Opini
Di Semarang, Maulid Nabi Menyatukan Tokoh Antarmazhab dan Lintas Iman

Semarang, 6 September 2026 –Tokoh-tokoh dari berbagai mazhab Islam, organisasi keagamaan, kalangan akademik, dan komunitas lintas iman duduk dalam satu forum di Astina Hall, Hotel Grasia, Semarang, Sabtu (5/9). Mereka datang dari latar tradisi dan keyakinan yang tidak selalu sama, lalu bertemu untuk membicarakan satu persoalan yang terus hadir dalam kehidupan beragama: bagaimana membangun kehidupan bersama ketika perbedaan tidak mungkin dihapuskan.
Pertemuan itu berlangsung dalam Seminar Nasional Pendekatan Antarmazhab Islam yang digelar dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Wakil Ketua MUI Jawa Tengah, Prof. Dr. H. Abu Hapsin, MA, PhD, tampil sebagai keynote speaker, sementara diskusi dipandu K.H. Drs. Taslim Syahlan, Sekretaris Jenderal Asosiasi Forum Kerukunan Umat Beragama Indonesia.
Sejumlah tokoh turut menjadi narasumber, yakni Prof. Sumanto Al Qurtuby, PhD, dari Center for the Study of Religion and Christian-Muslim Relations UKSW Salatiga; Prof. Dr. Rozihan, S.H., M.Ag, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah; Ustadz Zahir Yahya, M.A., Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia; serta Pdt. Aryanto Nugroho, Ketua Badan Pimpinan Pusat Gereja JAGI. Dari sudut pandang masing-masing, mereka membahas keragaman internal umat beragama, hubungan tauhid dengan kepedulian dan keadilan, jalan persatuan umat manusia, serta pengalaman mengelola perbedaan denominasi dalam Kekristenan.

Tokoh agama, akademisi, dan perwakilan berbagai organisasi duduk bersama dalam Seminar Nasional Pendekatan Antarmazhab Islam yang digelar dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Astina Hall, Hotel Grasia, Semarang, Sabtu (5/9/2026).
Karakter forum itu juga tampak dari unsur penyelenggara dan peserta yang hadir. Kegiatan ini melibatkan Ahlulbait Indonesia (ABI), Pandu ABI, Muslimah ABI, Pusat Studi Aswaja UNISNU, Gusdurian, Ponpes Data, Pelita, dan ELSA. Peserta datang dari berbagai unsur masyarakat, antara lain NU, Muhammadiyah, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Fatayat NU, Aisyiyah, LDII, PHDI, MAKIN, MLKI, Wandani, PWKI, PERKHIN, FKUB, Komisi HAK Kevikepan Semarang, BAMAGNAS Jawa Tengah, serta sejumlah unsur pemerintah dan organisasi masyarakat. Hadir pula jaringan ABI dari berbagai daerah, termasuk perwakilan 12 DPD ABI, Muslimah ABI Jawa Tengah, Pandu ABI Jawa Tengah, dan Muslimah ABI Kota Semarang.
Ustadz Miqdad Turkan: Maulid sebagai Ruang Perjumpaan
Ustadz Miqdad Turkan membuka acara dengan menempatkan Maulid Nabi sebagai ruang perjumpaan. Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang, menurut Ustadz Miqdad, berangkat dari pandangan bahwa risalah Nabi Muhammad SAW tidak berbicara kepada satu kelompok manusia saja. Karena itu, peringatan kelahiran Rasulullah dapat menjadi ruang yang mempertemukan orang-orang dari tradisi dan keyakinan yang berbeda.
Ia juga menyinggung persoalan yang kerap muncul bahkan di tengah kelompok dengan identitas keagamaan yang sama. Perpecahan tidak selalu berawal dari perbedaan mazhab atau agama. Dalam satu organisasi dan komunitas, pertentangan dapat tumbuh ketika komunikasi menyempit, prasangka menguat, dan kepentingan mulai mengalahkan kesediaan untuk mendengar.
Dalam konteks itulah forum Maulid tersebut memperoleh maknanya. Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW tidak berhenti pada mengenang sejarah beliau, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali bagaimana umat menjalankan nilai-nilai yang dibawanya dalam hubungan dengan sesama manusia.
Prof. Abu Hapsin: Persatuan Memerlukan Dialog
Gagasan mengenai dialog mendapat penegasan dari Prof. Dr. H. Abu Hapsin, MA, PhD. Wakil Ketua MUI Jawa Tengah itu menempatkan dialog sebagai syarat mendasar bagi terbangunnya hubungan yang sehat antarmazhab. Menurut Prof. Abu Hapsin, persatuan sulit tumbuh apabila setiap kelompok datang dengan prasangka dan menutup diri dari kemungkinan untuk mendengar pandangan pihak lain.
“Tidak mungkin ada persatuan tanpa dialog,” kata Prof. Abu Hapsin.
Prof. Abu Hapsin menyoroti kecenderungan sebagian orang memutlakkan penafsiran keagamaannya sendiri. Ketika satu penafsiran diyakini sebagai satu-satunya kebenaran, sementara pandangan lain segera ditempatkan sebagai kesalahan, ruang perjumpaan pun menyempit. Padahal, menurutnya, tidak semua persoalan agama berada dalam wilayah yang bersifat mutlak. Banyak persoalan lahir dari pembacaan dan penafsiran manusia, sehingga perbedaan dalam memahaminya perlu ditempatkan secara proporsional.

Ia juga mengingatkan bahwa kerukunan tidak dapat dibangun hanya melalui undang-undang dan aturan formal. Hukum memang dapat mengatur perilaku manusia di ruang publik, tetapi hubungan yang sungguh-sungguh baik tidak otomatis lahir dari kewajiban menaati ketentuan. Hubungan semacam itu membutuhkan perubahan dalam cara memandang pihak lain.
Karena itu, Prof. Abu Hapsin mengingatkan agar hubungan antarmazhab tidak terus-menerus dibaca melalui paradigma politik dan kepentingan.
“Kalau paradigma kita masih paradigma politik dan kepentingan, dialog akan sulit terjadi,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Abu Hapsin juga menyampaikan pandangan pribadinya mengenai keterlibatan kelompok Syiah dalam lembaga keagamaan. “Seandainya saya menjadi Ketua MUI Jawa Tengah, saya berjanji akan memasukkan Syiah sebagai anggota MUI Jawa Tengah,” katanya.
Baca juga: Wakil Ketua MUI Jawa Tengah: Tanpa Dialog, Persatuan Sulit Diwujudkan
Prof. Sumanto Al Qurtuby: Membaca Keragaman dengan Lebih Jernih
Pengalaman langsung membawa Prof. Sumanto Al Qurtuby, PhD, pada cara pandang tersendiri dalam membaca hubungan antarmazhab. Akademisi yang pernah tinggal dan mengajar di Arab Saudi, termasuk pernah menjadi dosen di King Fahd University, itu mengatakan bahwa gambaran mengenai hubungan Sunni dan Syiah di negara tersebut kerap dipahami secara terlalu sederhana oleh masyarakat di luar Arab Saudi.
Berdasarkan pengalamannya, Prof. Sumanto melihat perubahan dalam kehidupan sosial dan keagamaan di sana, termasuk keterlibatan masyarakat Syiah dalam kehidupan publik. Ia menilai sejumlah kelompok anti-Syiah di Indonesia kerap menjadikan Arab Saudi sebagai rujukan untuk menggambarkan bagaimana Syiah diperlakukan. Namun, apa yang ditemukannya selama berada di negara tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan gambaran yang selama ini beredar.
Prof. Sumanto juga mengingatkan bahwa persoalan yang tampak sebagai konflik keagamaan sering memiliki latar yang lebih kompleks, termasuk kepentingan politik.
“Jadi, persoalannya tidak selalu semata-mata karena Syiahnya, tetapi juga berkaitan dengan politik,” kata Prof. Sumanto.
Dalam paparannya, Prof. Sumanto kemudian membawa pembicaraan ke sejarah yang lebih panjang. Keberagaman, menurutnya, telah menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Arab dan dunia Islam. Ia menyinggung keberadaan komunitas Kristen di Jazirah Arab sebelum masa Nabi Muhammad SAW serta hubungan masyarakat Muslim dengan berbagai komunitas dan bangsa di luar Arab. Dengan latar sejarah tersebut, kehadiran tokoh dari berbagai agama dalam peringatan Maulid Nabi di Semarang, menurutnya, tidak perlu dipandang sebagai sesuatu yang asing.
Pandangan itu ia hubungkan dengan pengalaman sejumlah kelompok minoritas keagamaan di Indonesia, termasuk Ahmadiyah dan Syiah, yang dalam berbagai peristiwa menghadapi diskriminasi dan persekusi. Kritik Prof. Sumanto kemudian mengarah kepada kecenderungan sosial yang menurutnya cukup sering muncul: keinginan untuk memperoleh penghormatan tanpa kesediaan memberikan penghormatan yang sama kepada orang lain.
“Masyarakat kita umumnya ingin dihormati, tetapi tidak mau menghormati,” ujarnya.
Bagi Prof. Sumanto, menghormati keyakinan orang lain tidak sama dengan menerima atau membenarkan seluruh ajaran yang diyakininya. Perbedaan teologis dapat tetap dipertahankan tanpa menjadikannya alasan untuk merendahkan atau meniadakan hak pihak lain.
“Saya mungkin tidak setuju dengan sejumlah pandangan Syiah, Kristen, Wahabi, atau keyakinan lainnya. Tetapi saya tetap menghormati dan menghargai mereka. Karena yang bisa menghakimi kita semua adalah Tuhan yang kita masing-masing yakini,” katanya.

Ustadz Miqdad Turkan menilai keteladanan Nabi Muhammad SAW penting untuk merawat persatuan di tengah perbedaan mazhab dan keyakinan.
Prof. Rozihan: Tauhid Harus Melahirkan Kepedulian dan Keadilan
Pembicaraan kemudian bergeser kepada hubungan antara keyakinan dan tanggung jawab sosial melalui pemaparan Prof. Dr. Rozihan, S.H., M.Ag. Mengangkat tema Tauhid, Kepedulian, dan Keadilan: Pesan Nabi Muhammad SAW bagi Kemanusiaan, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah itu menempatkan keimanan bukan hanya sebagai persoalan hubungan manusia dengan Tuhan, melainkan juga sebagai dasar bagi cara manusia memperlakukan sesamanya.
Bagi Prof. Rozihan, tauhid tidak berhenti pada pengakuan terhadap keesaan Tuhan. Keyakinan tersebut membawa konsekuensi dalam kehidupan sosial, terutama dalam membangun kepedulian dan memperjuangkan keadilan. Karena itu, keberagamaan tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab terhadap manusia dan kehidupan bersama.
Ia juga menyinggung kenyataan bahwa tradisi Islam mengenal keragaman pembacaan dan penafsiran terhadap Al-Qur’an dan hadis. Seseorang dapat memiliki keyakinan yang kuat terhadap pandangan yang dianutnya tanpa merasa memiliki hak untuk menjadi hakim atas keyakinan orang lain. Persoalan, menurutnya, sering muncul ketika seseorang tidak lagi berhenti pada menjalankan keyakinannya sendiri, tetapi merasa berhak menentukan kedudukan dan nilai keyakinan pihak lain.
Dalam kehidupan berbangsa, Prof. Rozihan mengingatkan bahwa setiap kelompok memiliki hak untuk menjalankan keyakinannya. Namun, keyakinan tersebut tidak dapat digunakan untuk meniadakan hak kelompok lain. Di tengah masyarakat yang terdiri atas beragam agama dan tradisi pemikiran, kepedulian dan keadilan justru menjadi ukuran penting bagi kematangan kehidupan beragama.
Dalam bagian lain, Prof. Rozihan berbicara mengenai ketertarikannya terhadap berbagai tradisi pemikiran Islam. “Saya adalah Muhammadiyah, dan bukan ahlusunah waljamaah, tetapi ahlisunah wasyiah,” ujar Prof. Rozihan, seraya menyebut ketertarikannya terhadap pemikiran sejumlah tokoh Syiah, termasuk Murtadha Muthahhari.
Baca juga: Seminar Maulid Nabi dan Ikhtiar Merawat Dialog Antarmazhab Dibuka Ustadz Miqdad Turkan
Pdt. Aryanto Nugroho: Berbeda Doktrin, Tetap Menghadapi Persoalan Bersama
Pengalaman internal Kekristenan kemudian menjadi bagian dari diskusi melalui pemaparan Pdt. Aryanto Nugroho. Ketua Badan Pimpinan Pusat Gereja JAGI itu menjelaskan bahwa persoalan perbedaan dan perpecahan bukan hanya menjadi pengalaman umat Islam. Sejarah Kekristenan juga mengenal perbedaan doktrin yang dalam perjalanan panjangnya pernah berkembang menjadi konflik dan peperangan.
Bagi Pdt. Aryanto, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan dan doktrin tidak dapat selalu diselesaikan dengan memaksakan keseragaman. Kelompok-kelompok yang memiliki pandangan berbeda tetap harus menemukan cara untuk hidup berdampingan, terutama karena kehidupan sosial menghadirkan persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh satu kelompok saja.
“Berbeda keyakinan dan doktrin adalah ranah masing-masing, namun kita harus bersama melawan musuh bersama,” ujarnya.
Pdt. Aryanto menyebut bencana, kerusakan lingkungan, kemiskinan, dan berbagai persoalan kemanusiaan sebagai tantangan bersama. Dalam menghadapi persoalan-persoalan tersebut, perbedaan denominasi atau keyakinan tidak seharusnya menghalangi kerja kemanusiaan.
Ia juga mengingatkan bahwa konflik keagamaan dapat menjadi semakin rumit ketika kepentingan politik masuk ke dalamnya. Dalam situasi semacam itu, agama berpotensi terseret menjadi alat dalam pertarungan kekuasaan. Karena itu, menurut Pdt. Aryanto, negara perlu berdiri sebagai pengayom seluruh kelompok dan berhati-hati agar tidak masuk terlalu jauh ke dalam wilayah penafsiran teologis yang justru dapat memperbesar konflik.

Ustadz Zahir Yahya: Menghidupi Rasulullah dalam Kehidupan
Menjelang akhir seminar, Ustadz Zahir Yahya, M.A., membawa pembicaraan kembali kepada alasan seluruh peserta berkumpul pada hari itu: Maulid Nabi Muhammad SAW. Ketua Umum DPP Ahlulbait Indonesia itu menempatkan satu kata sebagai titik tekan pemaparannya, yakni menghidupi.
Menurut Ustadz Zahir, hubungan umat dengan Rasulullah SAW tidak cukup diwujudkan dengan memperingati kelahiran beliau. Yang lebih mendasar adalah bagaimana ajaran dan risalah Nabi benar-benar hadir dalam kehidupan.
“Menghidupi Rasulullah artinya menghadirkan beliau dalam kehidupan kita,” ujarnya.
Bagi Ustadz Zahir, Maulid dapat memperkuat hubungan emosional umat dengan Nabi melalui selawat, pujian, dan berbagai bentuk penghormatan. Namun, kecintaan itu perlu berlanjut dalam bentuk yang lebih nyata: memahami dan menjalankan risalah beliau. Prinsip rahmatan lil ‘alamin, menurutnya, tidak cukup berhenti sebagai ungkapan tentang kemuliaan Nabi Muhammad SAW, tetapi harus menemukan bentuknya dalam cara umat memperlakukan manusia dan kehidupan.
Pembicaraan tentang Nabi Muhammad SAW dan jalan persatuan umat manusia kemudian ia hubungkan dengan kebutuhan akan landasan yang lebih kuat daripada kepentingan politik. Hubungan yang dibangun hanya di atas kepentingan, menurut Ustadz Zahir, mudah berubah ketika kepentingan itu berubah. Karena itu, manusia memerlukan titik temu yang lebih mendasar, seperti nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan.
Dalam konteks umat Islam, Ustadz Zahir mengingatkan bahwa terdapat banyak kesamaan yang dapat menjadi dasar perjumpaan, mulai dari tauhid, Al-Qur’an, kenabian, hingga berbagai bentuk ibadah. Ia kemudian menyinggung gagasan Pekan Persatuan yang diprakarsai Imam Khomeini dengan menjadikan rentang 12 hingga 17 Rabiulawal sebagai ruang perjumpaan antara dua tradisi mengenai tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Di tengah pembicaraan mengenai persatuan umat manusia, Ustadz Zahir juga menyinggung Palestina sebagai persoalan kemanusiaan dan keadilan yang dapat mempertemukan kelompok-kelompok berbeda dalam penolakan terhadap penjajahan dan penindasan. Baginya, persoalan semacam itu menunjukkan bahwa ketika manusia berhadapan dengan ketidakadilan, batas-batas kelompok tidak selalu harus menjadi alasan untuk berjalan sendiri-sendiri.

Maulid dan Cara Memperlakukan Sesama
Di Astina Hall, Semarang, perbedaan mazhab dan keyakinan tidak hilang pada hari itu. Tidak ada upaya untuk menyamakan seluruh pandangan yang hadir. Para pembicara tetap datang dengan pengalaman, latar pemikiran, dan keyakinan masing-masing. Namun, selama forum berlangsung, perbedaan itu tidak dibiarkan berbicara melalui prasangka. Para tokoh yang hadir memilih duduk dalam satu ruang dan menyampaikan pandangan mereka secara terbuka.
Dalam konteks Maulid Nabi, mungkin di situlah makna pertemuan tersebut menemukan bentuknya. Kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak hanya diuji ketika nama beliau dilantunkan dalam selawat atau ketika kemuliaan akhlaknya dipuji. Ujian yang lebih nyata hadir ketika umat berhadapan dengan orang yang tidak sepenuhnya sama dengan dirinya, lalu menentukan apakah perbedaan itu akan dijawab dengan penolakan atau dengan kesediaan untuk tetap membuka ruang perjumpaan. []







