Ikuti Kami Di Medsos

Tokoh

Masjid Jamkaran: Fajar Tatanan Dunia Baru

Published

on

Masjid Jamkaran di Qom menjadi simbol penantian, harapan, dan perenungan di tengah momen bersejarah pemakaman Syahid Ayatullah Ali Khamenei.
Masjid Jamkaran di Qom menjadi simbol penantian, harapan, dan perenungan di tengah momen bersejarah pemakaman Syahid Ayatullah Ali Khamenei. (Foto: Farsnews Agency)

Oleh: Abdillah Al Habsyi (Aktivis dan Pengamat Timur Tengah)

Ahlulbait Indonesia, 7 Juli 2026 – Hari ini, tanah suci Qom menyambut kepulangan pahlawannya. Jenazah suci Sang Imam, Pemimpin Besar Sayyid Ali Husayni Khamenei yang syahid, bersama jasad-jasad suci keluarganya, telah tiba di kota Mulla. Setelah lautan manusia membanjiri Teheran, kini giliran Qom menjadi saksi sebuah perpisahan paling agung pada abad ini.

Qom bukanlah kota biasa. Ribuan tahun sejarahnya merupakan lembaran peradaban yang menjadi tempat bernaung para ulama, ahli hukum, dan pemikir besar Islam. Di rahim kota ini mengalir dan bersemayam darah-darah suci keturunan Nabi Muhammad SAW. Jantung kota berdenyut di bawah naungan kubah emas Sayyidah Fatimah Masumah a.s, putri Imam Ketujuh dan saudari tercinta Imam Kedelapan umat Syiah. Tepat satu abad yang lalu, Seminari Qom berdiri kokoh di sisi haram beliau dan menjelma menjadi mercusuar ilmu Islam yang sinarnya menerangi dunia. Qom merupakan jantung spiritual Islam Syiah, rahim suci tempat Marja’iyyah dilahirkan, sekaligus tanah berkah tempat benih-benih Wilayat al-Faqih disemai hingga tumbuh mengakar dengan kokoh.

Baca juga: Melampaui Air Mata Duka: Ketika Kematian Menjelma Menjadi Roh Identitas Nasional

Namun hari ini, perhatian dunia tertuju pada satu titik sakral lainnya, yakni Masjid Jamkaran. Tempat yang dibangun lebih dari seribu tahun lalu atas perintah suci Imam Keduabelas, Imam Al-Mahdi a.f.s, pada awal masa kegaibannya.

Bagi jutaan kaum beriman, Jamkaran bukan bangunan dari batu dan semen. Masjid ini merupakan ruang kerinduan, tempat Sang Imam Zaman diyakini hadir tanpa nama di tengah manusia, menemui jiwa-jiwa pilihan yang setia menantikan kemunculannya. Dari tempat inilah doa-doa dipanjatkan, memohon agar fajar keadilan segera terbit dan mengakhiri kezaliman di muka bumi.

Bendera Merah Pembalasan Dikibarkan: “Ya La-Tharat al-Husayn”

Hari ini, jutaan rakyat Iran menumpahkan air mata di jalan-jalan. Namun, di tangan mereka tidak ada bendera putih sebagai lambang menyerah. Yang berkibar justru panji-panji merah yang membara, menggemakan seruan pembalasan yang menggetarkan bumi: “Ya La-Tharat al-Husayn” (Wahai para penuntut darah Husain!).

Inilah bendera yang pernah berkibar saat mengiringi kepergian Jenderal Qasim Soleimani. Inilah pula warna darah yang selama berabad-abad berkibar di atas kubah suci Imam Husain a.s, di Karbala, menjadi simbol abadi bahwa perjuangan menegakkan keadilan tidak akan berakhir sebelum kebatilan ditumbangkan.

Titik Temu Takdir dan Sejarah

Di bawah langit Jamkaran, takdir dan sejarah mempertemukan simbol-simbol perjuangan dalam satu rangkaian makna yang utuh. Masjid Jamkaran berdiri sebagai menara penantian dan lambang kesetiaan yang tak tergoyahkan kepada Imam Mahdi a.f.s. Di sekelilingnya, Panji Merah Karbala berkibar laksana seruan perlawanan dan penuntutan keadilan abadi yang diwariskan Imam Husain a.s,. Di tengah pusaran kesucian itu bersemayam jasad Sang Imam yang syahid, seorang pemimpin agung yang mengabdikan seluruh hidupnya demi tegaknya cita-cita Revolusi Islam dan kokohnya poros perlawanan dunia.

Baca juga: Diplomasi Al-Qur’an: Membaca Pesan di Balik Pemilihan Ayat bagi Delegasi Asing

Upacara pemakaman ini bukan penanda berakhirnya sebuah era. Peristiwa ini merupakan jeritan kalbu yang mengisyaratkan bahwa fajar rangkaian peristiwa besar yang akan mengguncang dunia mulai menyingsing.

Bagi para pengamat dan masyarakat dunia yang menyaksikannya, peristiwa ini bukan hanya sebuah upacara pemakaman. Momen ini menghadirkan sebuah titik balik geopolitik sekaligus spiritual yang besar, sebuah awal menuju tatanan dunia baru. Getarannya mulai terasa, sementara gaungnya diperkirakan akan terus membentuk wajah sejarah pada tahun-tahun mendatang. []

Baca juga: Darah yang Menghidupkan Peradaban: Membaca Makna Dam, Tsar, dan Muhjah dalam Bahasa Asyura

CATATAN REDAKSI: Tulisan ini merupakan analisis dan pandangan pribadi penulis berdasarkan pembacaan terhadap dinamika sejarah, politik, dan simbol-simbol spiritual yang berkembang di Timur Tengah.