Wawancara
Diplomasi Iran–AS di Tepi Jurang: Antara Ketidakpercayaan dan Pertarungan Narasi
Jakarta, 15 April 2026 — Di bawah pengamanan ketat di Hotel Serena, Islamabad, delegasi Iran dan Amerika Serikat akhirnya duduk dalam satu meja perundingan yang diproyeksikan menentukan arah konflik kawasan, termasuk masa depan jalur vital Selat Hormuz. Urat nadi distribusi energi global. Pertemuan ini berlangsung setelah lebih dari satu bulan eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Perundingan yang digelar pada Sabtu (11/4/2026) itu tidak menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Delegasi Amerika Serikat dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, bersama Jared Corey Kushner dan Steve Witkoff. Sementara itu, delegasi Iran dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi bersama Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf. Perundingan berlangsung intensif selama sekitar 21 jam hingga Minggu.
Media pemerintah Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), menyebut kebuntuan tersebut dipicu oleh tuntutan yang dinilai tidak realistis dari pihak Amerika Serikat.
Berikut perbincangan Chanel Media ABI bersama pengamat geopolitik Timur Tengah, Ustadz Mohammad Jawad, yang dipandu Billy Joe pada 13 April 2026, dengan tema “Iran di Atas Angin! AS Terpojok di Meja Perundingan Islamabad?”, yang mengulas keterkaitan antara dinamika militer dan proses diplomasi.
Tekanan Militer dan Pergeseran Keseimbangan
Ustadz Mohammad Jawad menilai dinamika konflik selama lebih dari 40 hari terakhir telah mengubah peta kekuatan di lapangan secara signifikan. Ia menyebut perkembangan ini berada di luar dugaan banyak pihak, terutama dalam melihat posisi Amerika Serikat dan sekutunya.
“Selama kurang lebih 40 hari ini, posisi Amerika Serikat dan sekutunya sudah kewalahan di berbagai front,” ujarnya. Ia bahkan mengungkapkan bahwa sinyal untuk menghentikan konflik muncul lebih cepat dari yang diperkirakan. “Sebetulnya mereka sudah mengajukan perdamaian sejak hari keempat perang dimulai,” tambahnya.
Salah satu faktor yang dinilai menentukan adalah respons cepat Iran terhadap serangan awal. Dalam waktu singkat, serangan balasan disebut menyasar sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. “Baru 20 menit dari serangan pertama, Iran sudah membalas secara simultan ke berbagai pangkalan Amerika,” kata Ustadz Jawad. Target tersebut mencakup wilayah seperti Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, hingga Arab Saudi, serta titik-titik yang berkaitan dengan Israel.
Menurutnya, dampak serangan ini tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga memengaruhi kemampuan operasional militer lawan. “Pangkalan dan sistem radar mereka mengalami gangguan fatal. Mereka tidak lagi mampu melakukan perlawanan secara optimal,” ujarnya. Dalam pandangannya, kondisi ini menempatkan Iran pada posisi yang relatif lebih kuat di lapangan, meskipun sejumlah analis internasional menilai bahwa keunggulan militer tidak selalu berbanding lurus dengan hasil diplomasi.
Di tengah tekanan tersebut, Iran datang ke meja perundingan dengan sejumlah tuntutan yang disebut sebagai prasyarat, mulai dari pengembalian aset yang dibekukan hingga pengakuan hak pengembangan teknologi nuklir untuk tujuan damai, termasuk penghentian serangan di Lebanon. Namun, seperti lazimnya perundingan dalam situasi konflik, dinamika di meja negosiasi tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan.
Serangan masih dilaporkan terjadi, sementara beberapa isu, seperti Lebanon dalam momen tertentu tampak berupaya dipisahkan dari agenda utama. Menurut Ustadz Jawad, hal ini merupakan bagian dari pola umum dalam negosiasi internasional yang sarat kepentingan dan tekanan.
“Perundingan itu memang penuh tekanan, saling menyerang secara argumentatif,” ujarnya. Ia menilai upaya memisahkan isu Lebanon sebagai langkah strategis yang berisiko memicu respons keras dari Iran. “Kalau poin Lebanon dikeluarkan, Iran siap tidak melanjutkan perundingan,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa posisi tawar dalam perundingan tidak dapat dilepaskan dari realitas di lapangan. “Posisi di meja perundingan bergantung pada posisi di lapangan,” ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa diplomasi, dalam konteks konflik bersenjata, sering kali menjadi kelanjutan dari dinamika kekuatan militer.
Antara “Buying Time” dan Tekanan Waktu
Seiring berlangsungnya proses negosiasi, muncul pula spekulasi bahwa perundingan ini hanya menjadi sarana bagi Amerika Serikat untuk “membeli waktu”, terutama di tengah pergerakan militer yang masih berlangsung di kawasan. Namun, Ustadz Jawad melihatnya dari sudut pandang berbeda.
Ia menilai tekanan waktu justru berada di pihak Amerika Serikat. “Yang tertekan oleh waktu justru Amerika. Dua minggu ini adalah batas bagi mereka,” ujarnya. Menurutnya, jika tidak tercapai kesepakatan dalam rentang waktu tersebut, potensi eskalasi konflik akan kembali terbuka.
“Kalau perang dimulai lagi, mereka tidak siap menghadapi kondisi di lapangan,” tambahnya. Dalam pandangan tertentu, fase ini tidak sekadar menjadi jeda diplomasi, melainkan periode krusial yang dapat menentukan arah konflik selanjutnya, apakah mereda atau justru meningkat.
Di luar dinamika militer dan negosiasi, perundingan ini juga dibayangi oleh krisis kepercayaan yang telah berlangsung lama. Rekam jejak kebijakan luar negeri Amerika Serikat dalam sejumlah perjanjian internasional menjadi salah satu faktor yang memengaruhi persepsi pihak lain.
Menurut Ustadz Jawad, skeptisisme terhadap komitmen tersebut memiliki dasar historis. “Kalau melihat komitmen Amerika, kita pantas skeptis,” katanya. Ia bahkan menilai persoalan ini bersifat sistemik. “Iran tidak percaya kepada Amerika. Bahkan kalau mereka berubah secara simbolik sekalipun, itu tidak cukup,” ujarnya.
Pada saat yang sama, konflik ini juga berkembang sebagai pertarungan narasi di tingkat global. Iran menempatkan dirinya sebagai pihak yang melakukan pertahanan, bukan sebagai pihak yang memulai konflik. “Iran tidak mencari perang. Mereka diserang dan melakukan perlawanan,” kata Ustadz Jawad.
Ia juga menyoroti pendekatan militer yang berbeda, dengan menekankan bahwa Iran menargetkan objek militer secara presisi, sementara serangan terhadap sipil dinilai dilakukan oleh pihak lawan. “Iran menargetkan objek militer secara presisi, sementara serangan ke sipil justru dilakukan pihak lawan,” ujarnya.
Meski demikian, di tingkat internasional, narasi ini tetap menjadi ruang perdebatan, dengan berbagai pihak membawa perspektif dan kepentingan masing-masing.
Menunggu Titik Balik atau Hanya Jeda
Pada akhirnya, perundingan tetap dipandang sebagai bagian dari proses yang tidak terhindarkan dalam dinamika konflik. “Perundingan itu tidak selalu menguntungkan, tapi tetap diperlukan,” ujar Ustadz Jawad.
Dengan tekanan militer yang belum sepenuhnya mereda dan tingkat kepercayaan yang masih rendah, hasil akhir perundingan di Islamabad tetap diliputi ketidakpastian. Ia bisa menjadi titik awal menuju stabilitas, namun tidak tertutup kemungkinan hanya menjadi jeda sebelum konflik memasuki fase berikutnya.
Di Islamabad, diplomasi terus diupayakan, sementara eskalasi kian menguat setiap kali titik temu tampak semakin dekat. []
