Nasional
LSM HIKDMAT dan Solidaritas Lintas Elemen Bangun Rumah Warga Rentan di Bangsri

Jepara, 26 April 2026 — LSM HIKDMAT (Himpunan Komunitas Peduli Ummat) berkolaborasi dengan lintas elemen masyarakat membangun rumah layak huni bagi Novi, warga RT 03 RW 01 Dukuh Sendangsari, Desa Banjaran, Kecamatan Bangsri, pada Ahad, (26/4/26). Kegiatan ini menegaskan kembali praktik gotong royong sebagai respons konkret atas kerentanan sosial di tingkat desa.
Kegiatan diprakarsai LSM HIKDMAT dengan melibatkan DPD Ahlulbait Indonesia (ABI) Jepara, Remaja Masjid Mbah Mohammad Arif, tokoh masyarakat, serta unsur Polsek Bangsri dan Koramil 07 Bangsri. Pemerintah Desa Banjaran hadir melalui Sekdes Jazeri. Anggota dewan pembina Ustadz Miqdad Turkan, turut mengikuti kegiatan.
Ketua LSM HIKDMAT, Abdullah Noorcholis, kepada Media ABI menilai kebersamaan sebagai nilai inti yang melampaui aspek material pembangunan. Lebih lanjut, ia menilai rumah yang dibangun memiliki nilai simbolik yang jauh lebih besar, yakni memperkuat kohesi sosial dan menjaga tradisi gotong royong yang telah diwariskan lintas generasi.
“Kebersamaan kita saat inilah yang harus kita jaga. Bersama tanpa melihat latar belakang, agama, maupun kelompok,” tegasnya.
“Kebersamaan ini sudah diperjuangkan orang tua kita, maka selayaknya kita melanjutkan. Kami dari LSM HIKDMAT, remaja masjid, Koramil dan Polsek Bangsri, pemerintahan Desa Banjaran, dan tokoh masyarakat sekitar, kita guyub untuk kebersamaan dan kemanusiaan,” tandasnya lagi.
Abdullah juga berharap, Nabi Muhammad SAW. bergembira melihat kebersamaan ini karena meskipun berbeda mazhab, Sunni dan Syiah bisa bersama untuk kebaikan.
Perwakilan Remaja Masjid, Roni, menyampaikan dukungan terhadap kegiatan tersebut. Ia mengakui keterlibatan personel masih terbatas, namun menegaskan komitmen untuk tetap berada dalam arus kegiatan sosial berbasis kemanusiaan di lingkungan setempat.
“Kami sangat mendukung kegiatan sosial kemanusiaan seperti ini. Mohon maaf karena kurangnya personel yang ikut terlibat. Selaku pengurus masjid di lingkungan sekitar, saya sangat mendukung kebersamaan dan kegiatan seperti yang kita lakukan pagi hari ini,” jelasnya.
Pemerintah desa melalui Sekdes Jazeri menegaskan bahwa keterlibatan pihaknya merupakan bagian dari tanggung jawab sosial pemerintahan desa. Ia mengutip ajaran Nabi Muhammad bahwa manusia terbaik adalah yang paling memberi manfaat bagi orang lain, seraya menambahkan bahwa bantuan yang diberikan tidak diukur dari besaran nilai, melainkan dari semangat kebersamaan yang terbangun.
“Sebagai bentuk perhatian pemerintah Desa Banjaran, selain hadir, kami juga memberikan bantuan sebagai bentuk kepedulian desa kepada masyarakat yang membutuhkan. Jangan dilihat nilainya, namun bentuk urun rembuk dan kebersamaan seperti inilah yang penting,” terangnya kepada Media ABI secara terpisah.
Humas HIKDMAT, Ali Ridho, menjelaskan bahwa keputusan membantu Novi diambil melalui pertimbangan kemanusiaan. Novi merupakan ibu dengan dua anak yang mengalami gangguan kejiwaan dan hidup dalam kondisi tidak layak. Sebelumnya, ia dilaporkan berpindah-pindah tempat tinggal hingga sempat bertahan di area pemakaman. Meskipun tidak sepenuhnya memenuhi kriteria administratif penerima bantuan, HIKDMAT tetap menjalankan program tersebut karena urgensi kondisi yang dihadapi.
“Pembangunan rumah ini adalah bentuk kebersamaan LSM HIKDMAT dan berbagai kalangan. Meskipun kriteria penerima menurut HIKDMAT tidak memenuhi syarat, namun dari sisi kemanusiaan dan pengajuan dari pihak keluarga, HIKDMAT bersedia mengemban amanat.”
“Hal ini murni kemanusiaan, karena ibu Novi merupakan janda yang memiliki dua anak dan menderita gangguan kejiwaan. Sebelumnya, ibu Novi hidup terlunta-lunta di pekuburan,” tegasnya.
Kegiatan diawali dengan doa yang dipimpin Habib Husain bin Yahya, tokoh masyarakat setempat, sebagai penutup acara selamatan sekaligus harapan atas kelancaran proses pembangunan.
Intervensi sosial berbasis komunitas seperti ini menunjukkan bahwa solidaritas lokal masih menjadi instrumen efektif dalam menjawab kebutuhan mendesak warga rentan, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses bantuan formal. []













