Bincang-Bincang
Doktrin Baru Pertahanan Iran: Tanpa Batasan dalam Menghadapi Musuh

Media ABI, 7 November 2026 — Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menyatakan bahwa doktrin baru Republik Islam Iran bertumpu pada pencegahan dan upaya membuat musuh menyesal. Ia menegaskan Iran tidak akan ragu menggunakan seluruh kapasitas ofensif dan defensif yang dimilikinya.
Baca juga: Penyadapan Presiden: Operasi Personal atau Jejak Strategi di Lingkar Kekuasaan?
“Tanpa mempertimbangkan batasan apa pun, kami akan menggunakan seluruh kapasitas ofensif dan defensif kami. Inilah perintah yang telah diterima angkatan bersenjata,” kata Azizi dalam wawancara dengan wartawan politik Kantor Berita Republik Islam Iran (IRNA), Jumat, 6 November 2026.
Azizi mengatakan Republik Islam Iran, angkatan bersenjata, dan seluruh unsur pertahanannya berada dalam kesiapan penuh menghadapi berbagai skenario, termasuk setiap tindakan yang tidak diperhitungkan atau langkah apa pun yang mungkin dilakukan musuh.
Anggota parlemen dari daerah pemilihan Shiraz itu menambahkan bahwa jika musuh ingin mempertahankan sisa keberadaannya di Timur Tengah, mereka semestinya tidak melakukan kesalahan perhitungan ataupun salah membaca situasi. Menurutnya, Republik Islam Iran, rakyat Iran, dan angkatan bersenjatanya telah mempersiapkan seluruh kapasitas untuk membuat musuh menyesal dan menghadapi tindakan yang lebih menyakitkan daripada perang 12 hari dan 40 hari.
Menegaskan kesiapan penuh Iran, Azizi mengatakan bahwa setelah perang 40 hari, Republik Islam Iran telah menyiapkan kapasitas yang signifikan dalam bidang peralatan modern, kemampuan, serta produksi ofensif dan defensif. Kapasitas tersebut, katanya, dapat digunakan jika diperlukan.
Azizi melanjutkan bahwa Iran tidak memiliki batasan geografis dalam upaya mempertahankan keutuhan wilayah dan membuat musuh menyesal, termasuk dalam menghadapi infrastruktur, pangkalan militer, dan peralatan militer.
“Setiap kepentingan Amerika Serikat di kawasan akan menghadapi tindakan tegas dan membuat mereka menyesal dari Republik Islam Iran,” ujarnya.
Baca juga: Velayati: Iran Arsitek Utama Tatanan Baru Kawasan
Menurut Azizi, hal tersebut telah disampaikan dan berulang kali ditegaskan. Ia mengatakan Amerika Serikat semestinya telah memahami, setelah perang 40 hari, bahwa ancaman Iran merupakan ancaman yang kredibel.
Doktrin Baru Iran: Tanpa Batasan dalam Menghadapi Musuh
Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran itu menegaskan bahwa berdasarkan doktrin baru dan perintah Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Iran, mulai sekarang tidak akan ada batasan ataupun pertimbangan dalam menghadapi musuh.
“Karena itu, terhadap musuh yang bertindak melawan kepentingan rakyat kami, tanpa diragukan lagi harus dilakukan tindakan yang tegas dan membuat mereka menyesal,” kata Azizi.
Ia menjelaskan bahwa pada masa lalu, faktor geografis menjadi salah satu keterbatasan Iran. Musuh memanfaatkan, bahkan menyalahgunakan, sejumlah posisi geografis tertentu untuk kepentingannya. Namun, menurut Azizi, kini Iran berpandangan bahwa di titik mana pun, lokasi mana pun, dan kapan pun musuh bertindak terhadap kepentingan Iran, mereka harus dihadapi secara langsung.
“Kami tanpa mempertimbangkan batasan apa pun akan menggunakan seluruh kapasitas ofensif dan defensif kami. Inilah perintah yang telah diterima angkatan bersenjata, sementara tugas kami adalah memberikan dukungan kepada angkatan bersenjata di berbagai bidang,” tegasnya.
Azizi menegaskan bahwa doktrin baru Republik Islam Iran tidak hanya bertumpu pada pencegahan, tetapi juga pada upaya membuat musuh menyesal. []
Baca juga: Reuters: Iran Mengubah Pemerintahan Amerika







