Nasional
Ustadz Miqdad: Ghadir Khum Kunci Penyelesaian Perselisihan Umat

Jepara, 3 Juni 2026 — Peringatan Hari Raya Iedul Ghadir di Pondok Pesantren Darut Taqrib, Jepara, Rabu malam (3/6/2026), berlangsung khidmat. Seratusan jamaah dan santri memenuhi aula pesantren selepas Isya. Di barisan depan, sejumlah santri menabuh hadrah sambil melantunkan syair pujian kepada Ahlul Bait Nabi SAW sebelum ceramah dimulai.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Miqdad Turkan menyoroti peristiwa Ghadir Khum sebagai salah satu momentum penting dalam sejarah Islam yang menurutnya menjadi kunci penyelesaian berbagai persoalan umat Islam.
Baca juga: Ayatullah Rashad: Ghadir Khum Realitas Eksistensial yang Terus Hidup
“Peristiwa Ghadir memiliki banyak dimensi yang bisa dipelajari dan diambil hikmahnya oleh kaum muslimin. Namun satu hal yang penting, Ghadir adalah kunci utama untuk menyelesaikan persoalan umat Islam,” kata Ustadz Miqdad di hadapan jamaah.
Pengasuh Pondok Pesantren Darut Taqrib itu menjelaskan bahwa berbagai perbedaan di tengah umat Islam, termasuk dalam persoalan fikih, dapat ditelusuri pada persoalan kepemimpinan pasca wafat Rasulullah SAW. Salah satu contohnya terlihat dalam tata cara wudhu dan salat yang hingga kini masih dipahami berbeda di kalangan umat Islam.
Menurutnya, meskipun para sahabat menyaksikan langsung praktik ibadah Rasulullah SAW selama puluhan tahun, perbedaan penafsiran tetap muncul dalam praktik keagamaan umat Islam. “Salat adalah pondasi agama, sementara wudhu menjadi syarat sah salat. Tanpa wudhu, salat tidak sah. Namun dalam praktiknya masih terdapat banyak perbedaan,” ujarnya.
Selain persoalan fikih, Ustadz Miqdad juga membahas perbedaan pandangan teologis mengenai hubungan kehendak manusia dan ketentuan Tuhan. Ustadz Miqdad menjelaskan adanya pandangan jabr yang menempatkan manusia sepenuhnya berada dalam ketentuan Allah tanpa memiliki pilihan, serta tafwid yang memandang manusia memiliki kebebasan penuh tanpa campur tangan Tuhan.

Ustadz Miqdad Turkan menegaskan peristiwa Ghadir Khum sebagai kunci penyelesaian perselisihan umat Islam dalam ceramah Iedul Ghadir di Jepara. (Dok. ABI)
Di antara dua pandangan itu, terdapat konsep alamru bainal amrain yang memandang manusia tidak sepenuhnya dipaksa dan tidak pula bebas mutlak. “Dalam tradisi Islam dikenal istilah alamru bainal amrain,” katanya.
Baca juga: Pidato Ketua Umum ABI dalam Peringatan Ghadir Khum 15 Juni 2025
Ustadz Miqdad kemudian mengulas konsep kepemimpinan dalam Islam. Menurutnya, Islam dibangun di atas wahyu dan seluruh ajaran Rasulullah bersumber dari perintah Allah SWT yang disampaikan melalui Malaikat Jibril.
“Islam berasal dari Allah. Seluruh nabi membawa agama Islam dan mengajak umat manusia tunduk kepada syariat Allah,” ucapnya.
Dalam ceramah tersebut, jamaah juga diajak memahami kembali pertanyaan mengenai konsep kepemimpinan setelah wafat Rasulullah SAW dan apakah terdapat petunjuk wahyu terkait penerus beliau.
Ghadir Khum disebut sebagai peristiwa penting yang berkaitan dengan pengangkatan Imam Ali bin Abi Thalib sebagai washi dan penerus Rasulullah SAW.
Ustadz Miqdad juga menyinggung kitab Al-Ghadir karya Abdul Husain al-Amini yang terdiri dari sebelas jilid dan membahas berbagai riwayat serta referensi sejarah mengenai kepemimpinan setelah Rasulullah. “Hadis ‘Man kuntu maulahu fa hadza Aliyyun maulahu’ seharusnya menjadi salah satu kunci untuk memahami persoalan dan perselisihan di tubuh umat Islam,” tuturnya.
Baca juga: Peristiwa Ghadir Khum: Mandat Ilahi atas Kepemimpinan Umat
Ustadz Miqdad juga mengutip riwayat mengenai kedudukan Hari Ghadir dalam tradisi Islam. “Hari Ghadir adalah hari raya terbaik bagi umatku. Hari ketika Allah memerintahkanku mengangkat Ali sebagai pegangan umat setelahku. Pada hari itu Allah menyempurnakan agama dan meridhai Islam sebagai agama,” kata Ustadz Miqdad mengutip riwayat.
Menjelang akhir ceramah, Ustadz Miqdad mengutip Surah Al-Ma’idah ayat 3 saat menjelaskan pandangan Imam Ja’far Ash-Shadiq mengenai pengangkatan Imam Ali a.s. sebagai bagian dari penyempurnaan risalah Islam.
Peringatan Iedul Ghadir kemudian ditutup dengan doa ziarah bersama yang dipimpin Habib Dani Al-Edrus. []
Baca juga: Imam Ali Khamenei: Ghadir Khum untuk Segenap Umat Islam







