Ikuti Kami Di Medsos

Bincang-Bincang

Kesaksian Alumni Iran: “Syahid Imam Ali Khamenei, Ulama Pemersatu yang Siap Dihina Demi Umat”

Published

on

Ustadz Muhammad Sirojuddin membagikan kesaksian tentang perjumpaannya dengan Imam Ali Khamenei dan tiga warisan yang terus hidup: persatuan, keteguhan pada kebenaran, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dari salat Idulfitri hingga wasiat di kafan, Ustadz Muhammad Sirojuddin mengisahkan perjalanan mengenal Imam Ali Khamenei dari dekat.

Jakarta, 9 Juli 2026 — Larangan menghina kesucian (muqaddasat) saudara sesama Muslim Ahlu Sunnah menjadi salah satu pesan yang ditinggalkan Imam Syahid Sayyid Ali Khamenei dalam wasiat yang ditulis pada kain kafannya. Bagi Ustadz Muhammad Sirojuddin, alumnus Universitas Jamiatul Musthofa yang menempuh pendidikan selama tujuh tahun di Iran, pesan itu bukan hanya wasiat terakhir, melainkan cerminan jalan hidup Imam Syahid Ali Khamenei dalam menjaga persatuan umat Islam.

“Selama ini ada pihak yang menuduh beliau sebagai pemecah belah Islam. Padahal faktanya, beliau adalah ulama pemersatu. Dalam setiap ceramahnya beliau mengatakan, ‘Jika demi kemaslahatan umat dan sistem saya harus tersakiti, maka abaikan saya.'”

Pandangan tersebut disampaikan Ustadz Muhammad Sirojuddin dalam Podcast ABI bertajuk “Kesaksian Langsung Alumni Iran tentang Imam Syahid Sayyid Ali Khamenei“, yang dipandu Billy Joe dan tayang pada Kamis (9/7/2026).

Dalam perbincangan itu, alumnus Universitas Jamiatul Musthofa tersebut mengenang perkenalannya dengan Imam Khamenei sejak awal dekade 2000-an. Ia mengisahkan pengalaman mengikuti salat Idulfitri, prosesi pemasangan serban (amameh) pada 2018, hingga pelajaran hidup yang dipetik dari kesederhanaan, kecintaan Imam Khamenei kepada Al-Qur’an, dan komitmennya menjaga persatuan umat Islam.

Berikut cuplikan perbincangan tersebut.

Awal Mula Keterikatan Hati: Khutbah Idulfitri di Tengah Lautan Manusia

Tahun 2000 menjadi awal perjumpaan Ustadz Muhammad Sirojuddin dengan Imam Ali Khamenei. Saat itu, baru beberapa bulan menempuh studi di Universitas Jamiatul Musthofa, Qom. Kesempatan menghadiri salat Idulfitri yang dipimpin langsung Imam Ali Khamenei di Musala Imam Khomeini, Teheran, menjadi momen yang terus melekat dalam ingatannya.

Baca juga: Wawancara Khusus Media ABI: Ustadz Abdullah Beik Jelaskan Hukum Penundaan Pemakaman Syahid al-Imam Sayyid Ali Khamenei

Kemampuan bahasa Persia ketika itu masih terbatas. Banyak bagian khutbah yang belum dipahami. Namun, pemandangan di hadapan mata meninggalkan kesan yang jauh lebih kuat daripada kata-kata.

“Saat itu kemampuan bahasa Persia saya masih sangat terbatas, tetapi saya melihat pemandangan yang luar biasa. Ribuan, bahkan puluhan ribu masyarakat hadir memenuhi tempat. Lautan manusia berkumpul bukan karena paksaan, melainkan karena kecintaan yang mengakar.”

Dari kejauhan, Imam Ali Khamenei tampak berada di tengah lautan manusia. Yang paling membekas bukan isi khutbah, melainkan penghormatan yang diberikan masyarakat. Sejak hari itu, cara pandang Ustadz Sirojuddin tentang kepemimpinan berubah. Kepercayaan rakyat, menurutnya, tidak dibangun oleh jabatan, tetapi oleh keteladanan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Perjumpaan itu menjadi awal dari sejumlah kesempatan lain untuk mengikuti forum bersama Imam Ali Khamenei, baik bersama pelajar internasional maupun masyarakat umum. Dari setiap pertemuan, ia menangkap kesan yang sama: kesederhanaan, kedekatan dengan rakyat, dan perhatian besar kepada generasi muda.

Serban yang Hampir Tak Terpasang

Kenangan lain yang terus diingat terjadi pada 2018 saat Ustadz Sirojuddin mengikuti Simposium Internasional Jamiatul Musthofa. Bersama sejumlah peserta dari Indonesia, ia mendapat kesempatan menghadiri pertemuan terbatas bersamaImam Ali Khamenei yang diikuti sekitar seratus peserta dari berbagai negara.

Ada satu agenda yang paling dinantikan, yaitu prosesi pemasangan serban (amameh guzari) sebagai bagian dari tahapan pendidikan yang telah diselesaikannya.

Semua persiapan telah rampung. Serban sudah disiapkan. Tinggal menunggu namanya dipanggil. Namun, kesalahan administrasi membuat namanya tidak tercantum dalam daftar peserta. “Saya sudah mendaftar dan siap memakai serban, hanya tinggal prosesi resmi. Namun karena kesalahan administrasi, nama saya tidak masuk daftar. Saya sangat terpukul, bahkan menangis di tempat.”

Di tengah kekecewaan itu, Ustadz Alam Firdaus mengajaknya menemui panitia. Pertemuan singkat tersebut mempertemukan mereka dengan Ayatullah Alireza A’rafi yang kemudian berkenan memasangkan serban itu secara langsung.

Ustadz Sirojuddin tidak lagi memandang peristiwa itu sebagai kesalahan administrasi semata. Ada pelajaran yang terus diingat hingga sekarang. “Apa pun yang sudah kita rencanakan dan siapkan, kalau Allah tidak menghendaki, itu tidak akan pernah terjadi. Sebaliknya, jika Allah menghendaki, jalan akan terbuka.”

Baca juga: Ustadz Abdillah Baabud: Karbala Jadi Cetak Biru Perlawanan terhadap Tirani Global

Peristiwa itu mengajarkannya bahwa ikhtiar dan tawakal tidak pernah dapat dipisahkan. Nilai tersebut pula yang dilihatnya dalam diri Imam Ali Khamenei: teguh menjalankan amanah, tetapi tetap menyerahkan hasil akhirnya kepada kehendak Allah.

Detik-Detik Duka: “Tangan Saya Lemas, Air Mata Tak Terbendung”

Hari-hari menjelang kabar kesyahidan Imam Ali Khamenei dipenuhi kecemasan. Ustadz Muhammad Sirojuddin terus mengikuti perkembangan melalui berbagai media Iran, berharap kabar yang beredar tidak pernah menjadi kenyataan.

Harapan itu berakhir ketika kepastian datang. “Begitu kabar resmi keluar, tangan saya langsung lemas. Saya tidak bisa lagi menerjemahkan konten atau beraktivitas seperti biasa. Air mata terus mengalir. Beberapa hari pertama, saya merasa putus asa.”

Perasaan itu mengingatkannya pada saat menerima kabar kesyahidan Sayyid Hasan Nasrallah. Mula-mula muncul penolakan dan harapan bahwa berita tersebut keliru. Namun setelah kenyataan tak lagi dapat disangkal, kesedihan perlahan berubah menjadi tekad untuk meneruskan nilai-nilai yang telah diperjuangkan. “Beliau telah menunaikan amanahnya. Tugas generasi berikutnya adalah menjaga nilai-nilai yang diperjuangkan selama hidupnya.”

Kesadaran itulah yang kemudian mengantarkannya pada satu pesan yang paling membekas dari Imam Ali Khamenei, sebuah wasiat yang ditulis di atas kain kafannya dan, menurut Ustadz Sirojuddin, merangkum seluruh jalan hidup beliau.

Wasiat di Kafan: Pesan Persatuan hingga Akhir Hayat

Di antara semua kenangan yang dibagikan Ustadz Muhammad Sirojuddin, satu hal paling membekas adalah wasiat Imam Sayyid Ali Khamenei yang ditulis pada kain kafannya. Di atas kain itu tertulis pesan agar tidak menghina kesucian (muqaddasat) saudara sesama Muslim Ahlu Sunnah.

Bagi Ustadz Sirojuddin, wasiat tersebut bukan hanya pesan terakhir, melainkan ringkasan jalan hidup Imam Ali Khamenei. “Selama ini ada pihak yang menuduh beliau sebagai pemecah belah Islam. Padahal faktanya, beliau adalah ulama pemersatu. Dalam setiap ceramahnya beliau mengatakan, ‘Jika demi kemaslahatan umat dan sistem saya harus tersakiti, maka abaikan saya.'”

Komitmen itu, menurutnya, tidak berhenti pada pidato. Ustadz Sirojuddin mengingat penuturan Dr. Rafi’i tentang sebuah majelis Imam Husain. Ketika muncul pernyataan yang berpotensi memicu perpecahan, Imam Ali Khamenei mengingatkan bahwa majelis Aba Abdillah Husain bukan ruang untuk menyindir atau mempermalukan siapa pun. Semua orang harus merasa diterima tanpa takut menjadi sasaran sindiran. “Beliau bisa saja menulis banyak hal, tetapi yang diwariskan justru larangan menghina kesucian saudara sesama Muslim.”

Bagi Ustadz Sirojuddin, pilihan itu menegaskan bahwa persatuan bukan sekadar tema pidato, melainkan prinsip yang dijaga hingga akhir hayat.

Keyakinan itu pula yang, menurutnya, menjelaskan mengapa sebagian orang yang dahulu memusuhi Imam Ali Khamenei akhirnya datang ke prosesi pemakaman untuk menyampaikan penyesalan. “Mereka menangis. Mereka mengaku selama ini termakan isu-isu murahan. Setelah melihat kesederhanaan dan kejujuran beliau, hati mereka runtuh.”

Kesederhanaan yang Menumbuhkan Kepercayaan

Di tengah berbagai tuduhan yang selama ini diarahkan kepada Imam Ali Khamenei, berbagai dokumentasi justru memperlihatkan kehidupan yang jauh dari kemewahan. Rumah sederhana, sandal yang dikenakan sehari-hari, serta keluarga yang tidak memanfaatkan nama besar untuk meraih kedudukan politik menjadi pemandangan yang akrab bagi masyarakat Iran.

Ustadz Sirojuddin juga mengingat kisah tentang menantu Imam Ali Khamenei yang memilih mengajar di sekolah biasa, bukan mengejar jabatan akademik di universitas ternama. “Menantu beliau lebih memilih menjadi guru di sekolah biasa, bukan di universitas ternama. Itu menunjukkan integritas yang tidak bisa dibuat-buat.”

Baginya, kesederhanaan bukanlah pencitraan, melainkan cara hidup yang dijalani secara konsisten. Dari kehidupan seperti itulah tumbuh kepercayaan masyarakat.

Satu ungkapan Imam Ali Khamenei terus melekat dalam ingatannya. “Benteng terkuat itu bukan rudal pencegat. Benteng terkuat adalah hesari mardum, benteng rakyat.”

Menurut Ustadz Sirojuddin, jutaan orang yang memadati prosesi pemakaman menjadi gambaran nyata kuatnya ikatan antara seorang pemimpin dan rakyatnya.

Sisi Kemanusiaan yang Sulit Dilupakan

Bukan hanya kesederhanaannya yang membekas. Kepedulian Imam Ali Khamenei kepada masyarakat juga meninggalkan kesan mendalam.

Ketika gempa Bam maupun banjir melanda sejumlah wilayah Iran, beliau tidak berhenti pada laporan dari Teheran. Beliau turun langsung memastikan kebutuhan masyarakat benar-benar terpenuhi. “Beliau mengecek sendiri bagaimana roti dibagikan, bagaimana logistik sampai kepada masyarakat. Beliau turun langsung.”

Baca juga: Pendeta Dix Pasande, Palestina, dan Jalan Kemanusiaan Lintas Agama: “Saya Melihat Arba’in sebagai Panggilan Universal”

Perhatian yang sama diberikan kepada keluarga para syuhada tanpa membedakan latar belakang agama. “Beliau juga mendatangi keluarga syuhada Kristen yang gugur dalam perang. Beliau tidak pandang bulu selama itu dalam rangka menegakkan kebenaran.”

Sikap itu, menurut Ustadz Sirojuddin, melahirkan penghormatan yang melampaui batas negara, bahasa, dan agama.

Pesan bagi Generasi Muda Indonesia

Di penghujung perbincangan, Ustadz Muhammad Sirojuddin merangkum tiga nilai yang paling layak diwariskan kepada generasi muda Indonesia.

Yang pertama adalah menjaga persatuan. “Beliau mengajarkan kita untuk tidak menghina kesakralan saudara sesama Muslim.”

Persatuan, menurutnya, tidak boleh dikorbankan oleh perbedaan pandangan maupun mazhab. Ia kembali mengingat pesan Imam Ruhullah Khomeini bahwa umat Islam akan memiliki kekuatan besar apabila mampu menjaga persatuan.

Nilai kedua adalah keteguhan memegang prinsip. “Kalau itu musuh, kita lawan. Kalau itu teman, kita rangkul. Tetapi kebenaran tidak boleh dikorbankan.”

Nilai ketiga adalah semangat mengabdi kepada masyarakat. Bagi Ustadz Sirojuddin, kehidupan Imam Ali Khamenei menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hak untuk dilayani, melainkan amanah untuk melayani. Tiga nilai itulah yang diharapkannya terus hidup di tengah generasi muda Indonesia.

Warisan yang Terus Hidup

Syahidnya Imam Sayyid Ali Khamenei mengakhiri satu babak kepemimpinan, tetapi tidak mengakhiri nilai-nilai yang diwariskannya.

Persatuan, keteguhan memegang kebenaran, dan pengabdian kepada masyarakat akan tetap hidup selama terus diwujudkan dalam tindakan.

Sebelum perbincangan berakhir, Ustadz Sirojuddin kembali mengingat satu kalimat yang paling melekat dalam ingatannya. “Kalau pekerjaan dilakukan dengan hati, kita akan mendapatkan hati.”

Baginya, kalimat itu menjelaskan mengapa jutaan orang rela mengantar kepergian Imam Ali Khamenei. Yang mereka kenang bukan hanya seorang pemimpin negara, melainkan seorang ulama yang sepanjang hidup berusaha mempersatukan umat, memegang teguh prinsip, dan mengabdikan diri kepada masyarakat. [Redaksi Media ABI]

Tonton perbincangan lengkap Podcast ABI bersama Ustadz Muhammad Sirojuddin di kanal YouTube Media Ahlulbait Indonesia.

Baca juga: Dr. Tedi Kholiludin: Syahidnya Ayatullah Khamenei Tak Hentikan Semangat Perlawanan