Wawancara
Pendeta Dix Pasande, Palestina, dan Jalan Kemanusiaan Lintas Agama: “Saya Melihat Arba’in sebagai Panggilan Universal”

Catatan Redaksi
Tulisan ini diadaptasi dan dikembangkan dari podcast yang tayang di Kanal ABI bersama Pendeta Dr. Dix Pasande, M.Th., yang membahas isu Palestina dari sudut pandang kemanusiaan, agama, dan geopolitik global. Perbincangan tersebut dipandu oleh Billy Joe dan ditayangkan pada 8 Mei 2026.
Naskah yang tersaji di sini merupakan reportase dan rangkuman atas pokok-pokok gagasan yang disampaikan dalam podcast tersebut. Untuk kepentingan penyuntingan dan keterbacaan, materi telah disusun ulang dalam format artikel jurnalistik sehingga tidak seluruh percakapan dimuat secara utuh.
Pembaca yang ingin mengikuti diskusi secara lengkap dapat menyaksikan tayangan podcast melalui tautan berikut: 🔗 Pendeta Kristen Ini Bela Palestina!
Jakarta, 7 Juni 2026 — Di tengah kuatnya anggapan bahwa dukungan terhadap Israel merupakan konsekuensi logis dari identitas Kristen, Pendeta Dix Pasande justru memilih berdiri di sisi yang berbeda.
Pendeta Gereja Protestan Indonesia Luwu (GPIL), Sulawesi Selatan, itu secara terbuka menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina dan hak-hak rakyat Palestina. Sikap tersebut tidak hanya ia sampaikan dalam berbagai forum dan media sosial, tetapi juga ia tunjukkan melalui keterlibatan langsung dalam berbagai kegiatan solidaritas Palestina, mulai dari aksi Hari Al-Quds hingga kunjungan kemanusiaan ke Lebanon untuk bertemu para pengungsi Palestina.
Baca juga: Jepara dan Arbain: Jalan Cinta dan Perlawanan Menuju Penantian
Pilihan itu tentu tidak selalu mudah.
Di tengah dominannya narasi yang mengaitkan kekristenan dengan dukungan terhadap Israel, Pendeta Dix sadar bahwa pandangannya kerap menimbulkan pertanyaan, bahkan kritik, dari sebagian kalangan. Namun baginya, membela Palestina bukanlah soal memilih kubu dalam konflik agama, melainkan soal keberpihakan kepada nilai-nilai kemanusiaan.
“Yang terjadi sekarang adalah masih adanya satu bangsa yang ingin menganeksasi dan merampas hak-hak bangsa lain. Atas nama apa pun, itu tidak bisa dibenarkan,” ujarnya dalam Podcast ABI bersama Billy Joe.
Bagi Pendeta Dix, persoalan Palestina tidak dapat direduksi menjadi pertentangan antara Islam, Kristen, dan Yahudi. Ia melihatnya sebagai persoalan moral yang menuntut keberanian untuk berpihak kepada keadilan.
Israel Alkitab dan Israel Modern
Salah satu hal yang paling sering ia temui dalam diskusi tentang Palestina adalah kecenderungan mencampuradukkan Israel dalam kitab suci dengan negara Israel modern yang berdiri pada tahun 1948.
Menurutnya, banyak orang Kristen mendukung Israel modern karena menganggapnya sebagai kelanjutan langsung dari Israel yang disebut dalam Perjanjian Lama. Padahal, menurut dia, persoalan tersebut jauh lebih kompleks.
“Sering kali kita salah kaprah ketika menarik benang merah secara historis antara Israel yang ada dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dengan Israel yang didirikan pada tahun 1948,” katanya.
Ia menilai Zionisme modern merupakan gerakan politik yang lahir dalam konteks sejarah modern dan tidak dapat secara otomatis disamakan dengan konsep umat pilihan dalam tradisi keagamaan.
Pendeta Dix mengingatkan bahwa gagasan Zionisme berkembang melalui proses politik yang panjang sejak akhir abad ke-19. Karena itu, menurutnya, mendukung hak-hak rakyat Palestina tidak berarti menolak Alkitab ataupun memusuhi tradisi Yahudi.
Baca juga: Arbain: Ziarah Cinta di Tengah Badai Sejarah
“Menurut saya, Zionisme modern tidak mempunyai korelasi secara langsung dengan konsep umat atau konsep bangsa yang ada dalam Perjanjian Lama,” ujarnya.
Ia juga menyinggung pandangan sejumlah intelektual, termasuk Noam Chomsky, yang melihat dukungan terhadap Zionisme modern tidak dapat dilepaskan dari kepentingan politik dan ekonomi global yang berkembang selama lebih dari satu abad.
Ketika Umat Pilihan Tidak Dipahami Secara Utuh
Perbincangan kemudian beralih pada salah satu argumen yang paling sering digunakan untuk mendukung Israel, yaitu konsep “umat pilihan Tuhan”.
Pendeta Dix tidak menolak konsep tersebut. Namun ia menegaskan bahwa keterpilihan dalam tradisi Alkitab selalu disertai tanggung jawab moral.
“Benar bahwa ada konsep umat pilihan. Tetapi itu bukan sesuatu yang tanpa syarat. Itu bersifat kondisional,” katanya.
Menurutnya, para nabi dalam Perjanjian Lama berulang kali mengingatkan bahwa umat yang dipilih tetap dapat menerima teguran dan hukuman apabila melanggar kehendak Tuhan.
Karena itu, status sebagai umat pilihan tidak bisa dijadikan legitimasi untuk bertindak di luar batas-batas keadilan.
“Privilese itu tidak memberikan legitimasi untuk bertindak semena-mena,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa sejarah keselamatan dalam Alkitab tidak hanya melibatkan bangsa Israel. Banyak tokoh dari bangsa lain yang memperoleh tempat terhormat dalam kisah-kisah keagamaan, menunjukkan bahwa kasih Tuhan tidak dibatasi oleh identitas etnis maupun kebangsaan.
“Di balik sikap yang partikular, ada juga cara Tuhan yang universal yang menyatakan keselamatan kepada semua orang,” ujarnya.
Tidak Semua Kristen Mendukung Israel
Dalam perbincangan tersebut, Pendeta Dix juga menyoroti munculnya anggapan bahwa seluruh umat Kristen berada di belakang Israel.
Baca juga: Arbain Imam Husain: Menjaga Ingatan, Menyelami Kebenaran
Menurutnya, kenyataan di lapangan jauh lebih beragam. Memang terdapat kelompok-kelompok Kristen tertentu, khususnya dalam tradisi Evangelikal Amerika, yang memiliki keyakinan teologis kuat mengenai hubungan antara berdirinya Israel modern dan nubuat keagamaan.
Namun, itu bukan satu-satunya pandangan yang ada dalam kekristenan. “Tidak sedikit juga kalangan Kristen yang memiliki pandangan berbeda dan mendukung hak-hak rakyat Palestina,” katanya.
Ia menyebut banyak gereja di berbagai negara yang secara aktif menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina. Bahkan di Indonesia, berbagai organisasi gereja juga pernah menyatakan dukungan terhadap hak-hak rakyat Palestina untuk hidup merdeka dan bermartabat.
Palestina Juga Kisah Umat Kristen
Bagi Pendeta Dix, salah satu kesalahpahaman terbesar dalam melihat Palestina adalah anggapan bahwa tragedi tersebut hanya menyangkut umat Islam.
Padahal Palestina juga merupakan rumah bagi komunitas Kristen yang telah hidup di sana selama berabad-abad. “Bukan hanya umat Islam yang menderita. Bahkan hampir semua umat beragama juga mengalami penderitaan, termasuk umat Kristen yang mengalami marginalisasi,” ujarnya.
Pengalaman berdialog dengan berbagai tokoh dan komunitas Kristen Palestina semakin memperkuat keyakinannya bahwa persoalan Palestina adalah persoalan kemanusiaan universal.
Baca juga: Ketum ABI: Asyura dan Arbain, Momentum Strategis Penyampaian Risalah Imam Husain a.s.
Karena itu, menurutnya, siapa pun yang peduli terhadap martabat manusia memiliki alasan moral untuk memperhatikan apa yang terjadi di sana.
Harga dari Sebuah Sikap
Keberpihakan kepada Palestina tentu memiliki konsekuensi. Pendeta Dix menyadari bahwa pandangannya tidak selalu diterima semua orang. Ia bahkan mengaku pernah menjadi sasaran gurauan dari rekan-rekannya sendiri karena sikap yang diambilnya.
Namun, konsekuensi yang paling sering ia pikirkan adalah kemungkinan tidak dapat lagi memasuki Israel suatu hari nanti. “Saya sudah siap menerima konsekuensi bahwa mungkin saya tidak akan bisa lagi masuk ke Israel,” katanya.
Bagi sebagian umat Kristen, perjalanan ke Tanah Suci merupakan pengalaman spiritual yang sangat berharga. Namun bagi Pendeta Dix, ada nilai yang lebih besar daripada sekadar kesempatan berziarah.
“Tidak ada capaian yang bisa diperoleh tanpa pengorbanan. Saya meyakini bahwa perjuangan ini adalah perjuangan kemanusiaan,” ujarnya.
Israel Baru dan Makna Ziarah
Menariknya, ketika berbicara tentang kemungkinan kehilangan kesempatan mengunjungi Tanah Suci, Pendeta Dix justru membawa percakapan ke arah yang lebih spiritual. Ia menjelaskan bahwa dalam pemahaman Kristen terdapat konsep “Israel Baru”, yaitu komunitas orang-orang beriman yang hidup dalam perjanjian dengan Tuhan.
Karena itu, menurutnya, makna iman tidak ditentukan semata-mata oleh kedekatan dengan suatu wilayah geografis. “Ziarah tidak selalu soal tempat. Yang lebih penting adalah perjumpaan dengan sesama, empati, dan pembelaan terhadap mereka yang dirampas hak-haknya,” katanya.
Baca juga: Arbain: Pilar Peradaban dan Amanah Sejarah Global
Dalam pandangannya, perjalanan spiritual sejati justru terjadi ketika seseorang mampu menghadirkan kasih, solidaritas, dan keberpihakan kepada mereka yang tertindas.
Menemukan Imam Husain di Jalan Kemanusiaan
Ada bagian lain dari perbincangan yang memperlihatkan sisi personal Pendeta Dix secara lebih mendalam. Ia mengungkapkan keinginannya untuk suatu hari dapat mengikuti Arba’in di Irak, sebuah perjalanan spiritual yang setiap tahun diikuti jutaan orang dari berbagai negara.
Keinginan tersebut sempat tertunda akibat pandemi Covid-19 dan sejumlah kesibukan lainnya. Namun yang menarik baginya bukan hanya besarnya jumlah peserta Arba’in, melainkan keberagaman orang-orang yang hadir di sana.
Ia melihat para pendeta, imam, biksu, brahmana Hindu, dan tokoh-tokoh agama lain berjalan dalam ruang yang sama, dipersatukan oleh penghormatan terhadap nilai pengorbanan dan keadilan. “Saya melihat Arba’in sebagai panggilan universal,” ujarnya.
Ketertarikan itu juga membawanya pada upaya memahami hubungan antara kisah Imam Husain dan penderitaan Yesus Kristus.
Dalam beberapa kesempatan peringatan Asyura, ia bahkan diminta menyampaikan refleksi mengenai keterkaitan kedua tokoh tersebut. “Saya selalu mencoba mencari korelasi antara perjuangan Imam Husain dengan penderitaan Kristus, baik secara teologis maupun spiritual,” katanya.
Bagi Pendeta Dix, keduanya menghadirkan teladan keberanian moral, pengorbanan, dan keberpihakan kepada nilai-nilai kebenaran.
Palestina sebagai Titik Temu
Barangkali di sinilah inti dari seluruh pandangan Pendeta Dix. Dalam berbagai perjumpaan dengan komunitas Muslim, Kristen, Katolik, maupun kelompok-kelompok kemanusiaan lainnya, ia justru menemukan bahwa Palestina sering kali menjadi titik temu yang mempertemukan banyak orang dari latar belakang berbeda.
Ia mengaku menemukan persaudaraan yang tulus dalam berbagai dialog dan kegiatan kemanusiaan bersama komunitas Ahlulbait maupun kelompok-kelompok lain yang memiliki kepedulian serupa terhadap Palestina.
Baca juga: Dari Karbala ke Aqsa: Ritual Arbain Sebagai Maqma Muqawamah
Menurutnya, tragedi kemanusiaan tidak pernah bertanya tentang agama seseorang sebelum menimpa korbannya. Karena itu, respons terhadap tragedi kemanusiaan juga seharusnya melampaui batas-batas identitas.
Mengutip pesan Imam Ali bin Abi Thalib, ia mengatakan: “Kalau seseorang bukan saudaramu dalam agama, maka dia adalah saudaramu dalam kemanusiaan.”
Bagi Pendeta Dix, pesan itulah yang menjelaskan mengapa seorang pendeta Kristen dapat berdiri bersama Muslim, Katolik, Hindu, Buddha, maupun siapa saja yang menolak ketidakadilan.
Di penghujung wawancara, ia mengajak masyarakat untuk tidak membiasakan diri terhadap penderitaan yang berlangsung jauh dari tempat tinggal mereka.
Baginya, tragedi Palestina bukan hanya berita luar negeri yang lewat di layar televisi atau media sosial. Ia adalah pengingat bahwa martabat manusia masih dapat dirampas, bahkan di zaman yang mengaku paling modern sekalipun. “Ada nilai-nilai kemanusiaan yang harus kita perjuangkan bersama. Bagaimana mungkin kita bisa menikmati hidup dengan tenang sementara di tempat lain ada anak-anak yang menderita dan kehilangan nyawa?” ujarnya.
Dari seluruh pandangan yang disampaikannya, terlihat bahwa bagi Pendeta Dix, Palestina bukan sekadar isu geopolitik Timur Tengah atau perdebatan teologis tentang sejarah dan nubuat.
Palestina adalah pertanyaan moral yang ditujukan kepada setiap manusia: apakah identitas agama akan digunakan untuk membangun tembok pemisah, atau justru menjadi jalan untuk memperjuangkan keadilan dan martabat sesama.
Karena pada akhirnya, sebagaimana ia tegaskan, alasan paling mendasar untuk membela Palestina bukanlah identitas, melainkan kemanusiaan.
“Modal dasar utama kita untuk membela Palestina tidak lain dan tidak bukan adalah kemanusiaan.” []
Baca juga: Arbain Momentum Masa Lalu untuk Hari Ini dan akan Datang







