Ikuti Kami Di Medsos

Nasional

Analisis UB: Ketegangan AS–Iran Picu Volatilitas Minyak, Hormuz Jadi Titik Tekan Global

Published

on

Ketegangan terus meningkat di Selat Hormuz, menyebabkan harga minyak naik. (Press TV)

Jakarta, 18 April 2026 — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mulai tercermin pada volatilitas pasar energi global, dengan Selat Hormuz kembali menjadi simpul utama distribusi minyak dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur ini, menjadikannya salah satu chokepoint paling krusial dalam perdagangan energi internasional.

Pengamat Hukum dan Hubungan Internasional Universitas Brawijaya, Abdullah Assegaf, dalam Siaran Pers yang diterima Media ABI pada Sabtu, (18/4/26), mengatakan pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang beredar melalui media sosial berkontribusi terhadap fluktuasi harga minyak dalam beberapa pekan terakhir. “Narasi yang dibangun memengaruhi persepsi pasar, terutama di tengah sensitivitas pasokan global,” ujarnya.

Dalam kondisi normal, harga minyak dunia cenderung stabil pada kisaran tertentu. Namun dalam situasi eskalasi geopolitik, pasar bereaksi cepat terhadap sinyal politik, termasuk pernyataan pejabat tinggi dan pergerakan militer di kawasan Teluk.

Terkait Selat Hormuz, Abdullah menyatakan Iran tidak menutup jalur tersebut, tetapi memperketat kontrol lalu lintas pelayaran. Ia mencatat, titik tersempit selat hanya sekitar 20 mil, dengan sebagian berada dalam jangkauan wilayah teritorial Iran. Kondisi ini memungkinkan pengawasan ketat terhadap kapal yang melintas, terutama yang berafiliasi dengan pihak yang dianggap bermusuhan.

Menurut dia, setiap gangguan di jalur ini berpotensi langsung memengaruhi distribusi sekitar 17–20 juta barel minyak per hari. “Itu setara hampir seperlima konsumsi global. Dampaknya tidak hanya regional, tetapi sistemik,” kata Abdullah.

Pada aspek diplomasi, ia menilai belum ada indikator kuat menuju de-eskalasi. Tawaran perundingan lanjutan belum direspons secara terbuka oleh Iran, sementara Amerika Serikat tetap meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Teluk Persia.

Data pergerakan militer dan aktivitas armada di kawasan tersebut, menurut Abdullah, menjadi sinyal yang diperhatikan pasar energi selain pernyataan politik. Kombinasi keduanya memperbesar ketidakpastian dan menjaga volatilitas harga tetap tinggi.

Ia menambahkan, tuntutan Iran terkait pencabutan sanksi ekonomi, kompensasi, dan jaminan non-agresi belum menunjukkan titik temu dengan posisi Amerika Serikat. Situasi ini mempersempit peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.

Abdullah memperkirakan tekanan global akan terus meningkat jika ketegangan berlanjut, terutama terhadap negara-negara importir energi. Kenaikan biaya logistik dan asuransi pelayaran di jalur Teluk, kata dia, berpotensi menjadi faktor tambahan yang mendorong harga energi ke atas.

Hingga saat ini, belum terdapat indikator yang menunjukkan penurunan intensitas konflik. Pasar, menurut Abdullah, masih bergerak dalam mode antisipatif terhadap risiko gangguan pasokan dari kawasan tersebut. []