Opini
Iran Membongkar Titik Lemah Militer Amerika

Media ABI, 7 September 2026 – Perang dengan Iran telah mengguncang sejumlah asumsi yang selama puluhan tahun menopang keyakinan Amerika Serikat terhadap keunggulan militer dan daya tangkal konvensionalnya. Pandangan itu dikemukakan harian Iran Kayhan dalam analisis yang diterbitkan pada Senin, 7 September 2026.
Menurut Kayhan, Teheran menghadapi perang melalui strategi asimetris yang memadukan kemampuan rudal, perang elektronik, dan jaringan kelompok perlawanan di kawasan. Strategi tersebut disebut meningkatkan tekanan dan pengurasan sumber daya Amerika Serikat hingga kemampuan Washington mempertahankan perang menghadapi persoalan serius.
Baca juga: Media Israel Laporkan Dubai di Ambang Kebangkrutan
Pemerintahan Donald Trump, menurut analisis itu, semula memandang konflik sebagai operasi jangka pendek yang diharapkan berakhir dengan jatuhnya Republik Islam Iran. Perhitungan tersebut, tulis Kayhan, dibuat meskipun terdapat peringatan dari sejumlah pejabat senior militer Amerika Serikat.
Namun, skenario itu disebut tidak berjalan seperti yang direncanakan. Konflik berkembang menjadi perang pengurasan kekuatan. Serangan Iran terhadap kepentingan dan instalasi Amerika Serikat di kawasan, menurut analisis tersebut, membuat Washington menghadapi tekanan yang semakin besar sekaligus mengguncang keyakinan lama mengenai efektivitas daya tangkal konvensionalnya.
Bagi Kayhan, persoalan itu tidak dapat diatasi hanya dengan pernyataan politik atau ancaman yang terus diulang. Ancaman Washington terhadap Iran, menurut analisis tersebut, kehilangan sebagian pengaruhnya ketika kemampuan Amerika Serikat untuk mempertahankan perang mulai dipertanyakan.
Dari Ancaman ke Krisis Daya Tangkal
Untuk menjelaskan persoalan tersebut, Kayhan merujuk pada pemikiran Thomas Schelling mengenai daya tangkal. Dalam teori strategis Schelling, kekuatan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh jumlah hulu ledak atau kapal induk yang dimilikinya. Yang menentukan juga adalah keyakinan lawan terhadap harga yang harus dibayar jika sebuah ancaman benar-benar diwujudkan.
Ancaman, dalam kerangka itu, harus dipercaya. Ketika lawan tidak lagi yakin ancaman akan dilaksanakan atau menilai biaya pelaksanaannya terlalu besar bagi pihak yang mengancam, daya tangkal mulai kehilangan kekuatannya.
Di titik inilah, menurut Kayhan, perang dengan Iran menjadi ujian bagi Amerika Serikat. Keunggulan teknologi, tulis koran tersebut, tidak selalu menjamin kemenangan dalam perang modern. Ketahanan rantai pasokan, kemampuan industri mempertahankan produksi, moral pasukan, dan daya tahan masyarakat di dalam negeri ikut menentukan kemampuan sebuah negara melanjutkan perang.
Persediaan senjata konvensional Amerika Serikat yang disebut mengalami tekanan selama konflik menjadi salah satu persoalan yang disoroti. Kondisi tersebut, menurut Kayhan, mempersempit ruang Washington untuk terus mengandalkan ancaman konvensional terhadap Iran.
Analisis itu kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan pemikiran John Mearsheimer mengenai perbedaan fungsi senjata konvensional dan senjata nuklir. Dalam pembacaan Kayhan, kekuatan konvensional tetap menjadi alat utama untuk membangun daya tangkal aktif dan menjaga keseimbangan ketika krisis berubah menjadi konflik terbuka.
Baca juga: Seperempat Armada MQ-9 AS Hilang dalam Perang dengan Iran
Senjata nuklir memiliki fungsi berbeda. Kepemilikannya dapat mencegah lawan mengambil langkah tertentu, tetapi penggunaannya membawa konsekuensi politik dan militer yang jauh lebih luas. Karena itu, senjata nuklir tidak dapat dengan mudah menggantikan rudal dan persenjataan konvensional yang digunakan langsung di medan perang.
Senjata Nuklir Bukan Jawaban
Untuk menjelaskan risiko penggunaan senjata nuklir dalam konflik konvensional, Kayhan merujuk pada latihan militer NATO bernama Carte Blanche pada 1955.
Saat itu, di tengah kekhawatiran terhadap kekuatan konvensional Pakta Warsawa, NATO mensimulasikan penggunaan senjata nuklir taktis untuk menghentikan serangan Soviet ke Jerman Barat.
Hasil simulasi menunjukkan konsekuensi yang sangat besar. Penggunaan puluhan hulu ledak nuklir taktis diperkirakan dapat menewaskan lebih dari 1,7 juta orang, melukai jutaan lainnya, dan menyebabkan kehancuran besar di Jerman Barat.
Bagi Kayhan, pelajaran dari simulasi tersebut terletak pada paradoksnya. Senjata yang dimaksudkan untuk mempertahankan wilayah sekutu justru berpotensi menghancurkan wilayah yang hendak dipertahankan.
Pengalaman itu kemudian menjadi bagian dari perkembangan doktrin nuklir NATO. Senjata nuklir pada akhirnya lebih dipandang sebagai instrumen pencegahan terhadap serangan nuklir, bukan pengganti langsung kekuatan konvensional dalam perang terbuka.
Taiwan dan Batas Pilihan Nuklir
Pertanyaan serupa, menurut Kayhan, kini muncul dalam perhitungan Amerika Serikat di Asia Timur, terutama terkait Taiwan dan China. Analisis tersebut mempertanyakan apakah Washington dapat mengandalkan senjata nuklir untuk menutup kelemahan daya tangkal konvensionalnya.
China sendiri merupakan kekuatan nuklir. Penggunaan senjata nuklir terhadap negara tersebut, menurut Kayhan, berisiko memicu respons serupa dan membuka eskalasi yang sulit dikendalikan.
Pelajaran Carte Blanche juga dinilai relevan dalam persoalan Taiwan. Jika konflik berlangsung sebagai perang konvensional, penggunaan senjata nuklir oleh Amerika Serikat dapat menimbulkan risiko terhadap wilayah yang justru ingin dipertahankan.
Baca juga: Bom Amerika Jadikan Pesta Pernikahan di Iran Tragedi Berdarah
Dalam pandangan Kayhan, pilihan tersebut tidak hanya mengandung risiko militer, tetapi juga dapat merusak kredibilitas strategis Washington di tingkat internasional.
Masalah Bermula dari Pabrik Senjata
Menurut Kayhan, persoalan Amerika Serikat tidak terlepas dari perkembangan industri pertahanannya setelah runtuhnya Uni Soviet. Dengan berakhirnya Perang Dingin, Washington disebut mengurangi sebagian kapasitas produksi senjata konvensional karena keyakinan bahwa dunia akan berada dalam dominasi tunggal Amerika Serikat.
China dan Rusia, sebaliknya, disebut terus mempertahankan dan mengembangkan kapasitas produksi pertahanan mereka. Perbedaan kemampuan industri tersebut, menurut Kayhan, kini semakin terasa ketika kebutuhan terhadap persenjataan konvensional meningkat dalam perang berkepanjangan.
Analisis itu juga menyinggung upaya pemerintahan Trump mempertahankan citra kekuatan Amerika Serikat di tengah tekanan terhadap persediaan persenjataan konvensional. Kayhan turut merujuk laporan The Washington Post yang disebut memuat peringatan sejumlah komandan senior Amerika kepada Pentagon mengenai dampak berlanjutnya perang terhadap kemampuan pangkalan-pangkalan Amerika di kawasan lain dalam menjalankan tugas dan mempertahankan daya tangkal.
Jika tekanan terhadap kemampuan militer tersebut terus berlanjut, dampaknya, menurut Kayhan, tidak hanya akan dirasakan di Asia Barat. Perhitungan strategis di Asia Timur, Eropa, dan kawasan lain juga dapat berubah.
Di tengah perubahan itu, muncul pertanyaan yang semakin sulit dihindari oleh para sekutu Washington, yaitu seberapa jauh Amerika Serikat masih mampu mempertahankan komitmen keamanannya terhadap negara lain ketika kekuatan konvensionalnya sendiri mendapat tekanan dalam perang.
Bagi Kayhan, perang dengan Iran telah membawa persoalan tersebut keluar dari ruang teori dan menempatkannya di medan ujian yang nyata. Keyakinan terhadap keunggulan konvensional Washington, menurut analisis koran tersebut, kini menghadapi tekanan yang tidak mudah dijawab dengan ancaman atau persenjataan nuklir. Dalam dunia yang semakin multipolar, perang ini, menurut Kayhan, dapat menjadi salah satu ujian yang memaksa Amerika Serikat menilai kembali batas kekuatan militernya. []
Baca juga: Dunia Menyaksikan Amerika di Tepi Jurang, Kata Ketua Parlemen Iran

