Ikuti Kami Di Medsos

Kegiatan ABI

Lintas Organisasi Kediri Gelar Peringatan Pancasila di PBB dan Refleksi Tragedi Gestok

Published

on

Lintas organisasi dan elemen masyarakat mengikuti peringatan Pancasila di PBB dan refleksi Peristiwa Gestok di Situs Ndalem Pojok, Kediri, Rabu (30/9) malam hingga Kamis (1/10) dini hari.
Lintas organisasi dan elemen masyarakat mengikuti peringatan Pancasila di PBB dan refleksi Peristiwa Gestok di Situs Ndalem Pojok, Kediri, Rabu (30/9) malam hingga Kamis (1/10) dini hari.

Kediri, 2 Oktober 2026 — Malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober di Situs Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, diisi dengan refleksi sejarah dan kebangsaan. Berbagai organisasi dan elemen masyarakat berkumpul untuk mengenang pidato Presiden Soekarno di Sidang Umum PBB pada 30 September 1960 sekaligus merefleksikan tragedi politik dan kemanusiaan Oktober 1965.

Kegiatan bertajuk “Peringatan Pengenalan Pancasila di PBB dan Peristiwa Gestok” tersebut berlangsung sejak Rabu (30/9) malam hingga Kamis (1/10) dini hari di kawasan Cagar Budaya Situs Ndalem Pojok.

Baca juga: DPP ABI Sampaikan Selamat atas Pelantikan Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri

Peringatan ini merupakan hasil kolaborasi sejumlah organisasi dan komunitas, antara lain Dewan Pimpinan Daerah Ahlulbait Indonesia (DPD ABI) Kabupaten Kediri yang menjadi salah satu pemrakarsa sejak 2019, Situs Ndalem Pojok, Persaudaraan Cinta Tanah Air (PCTA) Indonesia, Lembaga Pelindung dan Pelestari Budaya Nusantara (LP2BN), PelestAri Sejarah-BudayA Kadhiri (PASAK), serta sejumlah komunitas kebudayaan lainnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut unsur Muspika, aparat keamanan, pimpinan organisasi kemasyarakatan, rohaniawan, sejarawan, budayawan, akademisi, dan warga setempat. Rangkaian acara meliputi selamatan, orasi kebangsaan, sarasehan, serta ditutup dengan tahlil dan doa bersama untuk mengenang para Pahlawan Revolusi.

Mengingat Kembali Pidato Bersejarah Bung Karno

Dalam sarasehan, Pengurus Situs Ndalem Pojok, R.M. Kushartono, menekankan pentingnya mengingat kembali peristiwa 30 September 1960 ketika Presiden Soekarno menyampaikan pidatonya dalam Sidang Umum PBB dan memperkenalkan Pancasila sebagai salah satu gagasan yang dapat menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurut Kushartono, pidato tersebut tidak hanya berbicara mengenai Indonesia, tetapi juga membawa suara negara-negara Asia dan Afrika yang pada masa itu masih menghadapi persoalan kolonialisme dan ketidakadilan internasional.

“Saat itu Bung Karno tidak hanya mewakili Indonesia, tetapi juga menyuarakan nasib negara-negara Asia dan Afrika yang tengah mengalami penindasan. Pidato tersebut adalah salah satu pidato terbaik yang pengakuannya masuk dalam catatan UNESCO. Peristiwa ini wajib kita gaungkan kembali agar nilai-nilai luhur Pancasila diperjuangkan sebagai solusi menciptakan perdamaian dunia,” ungkap Kushartono.

Bagi para peserta, mengingat kembali pidato tersebut bukan hanya bagian dari nostalgia sejarah. Peringatan itu ditempatkan sebagai upaya membaca kembali gagasan kebangsaan yang pernah disampaikan Indonesia di forum internasional dan menghubungkannya dengan persoalan kemanusiaan serta perdamaian.

Delapan Tahun Menjaga Ingatan Sejarah

Ketua DPD ABI Kabupaten Kediri sekaligus pelaksana kegiatan, Juwaini, menyampaikan apresiasi atas konsistensi kolaborasi lintas organisasi yang telah menjaga tradisi peringatan tersebut hingga memasuki tahun kedelapan.

Rangkaian acara sengaja dibuat bersambung sejak pukul 19.30 WIB pada 30 September hingga dini hari 1 Oktober. Bagi penyelenggara, kesinambungan waktu tersebut memiliki makna tersendiri karena mempertemukan dua momentum sejarah yang menjadi pokok refleksi kegiatan.

“Kami yang hadir di sini mungkin menjadi salah satu yang pertama di Indonesia yang merutinkan peringatan Pancasila Menggema di PBB ini. Ini wujud penggalian sejarah dari peristiwa penting yang kerap luput dari perhatian. Kami percaya, jika Pancasila betul-betul diamalkan oleh bangsa-bangsa, kolonialisme, imperialisme, dan ketidakadilan tidak akan memiliki tempat. Pancasila adalah jati diri bangsa yang tidak dimiliki bangsa lain, dan harus terus kita jaga,” tegas Juwaini.

Peringatan tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana ingatan sejarah dapat dirawat melalui kerja bersama organisasi masyarakat, komunitas kebudayaan, tokoh agama, akademisi, dan warga. Situs Ndalem Pojok menjadi ruang pertemuan berbagai latar belakang untuk membicarakan sejarah bukan hanya sebagai catatan masa lalu, tetapi sebagai bahan pembelajaran bagi kehidupan kebangsaan hari ini.

Baca juga: DPP ABI Tegaskan Pancasila sebagai Bagian dari Kesadaran Keindonesiaan

Membaca Tragedi Oktober 1965

Refleksi kemudian bergeser pada tragedi Oktober 1965. Sejarawan sekaligus pemateri diskusi, Hendro Widjanarko, membahas perbedaan penyebutan antara Gestok atau Gerakan Satu Oktober dan Gestapu atau Gerakan September Tiga Puluh yang berkembang dalam narasi sejarah Indonesia.

Menurut Hendro, perbedaan istilah tersebut tidak semestinya menjadi sumber perpecahan. Ia menjelaskan bahwa rangkaian peristiwa yang menewaskan sejumlah perwira Angkatan Darat berlangsung pada dini hari setelah pergantian tanggal, sehingga memasuki 1 Oktober 1965.

“Dalam catatan sejarah, pergerakan yang merenggut nyawa para Pahlawan Revolusi memang terjadi pada dini hari setelah jam 12, yang berarti sudah memasuki tanggal 1 Oktober. Nisan mereka pun mencatat gugur pada 1 Oktober. Yang paling penting dari perbedaan ini adalah kita tetap bersatu dan mengambil pembelajaran berbangsa, bahwa segala bentuk tindakan kekerasan tidak dapat dibenarkan, apalagi jika didalihkan demi kepentingan kekuasaan pribadi atau kelompok,” urai Hendro.

Bagi para penyelenggara, pembahasan mengenai tragedi 1965 ditempatkan sebagai bagian dari upaya merawat ingatan sejarah sekaligus mengambil pelajaran mengenai dampak kekerasan politik terhadap kehidupan masyarakat.

Dari Kediri, peringatan yang mempertemukan Pancasila, sejarah internasional Indonesia, dan tragedi 1965 itu kembali menempatkan ingatan sejarah sebagai ruang dialog. Kolaborasi lintas organisasi yang telah berlangsung selama delapan tahun diharapkan terus berlanjut, agar sejarah tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi tetap menjadi bahan refleksi untuk memperkuat kehidupan kebangsaan. []

Baca juga: Ketum ABI: Kaderisasi ABI Tak Hanya Menyiapkan Pengurus, tetapi Membentuk Manusia