Ikuti Kami Di Medsos

Bincang-Bincang

Ustadz Abdillah Baabud: Karbala Jadi Cetak Biru Perlawanan terhadap Tirani Global

Published

on

Ustadz Abdillah Baabud dalam Podcast ABI menegaskan, Karbala bukan sekadar sejarah, melainkan cetak biru perjuangan melawan kezaliman sepanjang zaman.
Ustadz Abdillah Baabud dalam Podcast ABI menegaskan, Karbala bukan semata-mata sejarah, melainkan cetak biru perjuangan melawan kezaliman sepanjang zaman. (Foto: ABI)

Jakarta, 25 Juni 2026 — Tragedi Karbala bukan hanya catatan sejarah Islam, tetapi juga cetak biru perjuangan yang terus hidup dalam setiap zaman. Nilai-nilai yang diperjuangkan Imam Husain dinilai tetap relevan untuk membaca berbagai konflik, ketidakadilan, dan perlawanan terhadap kezaliman di dunia modern.

Pandangan tersebut disampaikan cendekiawan Muslim Ustadz Abdillah Baabud dalam Podcast Ahlulbait Indonesia (Podcast ABI) bertema “Jika Karbala Terjadi Hari Ini, Anda di Pihak Siapa?” yang dipandu Billy Joe dan tayang pada Kamis, 25 Juni 2026.

Apakah Karbala hanya sebuah peristiwa yang berhenti sebagai catatan sejarah lebih dari 13 abad silam? Ataukah Karbala merupakan paradigma perjuangan yang terus hidup dan menemukan bentuknya dalam setiap zaman? Pertanyaan itulah yang menjadi benang merah sepanjang diskusi.

Bagi Ustadz Abdillah, Karbala tidak berhenti sebagai tragedi sejarah. Peristiwa itu merupakan madrasah ideologis yang cetak birunya terus berdenyut dalam dinamika peradaban manusia. Pertarungan antara kebenaran dan kebatilan yang terjadi di Padang Karbala, menurut pandangannya, terus berulang dalam berbagai bentuk, termasuk dalam pertarungan antara kekuatan yang dianggapnya merepresentasikan imperialisme Amerika Serikat dan zionisme Israel dengan poros perlawanan.

Baca juga: Pendeta Dix Pasande, Palestina, dan Jalan Kemanusiaan Lintas Agama: “Saya Melihat Arba’in sebagai Panggilan Universal”

Pembahasan diawali dari perspektif sejarah Islam. Ustadz Abdillah menyebut pembantaian terhadap Imam Husain sebagai noda paling kelam dalam sejarah umat Islam karena belum pernah terjadi pada umat para nabi sebelumnya.

“Sepanjang sejarah para nabi, tidak ada umat yang telah menyatakan beriman kepada nabinya, lalu melakukan pembantaian terhadap keluarga nabi tersebut. Ini hanya terjadi pada umat Muhammad, bahkan hanya sekitar 50 tahun setelah wafatnya Rasulullah.”

Sebagai perbandingan, beliau mengangkat kisah Bani Israil yang hampir membunuh Nabi Harun, saudara Nabi Musa. Namun, peristiwa itu tidak pernah berujung pada pembunuhan, sedangkan umat Islam justru membunuh cucu Nabi Muhammad SAW.

Bertolak dari fakta sejarah tersebut, Ketua DPW ABI Jawa Timur ini menolak anggapan bahwa perjuangan Imam Husain dilandasi kepentingan politik ataupun perebutan kekuasaan.

“Tidak mungkin pemuda surga dan manusia suci yang termasuk Ahlul Kisa serta disucikan dalam Ayat Tathir melakukan pengorbanan luar biasa ini kecuali memang ada sebuah kebatilan besar yang harus dilawan.”

Menurutnya, pengorbanan Imam Husain bersifat total. Harta, keluarga, bahkan bayi yang masih menyusu turut menjadi korban. Karena itu, Karbala menjadi madrasah yang mengajarkan keberanian mempertahankan kebenaran meskipun harus menghadapi pengorbanan terbesar.

Ustadz Abdillah kemudian memetakan pola kekuasaan zalim yang terus berulang sepanjang sejarah. Fir’aun, Namrud, Yazid, hingga zionisme dipandang sebagai representasi karakter penindasan yang sama.

“Mereka adalah pelaku genosida dan pembunuhan massal. Karena itu, di setiap zaman, sebagaimana di hadapan Fir’aun harus ada Musa, di hadapan Yazid harus ada Imam Husain.”

Dari sanalah lahir konsep “Husain-Husain zaman” yang selalu berhadapan dengan “Yazid zaman.”

Ketika ditanya apakah berbagai peristiwa di Iran, Gaza, dan Lebanon dapat dipahami dalam kerangka Karbala, Ustadz Abdillah Baabud menjawab bahwa pola kezaliman tidak pernah berubah.

“Setiap pelaku kezaliman, baik yang masuk dalam Fir’aunisme, Namrudisme, Yazidisme, maupun Zionisme, pada dasarnya memiliki pola yang hampir sama. Mereka ingin menguasai, mempertahankan hegemoni, dan tidak menghendaki adanya kelompok masyarakat yang berani berkata tidak kepada mereka.”

Siapa pun yang menolak tunduk, menurutnya, berpotensi menjadi sasaran penindasan, pembunuhan, hingga pembantaian.

Baca juga: Tekanan Ekonomi Meningkat, Sayyid Naufal Ali: Bertahan Lebih Penting daripada Ekspansi

Bagi Ustadz Abdillah, inti seluruh konflik tersebut adalah perang nilai. Pertarungan antara kebenaran dan kebatilan, antara penindas dan pihak yang tertindas, tidak pernah berakhir dengan sendirinya.

“Allah mampu saja menghilangkan seluruh bentuk kezaliman dan menegakkan keadilan. Namun Allah menghendaki manusia berjuang dan berjihad. Keadilan tidak ditegakkan hanya melalui anugerah, tetapi melalui perjuangan manusia melawan penjajahan.”

Dalam pandangannya, Imam Husain memberikan teladan bahwa pada situasi tertentu perjuangan menuntut keberanian menghadapi seluruh risiko, meskipun berada dalam posisi yang sangat tidak seimbang.

“Imam Husain mengajarkan bahwa dalam situasi tertentu seseorang berada di pihak yang benar ketika berani melawan dengan mengorbankan apa pun yang dimilikinya. Imam Husain hanya bersama 72 orang menghadapi ribuan pasukan bersenjata lengkap.”

Beliau juga mengutip pesan Imam Husain yang menjadi fondasi perjuangan tersebut.

“Kematian dalam kemuliaan adalah kebahagiaan, sedangkan hidup di bawah penindasan orang zalim adalah kesengsaraan dan kehinaan.”

Pada tataran pribadi, pelajaran Karbala memiliki dua prinsip utama. Pertama, jangan pernah menjadi pelaku kezaliman dengan merampas hak atau menghinakan orang lain. Kedua, jangan pernah memilih diam ketika kezaliman terjadi.

“Dalam pesannya, Imam Husain berkata, jadilah kalian penentang bagi orang zalim dan penolong bagi orang yang tertindas. Seorang pengikut ajaran ilahi tidak bisa diam ketika melihat kezaliman terjadi.”

Ustadz Abdillah juga menolak tudingan bahwa perjuangan Iran didorong oleh pragmatisme politik maupun ambisi menguasai kawasan Timur Tengah. Menurutnya, tuduhan tersebut bertentangan dengan makna pengorbanan Imam Husain.

“Kalau Imam Husain berjuang demi kekuasaan, ketika melihat pendukungnya tinggal segelintir tentu beliau akan mundur. Namun beliau tidak mundur. Beliau mengorbankan seluruh yang dimilikinya. Apakah Anda tidak memahami bahwa Imam Husain adalah pemuda surga sebagaimana disabdakan Rasulullah? Apakah masuk akal menuduh seorang pemuda surga mengorbankan dirinya dan bayinya demi kekuasaan?”

Beliau kemudian mengutip alasan Imam Husain menolak berbaiat kepada Yazid.

“Yazid adalah peminum khamar, pembunuh berdarah dingin, dan terang-terangan berbuat fasik. Jika keadaan ini didiamkan, umat Islam akan dipimpin oleh seorang peminum khamar dan pembunuh. Imam Husain tidak mungkin tinggal diam.”

Menurutnya, seruan Imam Husain di Padang Karbala, Hal min nāṣirin yanṣurunā (Adakah penolong yang akan menolong kami?), bukan hanya gema sejarah. Seruan itu terus hidup sebagai panggilan moral bagi setiap generasi.

“Iran, Ansarullah di Yaman, Hizbullah, dan Hashed al-Sha’bi di Irak merupakan lulusan madrasah Karbala. Mereka meneriakkan ‘Labbaika Ya Husain’. Yang berani melawan Amerika sebagai Fir’aun zaman dan Yazid zaman saat ini adalah mereka yang mengucapkan ‘Labbaika Ya Husain’.”

Pada saat yang sama, beliau mengkritik sikap sebagian umat Islam yang memilih diam terhadap penjajahan, bahkan ada yang justru bekerja sama dengan penjajah.

“Itu sama saja dengan merobek Al-Qur’annya sendiri, merobek nilai-nilai yang diajarkan Al-Qur’an. Agama bukan hanya salat dan puasa. Agama juga tidak membolehkan kita diam ketika melihat kezaliman. Jika kita diam, kita bisa kehilangan agama.”

Baca juga: Alamsyah Manu: Bab al-Mandab Memanas, Ujian Berat Kebijakan Luar Negeri Indonesia

Menjelang penutup diskusi, Ustadz Abdillah menyebut dunia sedang berada di sebuah persimpangan sejarah. Pesan Asyura, menurutnya, bukan hanya mengajak umat mengenang tragedi masa lalu, tetapi juga menentukan keberpihakan pada masa kini.

“Jangan sampai Al-Husain terbantai lagi di Padang Karbala. Mengapa Al-Husain terbantai? Karena yang bersama Al-Husain sedikit, sedangkan yang bersama Yazid puluhan ribu. Jika kita tidak mengambil pelajaran, selamanya Husain-Husain zaman akan kembali terbantai di Karbala-Karbala zaman.”

Diskusi ditutup dengan pertanyaan yang menjadi inti seluruh pembahasan.

“Ini adalah momentum. Anda berada di pihak siapa? Bersama Yazid zaman yang membiarkan Imam Husain kembali terbantai, atau bersama Imam Husain yang berjuang agar kekuasaan zalim terkikis dari muka bumi?”

Di sini Karbala tidak lagi dipahami sebagai kisah masa silam, melainkan menjadi kompas moral yang terus menguji keberanian manusia dalam menentukan sikap. Pertanyaan yang lahir di Padang Karbala lebih dari 13 abad silam masih menggema hingga hari ini. Persoalannya bukan lagi siapa yang hidup pada tahun 61 Hijriah, melainkan di pihak mana seseorang berdiri ketika kebenaran dan kezaliman kembali berhadapan. []

Baca juga: #Podcast | Bersama Ustadz Ahmad Hidayat: Indonesia di Board of Peace (BOP) dan Ujian Arah Politik Luar Negeri