Ikuti Kami Di Medsos

Wawancara

Tekanan Ekonomi Meningkat, Sayyid Naufal Ali: Bertahan Lebih Penting daripada Ekspansi

Published

on

Ketua Dewan Pakar Ahlulbait Indonesia (ABI), Sayyid Naufal Ali, saat berbincang dalam podcast bersama Billy Joe mengenai tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Ketua Dewan Pakar Ahlulbait Indonesia (ABI), Sayyid Naufal Ali, saat berbincang dalam podcast bersama Billy Joe mengenai tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat. (Dok. ABI)

Jakarta, 4 Juni 2026 — Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok, menguatnya dolar AS, dan ketidakpastian ekonomi global, masyarakat dan pelaku UMKM dihadapkan pada situasi yang semakin menekan. Bagi banyak keluarga, persoalannya bukan lagi bagaimana meningkatkan pendapatan, melainkan bagaimana memastikan kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi tanpa terjebak dalam tekanan utang dan beban hidup yang terus bertambah.

Baca juga: FGD ABI Jabar Soroti Potensi Ekonomi Komunitas, Dorong Koperasi Jadi Motor Kemandirian

Ketua Dewan Pakar Ahlulbait Indonesia (ABI), Sayyid Naufal Ali, menilai kondisi ekonomi saat ini memang belum dapat disamakan dengan krisis 1998. Namun, tekanan yang dirasakan masyarakat sudah cukup nyata untuk menuntut perubahan cara berpikir dan cara bertindak. Menurutnya, saat ini bukan waktunya berekspansi secara berlebihan, melainkan memasuki survival mode melalui disiplin, efisiensi, kemampuan beradaptasi, dan penguatan solidaritas sosial.

Pandangan tersebut disampaikan Sayyid Naufal dalam podcast bersama Billy Joe pada 25 Mei 2026 dengan tema: “Ekonomi Makin Berat? Saatnya Survival Mode ON”, yang membahas perkembangan ekonomi Indonesia, dampak tekanan global, serta langkah-langkah yang perlu dilakukan masyarakat untuk menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian.

Tekanan Ekonomi Semakin Terasa

Menurut Sayyid Naufal, persoalan ekonomi hari ini tidak cukup dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi nasional semata. Ukuran yang paling nyata adalah apa yang dirasakan masyarakat ketika berbelanja kebutuhan sehari-hari, membayar biaya pendidikan anak, atau memenuhi kebutuhan kesehatan keluarga.

Kenaikan harga beras, cabai, bawang, minyak goreng, daging ayam, serta berbagai kebutuhan pokok lainnya menjadi beban yang langsung dirasakan rumah tangga. Pada saat yang sama, biaya pendidikan, kesehatan, dan berbagai kebutuhan penunjang kehidupan juga terus mengalami peningkatan.

Tekanan tersebut semakin besar karena Indonesia masih bergantung pada berbagai barang impor, termasuk energi dan bahan baku industri. Ketika dolar menguat dan harga komoditas global meningkat, dampaknya akan merambat ke berbagai sektor ekonomi dan pada akhirnya dirasakan langsung oleh masyarakat.

Baca juga: FGD ABI Jabar Soroti Potensi Ekonomi Komunitas, Dorong Koperasi Jadi Motor Kemandirian

Selain faktor domestik, ketidakpastian ekonomi global juga ikut memberi tekanan. Perang Rusia-Ukraina, konflik di Timur Tengah, serta meningkatnya ketegangan ekonomi antarnegara telah menciptakan volatilitas yang memengaruhi harga energi, rantai pasok, dan aktivitas perdagangan dunia.

Meski demikian, Sayyid Naufal menilai fondasi ekonomi Indonesia saat ini masih jauh lebih kuat dibandingkan masa krisis 1998. Sistem perbankan lebih sehat, pengawasan keuangan lebih baik, dan pemerintah memiliki instrumen stabilisasi yang lebih lengkap. Karena itu, kondisi saat ini belum dapat disebut sebagai krisis ekonomi seperti yang terjadi pada 1998. Namun, situasi yang ada tetap perlu diantisipasi secara serius oleh pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.

Menurutnya, pemerintah perlu terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, memperkuat kepercayaan investor melalui kebijakan yang konsisten, menyederhanakan proses perizinan usaha, serta merespons dinamika ekonomi global dengan langkah-langkah yang cepat dan terukur.

Survival Mode: Bertahan Lebih Penting daripada Ekspansi

Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, Sayyid Naufal menilai masyarakat perlu mengubah pola pikir dari ekspansi menuju ketahanan.

Ia menyebut kondisi saat ini sebagai momentum untuk mengaktifkan survival mode, yaitu pola bertahan hidup yang menempatkan efisiensi, kehati-hatian, dan pengelolaan sumber daya sebagai prioritas utama.

Dalam konteks rumah tangga, survival mode berarti mengevaluasi pengeluaran, memprioritaskan kebutuhan dibanding keinginan, menghindari pemborosan, serta menjaga kesehatan arus kas keluarga.

Baca juga: Iqtishaduna Talk 1: Membangun Koperasi sebagai Manifestasi Ekonomi Perlawanan dan Pilar Pemberdayaan Komunitas

Sementara bagi pelaku UMKM, survival mode berarti menjaga likuiditas usaha, mengendalikan biaya operasional, menghindari ekspansi yang berlebihan, dan lebih adaptif terhadap perubahan perilaku pasar.

Menurutnya, situasi saat ini menuntut kemampuan membaca perubahan dengan cepat. Pola usaha yang berhasil beberapa tahun lalu belum tentu masih relevan ketika daya beli masyarakat melemah dan tingkat persaingan semakin ketat.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menutup kesulitan ekonomi dengan pinjaman yang justru berpotensi menciptakan masalah baru. Pinjaman online berbunga tinggi atau utang konsumtif dapat menjadi beban tambahan yang memperburuk kondisi keuangan keluarga maupun usaha.

“Jangan menyelesaikan persoalan sementara dengan menciptakan persoalan yang jauh lebih besar,” ujarnya.

Jangan Panik, Perkuat Solidaritas

Selain efisiensi dan kedisiplinan, Sayyid Naufal menekankan pentingnya menjaga ketenangan dalam menghadapi tekanan ekonomi.

Menurutnya, kepanikan sering kali melahirkan keputusan yang keliru, baik dalam pengelolaan rumah tangga maupun dalam menjalankan usaha. Kepanikan dapat mendorong perilaku konsumtif, penimbunan barang, investasi yang tidak terukur, atau pengambilan utang yang tidak sehat.

Baca juga: Ketua Umum ABI Dorong Ghirah Ekonomi Perlawanan lewat Model Koperasi

Karena itu, masyarakat perlu menghadapi situasi ini dengan kepala dingin, perencanaan yang matang, dan kemampuan mengambil keputusan secara rasional.

Pada saat yang sama, ia menilai solidaritas sosial menjadi salah satu modal penting untuk menghadapi masa-masa sulit. Situasi ekonomi yang berat akan lebih mudah dihadapi jika masyarakat memperkuat kerja sama, memperluas jaringan, serta membangun budaya saling membantu.

Dalam konteks organisasi kemasyarakatan, ABI dinilai dapat berperan melalui edukasi publik, penguatan jaringan ekonomi komunitas, pendampingan UMKM, serta menjembatani peluang kerja sama dan dukungan usaha yang lebih sehat.

“Situasi seperti ini lebih mudah dihadapi bersama-sama daripada sendiri-sendiri. Karena itu silaturahmi, kerja sama, dan semangat saling membantu harus terus diperkuat,” katanya.

Empat Langkah Bertahan di Tengah Ketidakpastian

Di tengah tekanan ekonomi yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, Sayyid Naufal mengajak masyarakat untuk fokus pada langkah-langkah yang realistis dan dapat segera dilakukan.

Baca juga: Jurnal Iqtishaduna Edisi V: Meneguhkan Kemandirian Ekonomi Umat Berbasis Nilai

Pertama, mengendalikan pengeluaran dengan membedakan secara tegas antara kebutuhan dan keinginan, serta mengurangi biaya-biaya yang tidak mendesak.

Kedua, menjaga arus kas keluarga maupun usaha dengan menghindari utang konsumtif, pinjaman berbunga tinggi, dan berbagai keputusan keuangan yang berisiko.

Ketiga, meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar, termasuk membuka peluang usaha baru, memperluas jejaring, dan mencari sumber pendapatan alternatif yang lebih berkelanjutan.

Keempat, memperkuat solidaritas sosial melalui kerja sama, saling membantu, dan membangun dukungan di tingkat keluarga, komunitas, maupun organisasi.

Menurut Sayyid Naufal, dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian, yang mampu bertahan bukan selalu mereka yang paling besar atau paling kaya, melainkan mereka yang paling disiplin, paling adaptif, dan paling cepat menyesuaikan diri terhadap perubahan.

Pada akhirnya, tantangan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh kondisi eksternal yang berada di luar kendali masyarakat, tetapi juga oleh kemampuan setiap individu dan komunitas dalam merespons perubahan secara tepat.

“Yang membuat seseorang jatuh bukan situasi ekonominya, tetapi keputusan yang salah ketika menghadapi situasi yang berat,” pungkasnya. []

Baca juga: Gerakan Cabe Jamu Menguat, ABI Probolinggo Dorong Ekonomi Komunitas