Internasional
CNN Bongkar Campur Tangan Pentagon terhadap Pilot F-15 yang Jatuh di Iran

Media ABI, 13 September 2026 – CNN mengungkap keterlibatan pejabat politik Pentagon dalam mendorong dua awak jet tempur F-15 Amerika Serikat yang ditembak jatuh di atas Iran pada April lalu untuk tampil dalam program televisi “60 Minutes”. Wawancara itu membahas operasi penyelamatan setelah pesawat mereka jatuh.
Baca juga: Rudal dan Drone Yaman Hantam Pangkalan Saudi di Najran
CNN yang dikutip IRNA pada Sabtu (12/9/2026) waktu setempat melaporkan, Menteri Perang AS Pete Hegseth bersama sejumlah pejabat politik di kantornya meminta kedua awak tersebut mengikuti wawancara. Tiga sumber yang mengetahui persoalan itu mengatakan keduanya semula ragu untuk tampil. Salah satu pilot bahkan khawatir permintaan tersebut dapat berubah menjadi perintah.
Kekhawatiran juga muncul dari kalangan militer karena wawancara itu berpotensi membuka informasi mengenai operasi penyelamatan yang bersifat rahasia. Menurut dua sumber CNN, pejabat politik di kantor Hegseth tetap meminta kedua awak F-15 hadir dalam program tersebut.
Persoalan itu kemudian dibicarakan langsung dengan Hegseth. Salah satu pilot yang oleh CNN diberi nama samaran “Bravo” akhirnya bersedia tampil, sementara pilot lainnya, “Alpha”, memilih tidak ikut dalam program “60 Minutes”.
Pentagon tidak mengungkap identitas kedua personel tersebut kepada publik. CNN juga belum dapat memastikan identitas mereka secara independen untuk meminta keterangan langsung.
Menurut CNN, keterlibatan kantor Hegseth menunjukkan adanya upaya untuk membentuk pemberitaan mengenai perang dengan Iran. Pentagon disebut menghadapi tekanan untuk menunjukkan hasil positif dari perang yang berlangsung panjang dan mulai kehilangan dukungan publik.
Baca juga: Biaya Perang Membengkak, AS Batasi Pengawalan Kapal Tanker di Hormuz
Keterlibatan Hegseth dalam persiapan wawancara juga dinilai tidak biasa. CNN menyebut perannya jauh lebih langsung dibanding keterlibatan yang lazim dilakukan seorang menteri perang dalam produksi sebuah program televisi.
Juru bicara senior Pentagon Sean Parnell membantah laporan tersebut. Kepada CNN, Parnell menyebut cerita itu sebagai kebohongan dan mengatakan keputusan untuk mengikuti wawancara sepenuhnya berada di tangan masing-masing pilot.
Parnell juga mengatakan Pentagon memastikan wawancara tidak membocorkan informasi mengenai keamanan operasi, sumber daya maupun metode yang digunakan dalam misi penyelamatan.
Persoalan utama dalam laporan CNN bukan hanya keputusan seorang pilot untuk tampil di televisi. Yang menjadi sorotan adalah keterlibatan pejabat politik Pentagon dalam proses tersebut, sementara Pentagon sendiri membantah adanya paksaan dan menyatakan kedua pilot bebas menentukan pilihan. []
Baca juga: 11 Tahun Saudi dan UEA Bangun Kekuatan di Pesisir Yaman, Kini Runtuh







