Ikuti Kami Di Medsos

Kegiatan ABI

Dari Purwakarta, ABI Jabar Ajak Kader Memaknai Kembali Penantian

Published

on

Peserta kajian Mahdawiyah ABI Jawa Barat dari Purwakarta, Subang, Karawang, dan Bekasi mengikuti pembekalan di Yayasan Al Mujtaba, Purwakarta, Minggu (4/10/2026).
Peserta kajian Mahdawiyah ABI Jawa Barat dari Purwakarta, Subang, Karawang, dan Bekasi mengikuti pembekalan di Yayasan Al Mujtaba, Purwakarta, Minggu (4/10/2026).

Purwakarta, 7 Oktober 2026 — Menanti Imam Mahdi tidak cukup dipahami sebagai keyakinan tentang datangnya seorang pemimpin pada akhir zaman. Dalam kajian Mahdawiyah yang digelar Dewan Pimpinan Wilayah Ahlulbait Indonesia (DPW ABI) Jawa Barat di Purwakarta, penantian justru ditempatkan sebagai pertanyaan tentang kesiapan, pengetahuan, iman, dan kerja nyata.

Baca juga: Silaturahmi DPW ABI Jabar dan Muhammadiyah Perkuat Komitmen Dialog dan Pelayanan Masyarakat

Sebanyak 58 peserta dari Purwakarta, Subang, Karawang, dan Bekasi mengikuti kajian yang berlangsung di Yayasan Al Mujtaba, Jalan Walangi No. 82, Purwakarta, Minggu (4/10/2026). Pertemuan yang diikuti ikhwan dan akhwat itu menjadi ruang silaturahmi sekaligus pembekalan bagi kader dan komunitas Ahlulbait di Jawa Barat untuk mendalami konsep Mahdawiyah dan visi-misi Imam Mahdi.

Ketua Departemen Kaderisasi DPW ABI Jawa Barat sekaligus ketua pelaksana kegiatan, Ustadz Husein Bajri, mengatakan kajian tersebut merupakan bagian dari agenda kaderisasi yang diarahkan untuk mengaktifkan kembali komunitas Ahlulbait di Jawa Barat, terutama dalam menghadapi masa penantian.

“Intinya adalah aktivasi para komunitas Ahlulbait di wilayah Jawa Barat di masa penantian, khususnya para kader ABI,” ujar Husein.

Penantian yang Menuntut Kesiapan

Sejumlah ustadz turut hadir sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut, di antaranya Ustadz Amar Fauzi dan Ustadz Salim Muhsin. Dalam pemaparannya, Ustadz Amar mengajak peserta melihat Mahdawiyah bukan hanya sebagai keyakinan tentang kedatangan Imam Mahdi, tetapi juga sebagai dorongan untuk menilai posisi diri dalam menghadapi masa penantian. Ia menyinggung mereka yang berada di garis depan perjuangan dan berhadapan langsung dengan ancaman serangan sebagai kelompok yang, menurutnya, memiliki pengalaman berbeda dalam memaknai penantian.

“Kalau kita bandingkan, justru mereka itu yang lebih berhak, yang lebih pantas menghitung waktu kapan (kemunculan) Imam Mahdi daripada kita yang jauh di sini,” katanya.

Baca juga: FGD ABI Jabar Soroti Potensi Ekonomi Komunitas, Dorong Koperasi Jadi Motor Kemandirian

Menurut Ustadz Amar, mereka yang berada di garis depan telah menunjukkan kesiapan menghadapi risiko dan memberikan contoh tentang bagaimana keyakinan diterjemahkan menjadi keberanian dan pengorbanan. Dari sana, ia menghubungkan penantian dengan persoalan iman dan pengetahuan. Keyakinan terhadap dekatnya pertolongan Allah, menurutnya, harus ditopang oleh kekuatan iman, sedangkan iman perlu dibangun melalui pengetahuan.

“Mental keyakinan pertolongan Allah dekat harus dengan iman yang kuat dan kekuatan iman hanya bisa dibangun dengan pengetahuan,” ujarnya. Karena itu, kajian Mahdawiyah tidak berhenti pada penyampaian materi. Peserta didorong untuk kritis, bertanya, dan memperdalam pengetahuan sebagai bagian dari upaya mengokohkan iman.

Ketua DPW ABI Jawa Barat, Ustadz Saepul Yusuf, memberikan tekanan yang lebih jauh. Menurutnya, predikat sebagai penanti Imam Mahdi tidak cukup jika tidak disertai kontribusi terhadap perjuangan yang diyakini berkaitan dengan visi Imam Mahdi.

“Jangan bangga dulu bahwa kita sebagai penanti Al Mahdi kalau kita tidak memberikan kontribusi kepada kemajuan pergerakan Imam Mahdi itu sendiri,” tegasnya.

Dari Dalil ke Pertanyaan tentang Posisi Diri

Kajian berlangsung dalam tiga sesi. Ustadz Husein Bajri membuka pembahasan dengan menguraikan dasar-dasar keyakinan Mahdawiyah berdasarkan Al-Qur’an dan hadis. Ia mengajak peserta mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: sudah sejauh mana seseorang berada dalam “gerbong Mahdawiyah” dan layak disebut sebagai seorang mahdawi sejati?

Dalam paparannya, Ustadz Husein mengaitkan konsep tersebut dengan sejumlah dalil, antara lain Surah Al-Baqarah ayat 30 tentang keberadaan khalifah di muka bumi dan penetapannya oleh Allah. Ia juga menjelaskan Surah Al-Qadr dengan penekanan pada kata tanazzal yang menunjukkan berlangsungnya turunnya para malaikat dan Ruh setiap tahun, yang dikaitkan dengan keharusan adanya hujjah di muka bumi. Ia kemudian menghubungkannya dengan Hadis Tsaqalain tentang Al-Qur’an dan itrah yang, menurut penjelasannya, akan terus berdampingan hingga hari kiamat.

Baca juga: Program Intensif “Siap Kuliah” Pandu ABI Jabar Dongkrak Nilai UTBK 132 Poin, 6 dari 9 Peserta Lolos PTN

Sesi berikutnya diisi Ustadz Hasan Zakaria. Pembahasannya membawa konsep Mahdawiyah pada wilayah yang lebih praksis, yakni tanggung jawab seorang mukmin yang sadar akan taklifnya. Menurut Ustadz Zakaria, seorang mukmin yang sadar taklif tidak cukup hanya memahami keyakinan, tetapi harus bekerja dan bergerak secara istiqamah serta terstruktur untuk merealisasikan program ilahi dan mempersiapkan terwujudnya hukumah ilahiyah melalui Imam Mahdi yang dinanti.

Ia menempatkan setiap orang yang berada dalam komunitas ideologi Mahdawiyah sebagai bagian dari proses persiapan tersebut, sesuai dengan kemampuan dan potensi masing-masing. Namun, Hasan mengajukan satu pertanyaan yang kemudian menjadi salah satu titik penting dalam kajian: siapa sebenarnya yang menunggu dan siapa yang ditunggu?

“Imam zamanlah yang sedang menunggu kesiapan kita, gerakan kita, keseriusan kita dan perjuangan kita untuk beliau hadir di tengah-tengah kita,” ujarnya.

Menurut Ustadz Zakaria, anggapan bahwa manusia hanya menunggu keputusan Allah tentang kemunculan Imam Mahdi dapat membuat seseorang merasa seluruh persiapan telah selesai. Padahal, menurutnya, persoalan yang lebih penting justru terletak pada kesiapan manusia untuk menerima kepemimpinan ilahi dan aturan Ilahi.

Baca juga: Muslimah ABI Jabar Jajaki Kerja Sama Program dengan DP3AKB

Berkomunitas untuk Mengubah Gagasan Menjadi Gerakan

Sesi terakhir sekaligus refleksi disampaikan Ustadz Saepul Yusuf. Ia kembali menghubungkan pembahasan Mahdawiyah dengan keberadaan ABI sebagai organisasi. Menurut Ustadz Saepul, ABI memiliki posisi yang sejalan dengan konsep Mahdawiyah dan wilayah. Karena itu, organisasi perlu dilihat sebagai kendaraan untuk menggerakkan perjuangan tersebut.

Perjuangan, katanya, tidak dapat dilakukan sendirian. Ia membutuhkan komunitas dan organisasi sebagai ruang untuk menyatukan langkah.

“Bagaimana kita mengenali visi misi Al Mahdi kalau kita tidak berkomunitas, berorganisasi?” ujarnya.

Pada akhir paparannya, Ustadz Saepul mengajak peserta untuk tidak berhenti pada pemahaman personal, tetapi masuk ke dalam kerja bersama.

“Masuklah dan bergabunglah dengan komunitas, kumpulan yang di dalamnya memperjuangkan visi misi Al Mahdi,” serunya.

Baca juga: Safari Kepemimpinan DPW ABI Jabar Teguhkan Soliditas dan Misi Mahdawiyah

Antusiasme peserta terlihat dari respons setelah seluruh sesi berakhir. Salah seorang peserta dari Subang, Wasdi, menyampaikan rencana untuk segera menerjemahkan hasil kajian ke dalam agenda kerja di daerahnya. Pada Oktober ini, ia berencana menuntaskan sejumlah agenda, terutama yang berkaitan dengan RKAT di DPD ABI Subang, sekaligus melakukan silaturahmi dengan tokoh-tokoh masyarakat di wilayah Subang. Bagi Wasdi, langkah tersebut merupakan bentuk call to action dari gagasan tentang mukmin yang sadar taklif.

Peserta lainnya mengusulkan agar kajian tidak berhenti pada pertemuan antardaerah. Mereka mendorong adanya program bersama untuk belajar dan menerapkan hasil pembelajaran secara kolektif. Masukan serupa juga muncul dalam kuesioner yang dibagikan panitia. Peserta meminta pendalaman materi dan keberlanjutan kajian karena menilai tema Mahdawiyah membutuhkan pembahasan yang lebih panjang dan berkesinambungan.

Pertemuan di Purwakarta itu pada akhirnya tidak berhenti pada pembahasan tentang siapa yang akan datang. Pertanyaan yang dibawa pulang peserta justru lebih dekat dengan diri mereka sendiri: seberapa siap seseorang ketika yang dinanti bukan hanya kedatangan seorang pemimpin, tetapi juga tuntutan untuk mempersiapkan diri, bergerak, dan mengambil bagian dalam perjuangan yang diyakininya. [HMP DPW Jabar]

Baca juga: Ketua DPW ABI Jabar Lakukan Safari ke 11 DPD untuk Penguatan Organisasi