahankan dirinya sendiri. Pada tahap itu, kritik dianggap ancaman, kebenaran dianggap gangguan, dan orang-orang yang berbeda pandangan mulai diperlakukan sebagai musuh. Sejarah sering bergerak dengan cara seperti itu. Banyak penguasa zalim jatuh bukan ketika mereka lemah, tetapi justru ketika merasa tidak mungkin dikalahkan. Mereka terlalu percaya pada propaganda yang mereka ciptakan sendiri.
Karena itu Al-Qur’an tidak mendidik orang beriman menjadi pengecut di hadapan kebatilan. Sebab kekuatan yang bertumpu pada ketakutan manusia pada akhirnya akan rapuh juga. Al-Qur’an menyandingkan tiga nama ini bukan tanpa alasan. Fir‘aun adalah lambang kekuasaan politik yang melampaui batas. Haman melambangkan mesin birokrasi dan propaganda yang menjaga kekuasaan tetap berdiri. Qarun menjadi simbol kekayaan yang kehilangan nurani lalu berubah menjadi pelayan kezaliman.
Tiga unsur ini hampir selalu muncul dalam setiap zaman. Ketika Nabi Musa a.s, datang membawa kebenaran, mereka tidak mencoba menjawab dengan argumen yang jernih. Musa justru dituduh penyihir dan pendusta.
Baca juga: Penjelasan Ayat-Ayat Sosial dan Politik Paling Menonjol dalam Tafsir Ayatullah Khamenei
Begitulah kebatilan sering bekerja. Saat tidak mampu mengalahkan gagasan, mereka menyerang orang yang membawa gagasan itu. Ketika tidak mampu membantah kebenaran, mereka mulai membangun ketakutan, penghinaan, dan keraguan. Namun semua itu pada akhirnya tidak cukup untuk memadamkan cahaya kebenaran.
Runtuh dari Dalam
Surah Ghafir juga memperlihatkan bahwa banyak manusia sebenarnya mengetahui mana yang benar. Masalahnya bukan selalu kurang pengetahuan, melainkan kesombongan.
Fir‘aun tidak hancur karena tidak mengetahui kebenaran. Fir‘aun hancur karena merasa dirinya terlalu besar untuk tunduk kepada kebenaran. Pada titik itu, kekuasaan berubah menjadi penjara bagi pemiliknya sendiri.
Ketika manusia terlalu mencintai kekuasaan, perlahan kemampuan mendengar nasihat mulai hilang. Ketika terlalu mencintai diri sendiri, kritik mulai dipandang sebagai ancaman. Jika keadaan itu berlangsung terus-menerus, hati menjadi keras. Banyak kezaliman akhirnya runtuh bukan pertama-tama karena diserang dari luar, melainkan karena busuk di bagian dalamnya sendiri.
Baca juga: Tafsir Surah al-Anbiya 73: Imamah dan Kepemimpinan
Al-Qur’an tidak pernah meminta orang beriman mengukur kebenaran dari besarnya kekuasaan. Sebab sesuatu yang besar belum tentu bertahan lama. Fir‘aun pernah merasa dirinya penguasa tertinggi. Tetapi hari ini namanya justru dikenang sebagai simbol kesombongan dan kehancuran. Sementara Musa as, yang dahulu dikejar dan ditekan, tetap hidup dalam ingatan manusia sebagai pembawa kebenaran.
Kebatilan kadang tampak menang untuk sementara, tetapi tidak pernah benar-benar tenang. Ada ketakutan yang diam-diam menggerogoti dari dalam. Sebaliknya, kebenaran mungkin tampak lemah di permukaan, tetapi memiliki sesuatu yang tidak dimiliki kebatilan, yaitu daya untuk bertahan.
Dan hari ini, pelajaran itu terasa semakin dekat. Di tengah dunia yang dipenuhi perebutan pengaruh, propaganda, dan kegaduhan kekuasaan, manusia kembali menyaksikan bagaimana sebagian orang mulai merasa berada di atas kritik, di atas hukum, bahkan di atas kepentingan rakyat yang seharusnya mereka jaga.
Tanah air ini juga berkali-kali memperlihatkan hal serupa. Ada kekuasaan yang tampak kokoh selama bertahun-tahun, tetapi runtuh lebih cepat daripada yang dibayangkan. Sebab pada akhirnya, yang membuat sebuah kekuasaan bertahan bukan rasa takut, melainkan keadilan.
Padahal sejarah selalu bergerak dengan cara yang sunyi. Sedikit demi sedikit, mencatat kesombongan, menyimpan ketidakadilan, lalu pada waktunya menjatuhkan semuanya. Dan ketika itu terjadi, yang tersisa bukan lagi besarnya kekuasaan, melainkan bagaimana manusia pernah menggunakannya. []
Baca juga: Tafsir Rekonsiliatif tentang Kepemimpinan Setelah Nabi

Ayat 17 sampai 25 Surah Ghafir







