Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

The Atlantic: Trump Kehilangan Pijakan di Laut Merah

Published

on

Ansarullah memperkuat kendali atas Bab al-Mandab ketika Trump berusaha merebut kembali Hormuz dari Iran.
Ansarullah memperkuat kendali atas Bab al-Mandab ketika Trump berusaha merebut kembali Hormuz dari Iran.

Media ABI, 12 September 2026 – Penguasaan Bab al-Mandab oleh pasukan Yaman menjadi pukulan baru bagi strategi Amerika Serikat di Timur Tengah. Majalah Amerika The Atlantic menilai perkembangan itu sebagai kejutan pahit bagi Presiden Donald Trump, terutama ketika Washington sedang berusaha merebut kembali kendali atas Selat Hormuz dari Iran.

Dalam analisis yang diterbitkan Sabtu (12/9/26), The Atlantic menulis bahwa kemajuan Ansarullah menjadi kabar buruk bagi Amerika Serikat dan bahkan lebih buruk bagi Arab Saudi.

Pasukan Yaman disebut telah menembus garis pertahanan lawan dan menguasai sejumlah kota serta pulau di sekitar Bab al-Mandab, salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia. Kondisi itu menggagalkan harapan bahwa arah perang Iran akan berbalik menguntungkan Amerika dan melemahkan sekutu Iran di Yaman.

Baca juga: Trump Bantu Saudi Hadapi Yaman

Menurut The Atlantic, Trump kini menghadapi keadaan yang berlawanan dengan harapan tersebut. Saat pemerintahannya berusaha mengambil kendali Hormuz dari Iran, lawan-lawannya justru menguasai Bab al-Mandab.

Kedua selat itu merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dunia. The Atlantic menyebut sekitar sepertiga pengiriman minyak dunia setiap hari melewati kedua jalur tersebut secara keseluruhan.

Bab al-Mandab Mengubah Perhitungan Washington

The Atlantic juga melihat perkembangan di Yaman sebagai bukti bahwa kekuatan yang tergabung dalam Poros Perlawanan masih memiliki semangat ideologis dan solidaritas yang kuat, meskipun kelompok-kelompok dalam poros itu mengalami sejumlah kekalahan dalam satu hingga dua tahun terakhir.

Sebaliknya, negara-negara di kawasan Teluk dinilai gagal membangun kerja sama yang efektif untuk menghadapi Ansarullah. The Atlantic mengaitkan kegagalan itu dengan persoalan yang lebih besar, yaitu tidak adanya strategi Amerika yang konsisten dan terkoordinasi dalam menghadapi Iran.

April Longley Alley, pakar Yaman di Washington Institute for Near East Policy dan mantan penasihat politik utusan khusus PBB untuk Yaman, mengatakan penguasaan Bab al-Mandab memberi Ansarullah posisi yang jauh lebih kuat untuk mengancam pelayaran.

Sebelumnya, menurut Alley, Ansarullah memang sudah memiliki kemampuan mengancam kapal di Laut Merah. Namun, dengan menguasai kawasan di sekitar selat, pasukan Yaman kini dapat berada di pesisir dan menyerang kapal yang melintas. Kondisi itu membuat ancaman tersebut lebih mudah dan lebih murah dilakukan sekaligus memperkuat kendali mereka atas selat dari sisi militer dan politik.

The Atlantic juga menyinggung permintaan Putra Mahkota Arab Saudi kepada Washington untuk menyerang pasukan Yaman. Axios melaporkan Trump menolak permintaan tersebut.

Kalaupun Pentagon kembali melakukan serangan udara, The Atlantic menilai hasilnya belum tentu mengubah keadaan di lapangan. Serangan udara membutuhkan pasukan darat yang mampu memanfaatkan hasil operasi, sementara kelompok-kelompok Yaman yang menjadi sekutu Saudi dan Amerika Serikat kini disebut melemah dan terpecah.

Baca juga: Penangkapan Kapal Selam Nirawak di Hormuz, Pesan Penting Buat Amerika

Pemerintahan Trump sebelumnya sudah berperang selama tujuh pekan melawan Ansarullah. Serangan itu menewaskan sejumlah komandan kelompok tersebut, tetapi menurut The Atlantic, tidak berhasil mencapai tujuan yang pernah dijanjikan Trump untuk mengusir Ansarullah dari posisi mereka atau mengubah kemampuan mereka berperang.

Saudi Kehilangan Kekuatan yang Dibangunnya

Bagi Saudi, perkembangan itu dinilai lebih mengkhawatirkan. Riyadh telah menghabiskan bertahun-tahun untuk membatasi Ansarullah di sepanjang perbatasannya. Kini, kelompok tersebut justru memperoleh sejumlah besar senjata dan perlengkapan militer Saudi serta UEA yang ditinggalkan pasukan pemerintah Yaman ketika mundur.

The Atlantic mencontohkan sebuah video yang beredar sehari sebelumnya. Muhammad Ali al-Houthi, salah satu komandan senior Ansarullah sekaligus sepupu pemimpin kelompok tersebut, Abdul-Malik al-Houthi, terlihat mengendarai kendaraan lapis baja buatan UEA di Al-Mokha.

Menurut analisis The Atlantic, kekacauan di kubu Saudi di Yaman juga tidak muncul begitu saja. Ansarullah terbentuk sekitar tiga dekade lalu sebagai respons terhadap campur tangan Saudi dalam urusan keagamaan dan politik Yaman.

Pada Desember lalu, ketegangan antara Saudi dan UEA membuat Riyadh meminta Abu Dhabi keluar dari Yaman. Setelah itu, Saudi mengambil tanggung jawab atas sejumlah kelompok bersenjata dengan loyalitas yang berbeda-beda.

Kelompok-kelompok tersebut tetap berselisih ketika Ansarullah mulai mendekati posisi mereka. Farea Al-Muslimi, pakar Yaman di Chatham House, menggambarkan buruknya koordinasi di antara mereka.

Menurut Al-Muslimi, tidak ada koordinasi antara para komandan, unsur intelijen dan drone, penjaga pantai maupun angkatan darat.

Kondisi itu memberi ruang bagi Ansarullah untuk bergerak lebih leluasa. The Atlantic menilai kelompok tersebut selama operasi terakhir bekerja secara disiplin dan terfokus.

Baca juga: Mengapa Kemenangan Ansarullah di Pesisir Barat Yaman Strategis?

Ansarullah Berpeluang Memperluas Pengaruh

The Atlantic memperkirakan pasukan Yaman masih dapat memperluas pengaruhnya ke wilayah lain, termasuk Provinsi Ma’rib yang menjadi lokasi sebagian besar minyak Yaman.

Perluasan itu juga tidak harus dilakukan melalui pertempuran. Kesepakatan dengan pemimpin suku dan masyarakat di wilayah selatan serta timur dapat membuka jalan bagi perluasan pengaruh Ansarullah. Menurut The Atlantic, perkembangan semacam itu akan semakin mengonsolidasikan kekuatan Ansarullah sekaligus memperkuat posisi Iran sebagai pendukung mereka.

Kondisi tersebut juga membuat The Atlantic mempertanyakan masa depan Aliansi Mekah, pakta militer yang dibentuk Saudi, Pakistan dan Turki pada Agustus.

Islamabad dan Ankara, menurut laporan tersebut, belum menunjukkan keinginan membantu Riyadh meskipun Ansarullah baru-baru ini melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di wilayah selatan Saudi.

Pada bagian akhir analisisnya, The Atlantic menilai hubungan Ansarullah dan Iran memiliki ikatan ideologis yang dalam. Ikatan tersebut disebut menghasilkan tingkat solidaritas yang sulit ditemukan di kubu lawan.

Dalam penilaian majalah tersebut, Ansarullah tidak harus memenangkan setiap pertempuran. Selama kelompok itu mampu mempertahankan kemampuan mengancam pelayaran dan sesekali menyerang kapal tanker, mereka tetap memiliki alat tekan yang kuat terhadap Saudi maupun negara-negara lain. []

Baca juga: Iran Pegang Kendali Penuh Hormuz, Peringatkan Saudi dan Jepang