Nasional
Seruan Ulama, Zuama, dan Cendekiawan Muslim Indonesia: Persatuan Dunia Islam Jadi Agenda Mendesak
Jakarta, 18 April 2026 — Seruan kolektif yang ditandatangani puluhan ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim Indonesia menegaskan satu garis sikap tegas, bahwa persatuan lintas mazhab kini menjadi kebutuhan strategis untuk meredam krisis global. Seruan tersebut disampaikan di kawasan Jakarta Selatan, Senin siang, (13/04/2026) di Hotel Ambhara.
Dokumen yang diinisiasi oleh Center for Dialogue and Cooperation Among Civilizations bersama Global Fulcrum of Wasatiyyat Islam muncul di tengah eskalasi konflik internasional, terutama di kawasan Timur Tengah. Situasi ini memperlebar ketegangan geopolitik sekaligus memperdalam krisis kemanusiaan.
Dalam kondisi yang terus memanas, seruan ini tidak berhenti pada nilai normatif. Arah yang ditawarkan bersifat praktis dan terukur. Persatuan umat ditempatkan sebagai fondasi untuk bertahan sekaligus sebagai modal untuk berperan di tingkat global. Kekuatan utamanya terletak pada konfigurasi tokoh yang terlibat.
Spektrum Tokoh: Konsensus di Tengah Perbedaan
Deretan penandatangan memperlihatkan spektrum luas yang jarang bertemu dalam satu barisan. Nama seperti Jusuf Kalla, Din Syamsuddin, KH Agil Siroj, Mahfud MD, Jimly Asshiddiqie, Lukman Hakim Saifuddin, Sayuti Assyatri dan Komaruddin Hidayat mencerminkan pertemuan antara negara, intelektual, dan otoritas keagamaan.
Dari organisasi Islam arus utama, hadir Anwar Abbas dan Syafiq Mughni dari Muhammadiyah, serta Cholil Nafis dan Zaitun Rasmin dari MUI. Persis, Al-Irsyad, dan Dewan Dakwah terwakili melalui Jeje Zaenudin, Faisol Nashar, dan Adian Husaini.
Spektrum ini meluas dengan keterlibatan Ahlulbait Indonesia (ABI) sebagai penandatangan, melalui Ketua Umum Ustadz Zahir Yahya dan Ketua Dewan Syura, Ustadz Husein Shahab. Kehadiran dalam bentuk dukungan ini memberi bobot lintas mazhab yang nyata, bukan simbolik.
Tokoh seperti Haidar Bagir dan Bakhtiar Nasir, bersama pimpinan organisasi perempuan Islam, memperkuat basis lintas generasi dan peran. Polanya jelas. Perbedaan tidak dihapus, melainkan diarahkan menuju titik temu yang lebih besar.
Menutup Celah Politik Pecah Belah
Dari fondasi tersebut, seruan bergerak ke persoalan yang lebih tajam. Politik pecah belah kembali disorot sebagai ancaman yang terus berulang.
Perbedaan Sunni dan Syiah, juga sentimen etnis seperti Arab dan Persia, sering dimanfaatkan untuk melemahkan umat dari dalam. Para penandatangan menegaskan kembali titik temu paling dasar. Al-Qur’an yang sama, kiblat yang sama, dan fondasi iman yang sama.
Penegasan ini membawa pesan strategis. Konflik internal tidak hanya menguras energi, tetapi juga menggerus posisi umat dalam percaturan global.
Dari Solidaritas ke Peran Global
Seruan ini tidak berhenti pada konsolidasi internal. Arah berikutnya bergerak menuju peran global yang lebih aktif.
Tekanan terhadap pelanggaran hukum internasional didorong melalui mekanisme seperti PBB, Mahkamah Internasional, dan Mahkamah Pidana Internasional. Pada saat yang sama, dunia Islam didorong bergerak dari solidaritas emosional menuju kekuatan yang terorganisir.
Konsep ummatan wasathan ditempatkan sebagai kerangka peran. Umat Islam diposisikan sebagai penyeimbang dalam tatanan dunia yang semakin timpang.
Penutup
Seruan ini bukan kumpulan nama biasa. Ini sinyal konsensus. Di dalamnya bertemu negara, ormas, akademisi, serta spektrum mazhab yang kerap dipandang berseberangan. Perbedaan tetap ada, namun tidak dijadikan penghalang untuk kesepakatan yang lebih mendasar. Langkah ini terlihat sederhana, tapi dampaknya berpotensi melampaui batas internal umat. Satu titik temu berhasil dikunci sebelum perpecahan menjadi permanen.
Jika konsolidasi seperti ini terus dijaga, perubahan tidak hanya terjadi di dalam umat Islam. Posisi umat Islam dalam membentuk arah dunia pun ikut dipertaruhkan.
Berikut enam poin seruan sebagaimana tertuang dalam dokumen resmi:
1. Keprihatinan atas Agresi AS-Israel ke Iran (dan konflik berkepanjangan di Gaza) yang dinilai sebagai kejahatan kemanusiaan, pelanggaran hukum internasional, dan berpotensi memicu perang global.
2. Dasar keyakinan: Islam adalah agama perdamaian dan keadilan, mandat khalifah, serta amanat Konstitusi Indonesia untuk perdamaian abadi.
3. Tuntutan kepada PBB, ICJ, ICC: Memberikan sanksi tegas kepada AS dan Israel, serta menuntut kepatuhan pada HAM dan hukum internasional tanpa standar ganda.
4. Seruan kepada pemimpin negara Islam: Mengedepankan persatuan (ukhuwah Islamiyah), menyelesaikan perbedaan internal, serta membela kemerdekaan Palestina dan Masjid Al-Aqsha.
5. Seruan kepada umat Islam global: Mewujudkan persaudaraan sejati (termasuk menolak adu domba Sunni-Syiah, Arab-Persia), dan tidak terpecah belah.
6. Momentum introspeksi: Menjadikan “Perang Timur Tengah 2026” sebagai pelajaran untuk menjadi khaira ummah (umat terbaik) dan ummatan wasathan (umat tengahan), serta membangun Aliansi Global untuk Kemanusiaan dan Tata Dunia Baru yang damai, adil, sejahtera, dan beradab.
Daftar Ulama, Zuama Dan Cendekiawan Muslim Indonesia
Penandatangan Seruan tentang Urgensi Persatuan Dunia Islam untuk
Penciptaam Tata Dunia Baru yang Damai, Adil, Sejahtera, dan Beradab
1. Dr. M. Jusuf Kalla (Mantan Wakil Presiden RI, dan Ketua Umum Dewan Masjid
Indonesia).
2. Prof. Dr. M. Din Syamsuddin (Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Ketua Poros
Dunia Wasatiyyat Islam)
3. Prof. Dr. KH. Agil Siroj (Mantan Ketua Umum PBNU).
4. Prof. Dr. Syafiq A Mughni (Ketua PP Muhammadiyah)
5. Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie (Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi)
6. Prof. Dr. Mahfud MD (Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi)
7. Prof. Dr. Hamdan Zoelva (Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi/Ketua Umum PP Sarekat
Islam)
8. Dr. Lukman Hakim Saifuddin (Mantan Menteri Agama)
9. Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (Mantan Rektor UIN & UIII/Ketua Dewan Pers)
10. 10-KH Muhyidin Junaidi, MA (Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI)
11. Dr. KH. Cholil Nafis l, MAg (Wakil Ketua Umum MUI)
12. Dr. Anwar Abbas, MAg, MM (Wakil Ketua Umum MUI)
13. Prof. Dr. Sudarnoto A. Hakim (Ketua MUI)
14. Dr. KH. Zaitun Rasmin, Lc, MA. (Ketua MUI/Ketua Umum Wahdah Islamiyah)
15. Dr. KH Jeje Zaenudin (Ketua Umum PP Persatuan Islam)
16. Dr. Faisol Nashar bin Madi (Ketua Umum PP Al-Irsyad al-Islamiyah)
17. Dr. Adian Husaini (Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia)
18. Dr. Masyhuril Khamis (Ketua Umum PB Al-Washliyah)
19. Prof. Dr. Jakfar Hafsah (Wakil Ketua Umum ICMI)
20. Prof. Dr. Husnan Bey Fananie (Ketua Umum PP Parmusi)
21. Dr. Syarfi Hutauruk (Ketua Umum DPP Tarbiyah Islamiyah)
22. Dr. Ahmad Kusyairi Suhail (Ketua Umum DPP IKADI)
23. Dr. KH MA Suhari (Ketua Umum DPP Bakomubin)
24. Dr. Imam Addaraqutni (Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia).
25. Dr. Rahmat Hidayat (Sekretaris Umum Dewan Masjid Indonesia)
26. Dr. Agus Wicaksono (Wakil Ketua Umum PP Al-Ittihadiyah)
27. Zahir Yahya, MA (Ketua DPP AhlulBait Indonesia/ABI)
28. KH Sadeli Karim (Ketua Dewan Syura Mathla’ul Anwar)
29. Dr. Bakhtiar Nasir, Lc, MM (Direktur AQL Center)
30. KH. Shobri Lubis (Ketua Umum Persada/Alumni 212)
31. Dr. Nashirul Haq (Wakil Ketua Dewan Syuro Hidayatullah)
32. Husein Shahab, MA (Ketua Dewan Syura AhlulBait Indonesia/ABI)
33. Mohammad Al-Jufri, SE (Ketua Miftahul Khairat)
34. Dr. Haidar Bagir, MA (Pendiri Gerakan Islam Cinta).
35. Ir. Sayuti Asyathri (Cendekiawan Muslim/Mantan Anggota DPR)
36. Dr. Ahmad Rifai Hasan, MA (Direktur Paramadina Institute for Ethics and Civilization)
37. Dr. Nurhayati Assegaf (Sekjen Global Forum of Muslimah Leaders)
38. Dr. Rashda Diana, Lc, MA (Wakil Pengasuh PMI Dea Malela/Dosen Unida Gontor)
39. Dr. apt. Salmah Orbayinah, M. Kes (Ketua Umum PP Aisyiah)
40. Dra. Marfuah Mustofa, MPd (Ketua Umum PP Wanita Islam)
41. Prof. Dr. Valina Subekti (Ketua Umum PP Wanita Sarekat Islam)
42. Dr. Sabriati Aziz (Penasehat Muslimat Hidayatullah)
43. Dr. Syifa Fauziah (Ketua Umum DPP BKMT)
44. Mufidah Said Bawazier, SE, MM (Ketua Dewan Pengawas PB Wanita Al-Irsyad)
45. Hj. Trisna Djuwaeli, SE, MM (Ketua Umum PP. Muslimat Mathla’ul Anwar)
46. Herliani, M.Ag. (Ketua Umum DPP Wanita PUI)
47. Hj. RA.Reni Anggrayni, S.T (Ketua Umum Salimah/Persaudaraan Muslimah)
48. Hartini Dg Saido, SAg, M.H (Ketua Umum PP Muslimat Dewan Da’wah)
49. Dra.Hj.Asdirwati Ali. M.MP. (Ketua Umum PP. Persatuan Wanita Tarbiyah Islamiyah/
PERWATI)
50. Prof. Dr. Makmun Murod (Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta)
51. Prof. Dr. Didik J Rachbini (Rektor Universitas Paramadina)
52. Prof. Dr. Masduki Ahmad (Rektor Universitas Islam Assyafiiyah/UIA).
53. Dr. KH. Zulikifli Muhadli, SH (Ketua Umum Forum Pondok Pesantren Alumni Gontor/FPAG)
