Internasional
Perang Hari Ini sebagai Pertarungan Kehendak dan Ketahanan

Media ABI, 6 September 2026 – Kepala Staf dan Wakil Koordinator Angkatan Darat Republik Islam Iran, Laksamana Muda Habibollah Sayyari, mengatakan perang saat ini tidak hanya berlangsung melalui kekuatan persenjataan dan teknologi. Menurutnya, kemampuan mempertahankan kehendak dan bertahan menghadapi kesulitan menjadi faktor penting dalam menentukan hasil sebuah konflik.
“Perang hari ini adalah perang kehendak dan ketahanan dalam menghadapi kesulitan. Dalam bidang ini, kami telah bertindak dengan sangat berhasil. Kita harus bangga terhadap diri sendiri dan mengangkat kepala,” kata Sayyari dalam pertemuan para perekrut terbaik Angkatan Darat Iran di Markas Angkatan Darat Republik Islam Iran, seperti dilaporkan Mehr pada Minggu (6/9/2026).
Baca juga: Jet Tempur Saudi Bombardir Pasukan Pro-Riyadh di Taiz, Puluhan Tewas dan Terluka
Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah komandan dan pejabat militer. Dalam sambutannya, Sayyari menaruh perhatian pada persoalan sumber daya manusia. Menurutnya, manusia merupakan aset terpenting sebuah organisasi karena kualitas orang-orang yang berada di dalamnya menentukan kemampuan institusi untuk tumbuh dan menjalankan tugasnya. Dalam lingkungan militer, kata Sayyari, peningkatan kemampuan tempur juga bertumpu pada kualitas personel.
“Manusia yang bersih dan beriman dapat membawa kita menuju tujuan,” ujarnya.
Menurut Sayyari, Angkatan Darat Iran selama ini memiliki sumber daya manusia yang memainkan peran penting dalam berbagai masa. Personel tersebut, katanya, menjadi salah satu kekuatan utama Iran selama delapan tahun Pertahanan Suci ketika menghadapi musuh yang dipersenjatai secara penuh. Di tengah tekanan sanksi, mereka juga memungkinkan Angkatan Darat Iran tetap menjalankan tugasnya dan memenuhi berbagai kebutuhan untuk melaksanakan misi mempertahankan keutuhan wilayah negara dan Revolusi Islam.
Karena itu, Sayyari menilai pembentukan sumber daya manusia berkualitas harus dimulai dari kemampuan menemukan orang-orang yang memiliki potensi. Angkatan bersenjata, menurutnya, perlu mampu mengenali dan menarik individu yang memiliki pengetahuan serta kemampuan yang dibutuhkan. Proses identifikasi bakat menjadi bagian penting dalam menyiapkan personel sesuai kebutuhan institusi.
Dalam kesempatan itu, Sayyari juga menyinggung sejumlah konflik yang dihadapi Iran. Menurutnya, keberhasilan Iran dalam perang-perang terakhir dapat dilihat dari kegagalan musuh mencapai tujuan yang telah direncanakan.
“Kami berhasil dalam perang-perang terakhir. Alasannya adalah ketidakmampuan musuh mencapai tujuan yang telah direncanakan,” katanya.
Baca juga: IRGC Serang Kapal Induk dan Kapal Perusak AS
Sayyari kemudian mengingatkan pengalaman perang delapan tahun antara Iran dan Irak. Menurutnya, pada awal perang, Irak menyatakan akan merebut Khorramshahr dalam satu hari dan mencapai Lapangan Azadi di Teheran dalam tujuh hari. Namun, pasukan Irak akhirnya tertahan selama 34 hari di Khorramshahr.
Bagi Sayyari, perkembangan tersebut memperlihatkan kegagalan strategi yang disusun musuh. Pengalaman itu, menurutnya, memiliki kaitan dengan situasi konflik saat ini, ketika Iran menghadapi pihak yang memiliki akses terhadap berbagai teknologi dan persenjataan modern dunia.
Mengutip Mehr, Sayyari kembali menegaskan bahwa perang saat ini merupakan pertarungan kehendak dan kemampuan menanggung kesulitan. Ia menilai Iran telah berhasil dalam menghadapi bentuk konflik tersebut.
“Kita harus memahami bahwa hari ini kita berhadapan dengan pihak yang memiliki seluruh peralatan dan teknologi dunia. Kita harus mengangkat kepala karena mampu berdiri menghadapi musuh seperti itu,” kata Sayyari. []
Baca juga: Bom Amerika Jadikan Pesta Pernikahan di Iran Tragedi Berdarah







