Internasional
IRGC: Negara atau Kekuatan Mana pun yang Membantu AS Target Sah Iran

Media ABI, 6 November 2026 — Iran memperingatkan bahwa respons terhadap agresi baru tidak akan dibatasi oleh wilayah geografis. Negara atau kekuatan mana pun yang membantu Amerika Serikat dalam serangan terhadap Iran dapat menjadi sasaran yang dianggap sah oleh Republik Islam.
Peringatan itu disampaikan Brigadir Jenderal Ali Bilali, penasihat senior Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), dalam wawancara khusus dengan jaringan televisi Al-Alam pada Kamis malam (5/11/2026). Bilali memaparkan perubahan strategi rudal Iran setelah perang-perang terakhir, perkembangan industri pertahanan dalam negeri, kemampuan mempertahankan kapasitas operasional di tengah serangan udara, serta konsekuensi yang mungkin muncul jika Iran kembali menghadapi agresi. Menurutnya, pengalaman perang telah memperkuat strategi Iran yang bertumpu pada kemandirian produksi rudal, drone, dan sistem pertahanan udara, disertai penyebaran infrastruktur militer dan kesiapan menghadapi berbagai skenario konflik.
Kemandirian rudal sebagai fondasi daya tangkal
Bilali mengatakan Iran memilih mengembangkan persenjataan yang dapat diproduksi sendiri karena ketergantungan pada senjata impor dapat menjadi kelemahan strategis dalam perang berkepanjangan. Menurutnya, sebuah sistem persenjataan tidak akan memberikan daya tangkal maksimal apabila produksi dan pemeliharaannya bergantung pada pihak lain. Ia mencontohkan pesawat tempur sebagai salah satu jenis persenjataan yang, menurut dia, tidak dapat sepenuhnya menjadi basis kekuatan strategis apabila Iran masih bergantung pada negara lain untuk meningkatkan produksinya.
Baca juga: Iran Tegaskan Selat Hormuz Tak Dibuka sebelum Tujuh Syarat Dipenuhi AS
Berbeda dengan itu, Bilali menyebut industri rudal Iran telah sepenuhnya dikembangkan di dalam negeri. Ia mengatakan kebutuhan produksi rudal, drone, dan sistem pertahanan udara kini dapat dipenuhi secara domestik. “Karena industri tersebut telah dibumikan,” kata Bilali, kekuatan pertahanan Iran tidak lagi bergantung pada variabel eksternal. Ia menilai kondisi tersebut menjadi salah satu faktor utama yang memungkinkan Iran mempertahankan daya tangkalnya.
Pangkalan rudal disebar untuk menjaga kesinambungan operasi
Bilali mengatakan Iran telah membangun jaringan pangkalan rudal yang tersebar dari timur laut hingga barat laut dan tenggara negara tersebut. Menurutnya, pangkalan-pangkalan itu memiliki jangkauan yang memungkinkan Iran mengancam sasaran Israel maupun pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan.
Ia menjelaskan bahwa fasilitas tersebut dibangun di lokasi yang terlindungi dan sebagian berada di bawah tanah sehingga sulit dihancurkan dengan senjata konvensional. Struktur itu, menurut Bilali, memungkinkan personel menyiapkan persenjataan, melaksanakan peluncuran, lalu kembali ke bagian dalam fasilitas. Penyebaran infrastruktur tersebut merupakan bagian dari strategi untuk mempertahankan kesinambungan operasi. Dengan fasilitas yang tidak terpusat pada satu lokasi, serangan terhadap satu titik, menurutnya, tidak otomatis menghentikan kemampuan rudal Iran.
Strategi serupa diterapkan pada fasilitas produksi dan penyimpanan persenjataan. Bilali mengatakan infrastruktur pertahanan Iran tersebar di berbagai wilayah sehingga tidak mudah dilumpuhkan melalui serangan terhadap satu lokasi. Ia menegaskan bahwa bagian utama produksi militer Iran ditempatkan di lokasi yang aman dan tetap dapat beroperasi ketika terjadi serangan. Menurutnya, kapasitas produksi dalam negeri bahkan telah berkembang hingga Iran membutuhkan lokasi tambahan untuk menyimpan hasil produksi persenjataannya.
Iran mampu menyerang sasaran bergerak
Salah satu perkembangan yang paling ditekankan Bilali adalah kemampuan rudal Iran untuk menyerang sasaran bergerak. Ia mengatakan Iran telah menggunakan kemampuan tersebut terhadap kapal-kapal Amerika dan menyebut bahwa kapal-kapal AS kemudian menjauh dari wilayah yang berada dalam jangkauan rudal Iran.
Bilali juga menyebut rudal “Khalij Fars” atau “Teluk Persia”, yang menurutnya memiliki jangkauan 500 kilometer dan dirancang untuk menyerang sasaran bergerak. Ia mengatakan rudal tersebut dikembangkan secara khusus untuk menghadapi kapal perang Amerika di kawasan Teluk Persia. Menurut Bilali, kemampuan tersebut menunjukkan keuntungan strategis dari industri pertahanan yang dikembangkan secara mandiri karena Iran dapat menyesuaikan desain dan produksi persenjataan dengan perubahan kebutuhan medan perang tanpa menunggu pasokan dari luar negeri.
Baca juga: Moskow Peringatkan Eropa soal Rencana Misi Militer di Laut Hitam
Bilali soroti keterbatasan pertahanan AS dan Israel
Bilali menilai sistem pertahanan udara Amerika Serikat dan Israel menghadapi tantangan dalam menghadapi rudal Iran. Ia mengatakan sejumlah rudal Iran dapat mencapai kecepatan sekitar tujuh Mach ketika mendekati sasaran. Menurutnya, sistem pencegat yang hendak menghadapi rudal dengan kemampuan tersebut harus memiliki kecepatan yang lebih tinggi.
Iran, lanjut Bilali, juga mengembangkan rudal dengan hulu ledak yang dapat terpecah menjadi beberapa bagian. Menurutnya, mekanisme tersebut dapat membebani sistem pertahanan lawan karena satu rudal dapat menghasilkan banyak sasaran yang harus dihadapi. Ia mencontohkan rudal Khorramshahr dan mengatakan hulu ledaknya dapat melepaskan puluhan submunisi. Dalam skenario tersebut, sistem pertahanan harus mengerahkan sejumlah besar rudal pencegat untuk menghadapi satu serangan.
Bilali juga menyebut rudal Fattah dengan kecepatan hingga 12 Mach. Menurut dia, varian Fattah-2 dilengkapi kemampuan manuver yang membuat lintasannya lebih sulit diprediksi. Ia menjelaskan bahwa rudal yang bergerak dalam lintasan balistik sederhana relatif lebih mudah diperkirakan oleh komputer sistem pertahanan. Karena itu, kemampuan mengubah lintasan menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan Iran untuk mengurangi kemungkinan intersepsi.
Bilali mengaitkan kemampuan tersebut dengan kerusakan yang menurutnya terjadi pada sejumlah fasilitas di Israel, termasuk Institut Weizmann, wilayah Negev, dan Dimona. Ia mengatakan kerusakan tersebut menunjukkan bahwa sebagian rudal Iran berhasil menembus sistem pertahanan Israel.
Belajar dari perang dan mengembangkan teknologi sendiri
Menurut Bilali, pengembangan kemampuan militer Iran juga dibangun melalui studi terhadap berbagai konflik di sekitar negaranya, termasuk perang di Afghanistan dan Irak serta operasi militer Amerika Serikat di kawasan. Pengalaman tersebut, katanya, dipelajari untuk memahami taktik, persenjataan, dan pola operasi pihak lawan, kemudian diuji melalui berbagai latihan militer, termasuk rangkaian latihan “Payambar-e Azam”.
Iran, menurut Bilali, juga memanfaatkan drone lawan yang berhasil dijatuhkan untuk dipelajari melalui proses rekayasa balik. Pengetahuan yang diperoleh dari sistem tersebut kemudian digunakan untuk meningkatkan kemampuan industri drone Iran. Ia menggambarkan perkembangan industri pertahanan Iran sebagai proses bertahap. Pada tahap awal, Iran mempelajari cara kerja dan proses pembuatan suatu senjata. Setelah memahami prinsip dasarnya, para pengembang memasukkan desain dan gagasan mereka sendiri sesuai kebutuhan medan perang.
Baca juga: Yaman kepada Al-Saud: Sekalipun Didukung Seluruh Barat, Kalian Tak Akan Aman
Bilali mengaitkan proses tersebut dengan perkembangan industri rudal Iran yang pada tahap awal banyak belajar dari teknologi yang tersedia sebelum kemudian beralih pada pengembangan desain sendiri. Peran generasi muda, menurutnya, menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Ia mengatakan banyak anak muda Iran tertarik bergabung dengan industri pertahanan setelah melihat perkembangan kemampuan rudal dan drone negaranya.
Rudal dan drone sebagai penyeimbang keunggulan udara
Bilali menilai pengalaman perang menunjukkan pentingnya mengombinasikan rudal dan drone untuk menghadapi keunggulan teknologi serta kekuatan udara Amerika Serikat dan Israel. Iran, katanya, mempelajari pola operasi militer Amerika dan mengembangkan metode yang disesuaikan dengan karakteristik persenjataan lawan. Strategi tersebut kemudian diuji melalui berbagai latihan militer.
Menurut Bilali, perang modern tidak hanya ditentukan oleh kualitas satu jenis senjata, tetapi juga oleh kemampuan mempertahankan produksi, mengubah taktik, dan menyesuaikan persenjataan dengan perkembangan medan perang. Dalam kerangka itu, kemandirian industri pertahanan menjadi bagian dari strategi jangka panjang Iran. Setiap perubahan dalam metode perang lawan, katanya, akan diikuti dengan pengembangan metode baru di pihak Iran.
Biaya pertahanan rudal menjadi persoalan strategis
Bilali juga menyoroti perbedaan biaya antara rudal penyerang dan sistem pertahanan yang digunakan untuk mencegatnya. Menurut dia, Amerika Serikat dan Israel harus mengeluarkan biaya besar untuk mempertahankan sistem pertahanan udara dan menyediakan rudal pencegat. Dalam perang berkepanjangan, ia menilai beban tersebut dapat menjadi persoalan strategis.
Ia menegaskan tidak ada sistem pertahanan yang mampu mencegat seluruh serangan secara mutlak. Menurut Bilali, kemampuan pertahanan udara pada dasarnya bersifat relatif dan selalu memiliki keterbatasan. Karena itu, Iran terus mencari cara untuk mengatasi sistem pertahanan lawan, sementara pihak lawan juga mengembangkan metode baru untuk menghadapi persenjataan Iran.
Pertarungan tersebut, menurut Bilali, merupakan proses yang terus berlangsung. Setiap peningkatan kemampuan satu pihak akan mendorong pihak lain mengembangkan metode tandingan.
Baca juga: Trump Mencari Tumbal atas Perang Iran
Iran dorong AS meninggalkan Asia Barat
Bilali kemudian mengaitkan kemampuan rudal Iran dengan kehadiran militer Amerika Serikat di Asia Barat. Ia mengatakan keberadaan pangkalan militer AS di kawasan membawa konsekuensi ekonomi dan manusia yang besar bagi Washington. Menurutnya, kemampuan rudal Iran membuat pangkalan-pangkalan tersebut berada dalam jangkauan ancaman.
Bilali menyebut jangkauan persenjataan Iran saat ini mencapai sekitar 2.000 kilometer. Dengan jangkauan tersebut, ia menilai tidak ada titik di kawasan yang sepenuhnya aman bagi pasukan Amerika. Ia juga mengutip pandangan mendiang Jenderal Qasem Soleimani mengenai tujuan strategis Iran, yakni bukan semata-mata menyerang individu tertentu, melainkan mendorong Amerika Serikat meninggalkan kawasan.
Respons terhadap agresi baru disebut tak terbatas secara geografis
Pernyataan paling tegas Bilali muncul ketika ia ditanya mengenai kemungkinan respons Iran terhadap agresi baru. Menurutnya, jika respons Iran tidak memiliki batas geografis, cakupannya dapat meliputi berbagai wilayah. Ia secara khusus mengatakan negara atau kekuatan mana pun yang membantu Amerika Serikat dalam serangan terhadap Iran dapat menjadi sasaran yang dianggap sah.
Bilali tidak merinci negara atau sasaran tertentu. Ia mengatakan hal tersebut akan bergantung pada negara mana yang memilih bekerja sama atau berkoordinasi dengan Amerika Serikat. Ketika ditanya mengenai sasaran baru yang disebut telah dimasukkan ke dalam “bank target” Iran, Bilali juga menolak memberikan rincian. Ia mengatakan sasaran-sasaran tersebut baru akan diketahui ketika waktunya tiba.
“Ketika musuh kembali melakukan tindakan bodoh dan memaksakan perang baru kepada kami, sasaran-sasaran itu akan diketahui dunia,” kata Bilali.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana Teheran memandang kemampuan rudal, kemandirian industri pertahanan, dan penyebaran infrastruktur militer sebagai bagian yang saling terkait dalam strategi pencegahan. Bagi Bilali, kemampuan bertahan dan terus beroperasi dalam kondisi perang menjadi dasar untuk memastikan bahwa setiap agresi terhadap Iran akan membawa konsekuensi yang lebih luas bagi pihak yang terlibat. []
Baca juga: Qaani: AS Berhadapan dengan Front Perlawanan dari Hormuz hingga Bab el-Mandeb







