Internasional
Dunia Menyaksikan Amerika di Tepi Jurang, Kata Ketua Parlemen Iran

Media ABI, 4 September 2026 – Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf melontarkan kritik tajam terhadap Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent dengan menyoroti tiga perkembangan yang, menurutnya, mencerminkan tekanan yang semakin berat terhadap ekonomi Amerika Serikat. Tiga indikator yang disorot adalah lonjakan harga minyak berjangka, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah, dan menyusutnya cadangan minyak strategis AS.
Menurut laporan Kantor Berita Mehr pada Jumat (4/9/2026), Ghalibaf menyampaikan kritik tersebut melalui sebuah unggahan di media sosial. Ia meminta Bessent memperhatikan pergerakan harga minyak berjangka Oman, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, serta jumlah cadangan minyak strategis negara itu.
Baca juga: Kedutaan Iran Mengutuk Serangan AS, Sebut Puluhan Warga Sipil Jadi Korban
Dalam unggahannya, Ghalibaf menyindir upaya Bessent memengaruhi harga minyak berjangka. Ia juga menyinggung pelepasan minyak dari Cadangan Minyak Strategis Amerika Serikat dalam jumlah besar dan risiko yang, menurutnya, dapat muncul jika fasilitas penyimpanan tersebut terus dikosongkan.
Imbal Hasil Obligasi Belum Terkendali
Tekanan yang disorot Ghalibaf juga terlihat di pasar surat utang Amerika Serikat. Dalam penjelasan yang menyertai unggahannya, Bessent disebut melakukan pembelian kembali surat utang pemerintah AS untuk menekan imbal hasil obligasi jangka panjang, terutama obligasi bertenor 10 tahun, dengan harapan dapat menurunkan biaya pinjaman menjelang pemilihan paruh waktu.
Namun, pasar disebut belum merespons intervensi tersebut sesuai harapan. Imbal hasil obligasi tetap tinggi dan dalam beberapa kasus bahkan meningkat. Sejumlah pengkritik, termasuk tokoh lama Wall Street Stanley Druckenmiller, menilai langkah tersebut tidak efektif.
Menurut pandangan yang disampaikan dalam penjelasan unggahan itu, kondisi pasar surat utang Amerika Serikat berada dalam situasi yang semakin berisiko.
Cadangan Minyak Strategis Terus Menyusut
Pemerintah Donald Trump, menurut penjelasan yang menyertai unggahan Ghalibaf, telah melepaskan minyak dari Cadangan Minyak Strategis dalam jumlah besar melalui skema pertukaran darurat akibat perang dengan Iran dan gangguan di Selat Hormuz.
Jumlah cadangan disebut telah turun ke tingkat terendah sejak awal dekade 1980-an. Sejumlah laporan menempatkannya mendekati atau di bawah 300 juta barel, bahkan mendekati tingkat yang disebut sebagai batas berisiko secara hukum, sekitar 252 juta barel.
Baca juga: Baghaei: Iran Hanya Bidik Sasaran Militer, AS Serang Target Sipil
Minyak dalam cadangan strategis Amerika Serikat disimpan di gua-gua garam bawah tanah di Texas dan Louisiana. Salah satu fasilitas utama berada di Bryan Mound. Pengosongan cadangan secara berlebihan, menurut penjelasan tersebut, dapat menimbulkan risiko terhadap tekanan hidrolik, stabilitas dinding garam, integritas sumur, hingga kapasitas penyimpanan.
Sejumlah laporan ahli sebelumnya juga disebut telah menyoroti persoalan kualitas pekerjaan, perubahan bentuk sumur, dan risiko pada sejumlah fasilitas, termasuk Bryan Mound. Pengurangan cadangan yang terlalu jauh dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko terhadap struktur penyimpanan dan mengurangi kapasitasnya secara permanen.
Harga Minyak Berjangka Melampaui 100 Dolar
Di tengah persoalan pasar obligasi dan menyusutnya cadangan minyak, Ghalibaf juga menyinggung perkembangan harga minyak berjangka. Sejumlah pelaku perdagangan minyak, menurut penjelasan unggahan tersebut, sebelumnya berharap sinyal dari Bessent dapat membantu menekan harga minyak di pasar berjangka.
Namun, harga minyak berjangka Oman dan Uni Emirat Arab yang dipandang mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kondisi jalur pelayaran alternatif di Selat Hormuz disebut telah melampaui 100 dolar dalam beberapa hari terakhir.
Baca juga: Investigasi Reuters: Rudal Amerika Hantam Langsung Pesta Pernikahan di Iran
Pemerintah Amerika Serikat, menurut penjelasan itu, sebelumnya berharap harga minyak berjangka kedua negara dapat turun melalui upaya memengaruhi sentimen pasar dan membangun keyakinan mengenai pembukaan kembali jalur selatan Selat Hormuz. Perkembangan pasar, menurut Ghalibaf, justru menunjukkan tekanan yang belum mereda.
Tingginya harga minyak berjangka, menyusutnya cadangan minyak strategis, dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, menurut Ghalibaf, telah menciptakan persoalan yang semakin berat bagi Bessent dan pemerintahan Trump. Ia menilai pemerintah Amerika Serikat berusaha menutupi kondisi tersebut melalui retorika mengenai Iran, sementara perkembangan sejumlah indikator ekonomi menunjukkan gambaran yang berbeda.
Bagi Ghalibaf, ketiga indikator itu menjadi dasar kritiknya terhadap Bessent. Dalam unggahannya, Ketua Parlemen Iran tersebut menggambarkan situasi Amerika Serikat sebagai tontonan yang kini disaksikan dunia, dengan Amerika berada di tepi jurang. []
Baca juga: Pengamat: Serangan AS dan Israel Justru Satukan Rakyat Iran







