Pendidikan
Kemalasan, Musuh Terbesar Calon Tentara Imam Zaman

Oleh: Hasan Zakaria, Ph.D.
Wakil Ketua Departeman Kaderisasi Dewan Pimpinan Wilayah ABI Jawa Barat
Ahlulbait Indonesia, 1 Juli 2026 — Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi setiap mukmin dalam perjalanan menuju derajat sebagai tentara Imam Zaman a.f. adalah kemalasan. Musuh ini sering kali tidak disadari karena tidak tampak seperti dosa-dosa besar yang kasat mata. Padahal, kemalasan merupakan penyakit ruhani yang perlahan melemahkan semangat pengabdian kepada Allah Swt. dan menjauhkan seseorang dari tanggung jawab ilahiah.
Dalam Doa Abu Hamzah ats-Tsumali, Imam Zainal Abidin a.s. mengajarkan kita untuk senantiasa berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat malas.”
Doa ini menunjukkan bahwa kemalasan bukanlah perkara sepele. Seandainya sifat malas bukan merupakan bahaya besar bagi kehidupan seorang mukmin, tentu para Imam Maksum tidak akan mengajarkan kita untuk memohon perlindungan kepada Allah darinya.
Baca juga: Media, Internet, dan Tanggung Jawab Dakwah di Era Digital
Imam Ja’far ash-Shadiq a.s. menjelaskan bahwa dalam diri manusia terdapat pasukan akal dan pasukan setan. Pasukan akal melahirkan keberanian, keikhlasan, kesetiaan, pengorbanan, dan semangat berjuang. Sebaliknya, pasukan setan melahirkan sifat pengecut, riya, pengkhianatan, cinta dunia, serta kemalasan. Oleh karena itu, setiap kali seseorang membiarkan dirinya dikuasai rasa malas, sesungguhnya ia sedang memberi kemenangan kepada pasukan setan dalam dirinya.
Kemalasan membuat seseorang enggan melaksanakan tugas-tugas agama. Ia malas menuntut ilmu, malas menghadiri majelis ilmu dan Huseiniah, malas berdakwah, malas melakukan amar makruf nahi mungkar, bahkan malas berkorban demi agama. Akibatnya, ia memilih hidup dalam zona nyaman dan menghindari segala bentuk tanggung jawab yang menuntut pengorbanan.
Padahal, sejarah Karbala mengajarkan bahwa para sahabat Imam Husain a.s. adalah pribadi-pribadi yang tidak mengenal kenyamanan ketika kebenaran memanggil. Mereka meninggalkan harta, keluarga, bahkan nyawa demi membela Imam zamannya. Semangat inilah yang harus dimiliki oleh para penanti Imam Mahdi a.f. Penantian sejati bukan sekadar menunggu, melainkan mempersiapkan diri menjadi prajurit yang siap mengorbankan waktu, tenaga, harta, bahkan jiwa demi menegakkan agama Allah.
Kemalasan juga berdampak pada pendidikan generasi. Orang tua yang enggan bersusah payah mendidik anak-anaknya sejak dini akan melahirkan generasi yang malas beribadah, malas menghadiri majelis agama, dan tidak memiliki kepedulian terhadap perjuangan Islam. Sebaliknya, orang tua yang sabar membimbing anak-anaknya untuk salat, mencintai Al-Qur’an, menghadiri majelis Ahlulbait a.s., dan berkhidmat kepada agama sedang mempersiapkan calon-calon penolong Imam Zaman a.f.
Karena itu, setiap mukmin hendaknya terus berjuang melawan rasa malas. Jangan sampai kecintaan kepada kenyamanan mengalahkan kecintaan kepada Allah dan hujah-Nya. Seorang penanti Imam Mahdi a.f. harus menjadi pribadi yang aktif, produktif, disiplin, dan selalu siap menjalankan setiap taklif yang diberikan Allah Swt. Di mana ada tugas agama, di situlah ia hadir. Di mana ada perjuangan, di situlah ia berdiri.
Semoga Allah Swt. menjauhkan kita dari sifat malas, menguatkan tekad kita dalam menjalankan taklif, serta menjadikan kita termasuk para penolong setia Imam Zaman a.f. []
Baca juga: Ustadz Hasan Zakaria Jelaskan Ghadir Khum dan Urgensi Wilayah dalam Kehidupan Seorang Muslim







