Kegiatan ABI
Transformasi Guru Madrasah Diniyah, Profesional dalam Mengajar, Teladan dalam Bersikap

Pasuruan, 5 Oktober 2026 — Menjadi guru madrasah diniyah tidak cukup dengan memiliki semangat untuk mengajar. Pengetahuan, kemampuan membaca karakter peserta didik, penguasaan metode pembelajaran, hingga keteladanan dalam keseharian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tanggung jawab seorang guru.
Pesan tersebut mengemuka dalam Pelatihan Intensif Guru Madrasah Diniyah yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Muslimah Ahlulbait Indonesia (Pimwil Muslimah ABI) Jawa Timur pada 3–4 Oktober 2026 di Cafe Rangga Suwayuwo, Pandaan, Pasuruan. Sebanyak 49 peserta dari berbagai madrasah diniyah mengikuti pelatihan bertema “Transformasi Guru Madrasah Diniyah: Profesional dalam Mengajar, Mendidik dengan Hati, Menginspirasi dengan Keteladanan”.

Peserta Pelatihan Intensif Guru Madrasah Diniyah Muslimah ABI Jawa Timur mengikuti rangkaian pelatihan di Cafe Rangga Suwayuwo, Pandaan, Pasuruan, 3–4 Oktober 2026.
Baca juga: Pimwil Muslimah ABI Kaltim Hadiri Milad ke-21 PUSAKA, Perkuat Persatuan dalam Bingkai Budaya
Berbagai materi yang dibahas berkaitan langsung dengan kebutuhan guru di ruang kelas, mulai dari penguatan keilmuan dan metodologi pembelajaran hingga pemahaman terhadap karakter peserta didik, asesmen, keteladanan, serta pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan.
Ketua panitia, Sukainah Quraisy, S.Si., M.Pd., dalam sambutannya menekankan pentingnya peningkatan keilmuan bagi guru madrasah diniyah. Menurutnya, semangat mengajar perlu berjalan bersama kemauan untuk terus mengembangkan pengetahuan dan keterampilan agar guru mampu menjawab tantangan pendidikan yang terus berkembang.
Dra. Mufathonah, M.K.Pd., menyampaikan penekanan yang sejalan. Menurutnya, guru madrasah diniyah perlu memiliki kepercayaan diri sekaligus menguasai berbagai keahlian yang mendukung profesinya, termasuk kemampuan memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran.
Ustadzah Hayati Muhammad, Ketua Pimpinan Nasional Muslimah ABI, mengingatkan bahwa keberadaan sekolah dan guru madrasah diniyah terkadang masih dipandang sebelah mata. Namun, kontribusi mereka pada akhirnya akan terlihat dan diakui oleh para wali murid maupun masyarakat melalui keberhasilan dan karakter anak didiknya.
Guru dan Keteladanan
Pesan tentang peran guru juga disampaikan Ustadz Zahir Yahya, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (DPP ABI) sekaligus Ketua Dewan Pembina Muslimah ABI. Ustadz Zahir menegaskan bahwa madrasah diniyah memiliki peran besar dalam menumbuhkan potensi anak. Karena itu, guru perlu memahami kebutuhan peserta didik, termasuk kebutuhan emosional mereka.
“Guru harus mengajar dengan hati. Jangan mengajar dalam keadaan tidak mood. Yang paling penting adalah keteladanan dalam sikap dan perilaku,” pesannya.
Ketua Umum ABI itu juga mengajak para guru meninggalkan pola-pola pendidikan yang keliru dan menggantinya dengan pendekatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.
Baca juga: Pimwil Muslimah ABI DKI Jakarta Hadiri Pelatihan Kesetaraan Gender Kesbangpol
Tiga Materi Utama
Pelatihan menghadirkan tiga materi utama yang berkaitan langsung dengan praktik pembelajaran di madrasah diniyah.
Sesi pertama diisi Dr. Muhammad Alwi, S.Psi., M.M., melalui materi “Memahami Karakter, Potensi, dan Kebutuhan Peserta Didik”. Peserta diajak memahami bahwa setiap anak memiliki karakter, potensi, dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, guru perlu mengenali peserta didiknya sebelum menentukan pendekatan pembelajaran.
Materi berikutnya, “Metodologi Pembelajaran Aktif, Kreatif, dan Menyenangkan”, disampaikan Bapak Vita Wardhana Bhakti Widodo, S.S., M.Pd. Peserta mendapatkan pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif agar kegiatan belajar di madrasah diniyah tidak berlangsung monoton dan dapat melibatkan peserta didik secara aktif.
Sementara itu, Dr. Dhiah Saptorini, S.E., M.Pd., membawakan materi “Asesmen Pedagogis: Implementasi Asesmen Kontekstual di Kelas Madrasah Diniyah”. Peserta dikenalkan pada pentingnya asesmen sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk mengetahui perkembangan, potensi, dan kebutuhan peserta didik secara lebih kontekstual.
Pelatihan tidak berhenti pada penyampaian materi. Peserta juga dihadapkan pada berbagai studi kasus yang berkaitan dengan persoalan yang mereka temui dalam kegiatan belajar-mengajar di madrasah diniyah. Berbagai persoalan tersebut kemudian dibahas bersama dua fasilitator, Dra. Mufathonah, M.K.Pd. dan Ustazah Rabiatul Adawiyah, Lc., untuk menemukan alternatif penyelesaiannya.
Dengan format tersebut, peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga belajar dari pengalaman nyata yang mereka hadapi sebagai guru.
Menengok Kembali Jejak Seorang Guru
Suasana pelatihan dikemas dalam rangkaian kegiatan yang menyenangkan sekaligus reflektif. Salah satunya melalui sesi “Refleksi Guru: Jejak yang Kutinggalkan” yang dipandu Aisyah Auria, S.Psi.
Sesi tersebut mengajak peserta melihat kembali makna kehadiran seorang guru dan memikirkan jejak apa yang ingin ditinggalkan dalam diri para peserta didiknya.
Rangkaian kegiatan juga dilengkapi muhasabah sebelum Subuh yang disampaikan Ustadz Abdillah Ba’bud. Peserta diajak melakukan introspeksi terhadap niat dan tanggung jawab sebagai guru.
Salah satu kegelisahan yang mungkin muncul dalam diri seorang guru adalah perasaan tidak pantas menjadi guru madrasah diniyah karena merasa masih kurang dalam mengamalkan ilmu. Namun, perasaan tersebut tidak seharusnya membuat seorang guru berputus asa.
Baca juga: Muslimah ABI Kaltim Ikuti Coffee Morning Kesbangpol, Bahas Tertib Administrasi Ormas
Pesan Imam Ali a.s. yang disampaikan dalam muhasabah tersebut berbunyi:
وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ تَكُنْ مِنْ أَهْلِهِ
“Perintahkanlah kepada kebaikan, niscaya engkau akan menjadi bagian dari orang-orang yang melakukannya.”
Guru mungkin menghadapi berbagai tantangan, bahkan tidak menutup kemungkinan menjadi sasaran ejekan. Namun, perjuangan mendidik tetap harus dilanjutkan. Salah satu kunci yang ditekankan adalah kemampuan memanajemen waktu secara seimbang antara iman, amal, dan kesabaran.
Pelatihan intensif tersebut diharapkan tidak berhenti pada tambahan pengetahuan yang dibawa pulang peserta. Para guru diharapkan membawa semangat baru untuk memperbaiki cara mengajar, memahami peserta didik, serta menghadirkan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, transformasi guru madrasah diniyah bukan hanya menyangkut perubahan metode mengajar. Transformasi itu juga menyentuh cara memandang anak, cara mendidik, dan cara seorang guru menghadirkan dirinya sebagai teladan. []
Baca juga: BKOW Kaltim dan Muslimah ABI Buka Ruang Kerja Sama Pemberdayaan Perempuan







