Ikuti Kami Di Medsos

Editorial

Manifesto Perlawanan dan Kebangkitan Umat dalam Pesan Haji Ayatullah Mujtaba Khamenei

Published

on

Ayatullah Mujtaba Khamenei
Ayatullah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei

Oleh: Redaksi Media ABI

Jakarta, 26 Mei 2026 — Setiap tahun, jutaan Muslim berdiri di Padang Arafah dengan pakaian ihram yang sama, melafalkan talbiyah yang sama, lalu menengadahkan tangan memohon ampunan kepada Allah. Namun musim haji tahun ini terasa berbeda. Di tengah bara perang Gaza yang belum padam dan meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di Timur Tengah, langit Mekkah tidak hanya dipenuhi gema “Labbaik Allahumma Labbaik”, tetapi juga pantulan sebuah pesan tentang perlawanan, persatuan umat, dan perubahan zaman.

Baca juga: Organisasi sebagai Suluk Sosial, Jalan Penghambaan Kolektif, dan Disiplin Ideologis

Pesan Haji 1447 Hijriah yang disampaikan Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Mujtaba Khamenei, bergerak jauh melampaui khutbah keagamaan tahunan. Haji ditempatkan sebagai jalan hijrah kolektif umat Islam dari kehidupan material menuju kehidupan tauhid yang berporos pada penghambaan kepada Allah.

Sejak awal, haji hadir sebagai ruang tempat spiritualitas, sejarah, kebangkitan, dan perjuangan bertemu dalam horizon yang sama. Ihram tidak lagi tampil sebagai pakaian ritual, tetapi simbol pelepasan dari ketergantungan duniawi. Thawaf bergerak sebagai orbit kolektif menuju pusat kebenaran. Sa‘i menghadirkan makna perjuangan yang terus berlangsung di jalan Allah. Bahkan lempar jumrah tampil sebagai simbol perlawanan terhadap “setan besar” dan seluruh manifestasi kekuasaan yang menindas umat Islam dan dunia.

Di titik itu, ritual haji bergerak keluar dari ruang spiritual personal menuju ruang kesadaran peradaban.

Baca juga: Ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta: Mendidik Jiwa dan Menyembuhkan Luka Sosial

Waktu Tak Akan Mundur

Salah satu nada paling kuat dalam pesan tersebut adalah keyakinan bahwa sejarah kawasan sedang bergerak menuju fase baru. “Jarum waktu tidak akan bergerak mundur,” demikian penegasan yang muncul ketika membicarakan masa depan Timur Tengah dan surutnya dominasi Amerika Serikat di kawasan.

Pesan itu membawa gema yang jauh melampaui retorika politik biasa. Tersimpan keyakinan bahwa sebuah tatanan lama sedang mendekati batas akhirnya. Nada defensif nyaris tak tampak. Tehran justru tampil sebagai bagian dari arus sejarah baru yang diyakini sedang bergerak menuju kebangkitan umat dan perubahan kawasan. Banyak pihak mengira konflik hanya akan berakhir pada gencatan senjata dan negosiasi nuklir. Namun dalam narasi Iran, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya perang.

Yang sesungguhnya sedang berakhir adalah sebuah era dominasi lama.

Baca juga: Kaderisasi ABI: Menjemput Masa Depan dengan Tiga Pilar

“Allahu Akbar” sebagai Energi Sejarah Revolusi

Di dalam pesan itu, takbir hadir berulang-ulang sebagai energi spiritual yang dipanggul sebagai memori sejarah Revolusi Islam.

“Allahu Akbar” dihadirkan sebagai kalimat yang menggerakkan rakyat Iran menggulingkan rezim Shah Pahlavi pada 1979. Dengan seruan yang sama, Iran menghadapi perang Iran-Irak, bertahan dari tekanan dan sanksi Barat, hingga membangun jaringan “Poros Perlawanan” di berbagai kawasan Timur Tengah.

Takbir tidak dipisahkan dari realitas sosial-politik. Hadir sebagai fondasi moral perjuangan dan sumber keteguhan dalam menghadapi hegemoni global.

Revolusi Islam juga tidak dipahami semata sebagai peristiwa politik nasional. Revolusi Islam ditempatkan sebagai kelanjutan ‘seruan Ibrahimiah’, sebuah perjuangan tauhid melawan kekuasaan zalim.

Bangsa Iran digambarkan berhasil memutus dominasi Amerika Serikat dan Zionisme dari Iran, lalu bergerak membangun jaringan perlawanan lintas kawasan yang dikenal sebagai “Poros Perlawanan”.

Baca juga: Kedaulatan, Konstitusi, dan Dukungan ABI terhadap Sikap Indonesia di Hadapan IOC

Palestina: Simbol Perlawanan dan Martabat Umat

Poros Perlawanan digambarkan membentang dari Iran, Lebanon, Palestina, Irak, dan Suriah hingga Yaman, Afghanistan, Pakistan, serta berbagai “bangsa merdeka dunia”. Poros itu tidak lahir hanya sebagai aliansi militer.

Di dalamnya terdapat gagasan tentang solidaritas umat, pengorbanan, dan pembelaan terhadap kaum tertindas. Palestina tetap berada di pusat narasi tersebut.

“Operasi Badai Al-Aqsa” disebut sebagai bagian dari rangkaian perjuangan melawan Israel. Rezim Zionis digambarkan sebagai “kanker ganas” yang sedang mendekati akhir eksistensinya.

Dalam salah satu bagian paling ideologis, disebutkan:

“Rezim Zionis yang rapuh, yakni kanker ganas bernama Israel, pun telah mendekati tahap akhir usia laknatnya. Dengan karunia Ilahi, sebagaimana pernyataan tegas dan visioner pemimpin agung yang syahid (qs) rezim itu tidak akan menyaksikan 25 tahun setelah pernyataan tersebut, insya Allah.”

Rujukan tentang “25 tahun” mengarah pada pidato Ayatullah Ali Khamenei pada 2015 yang menyatakan Israel tidak akan bertahan hingga seperempat abad mendatang. Dalam kosmologi Revolusi Islam Iran, ucapan semacam itu tidak hadir sebagai prediksi politik biasa. Ucapan itu hidup sebagai keyakinan tentang kemunduran historis Zionisme dan perubahan arah kawasan.

Palestina tidak hadir sebagai persoalan teritorial semata, tetapi pusat moral perjuangan umat dan simbol perlawanan terhadap dominasi global.

Di tengah perang Gaza dan meningkatnya kemarahan publik Muslim terhadap Israel, Iran tampak terus menjaga posisinya sebagai bagian dari kekuatan yang konsisten membawa narasi pembelaan terhadap Palestina ketika sebagian negara kawasan bergerak menuju pragmatisme geopolitik dan normalisasi hubungan dengan Israel.

Baca juga: Peringatan Hari Santri dan Luka Santri: Saat Adab Diuji di Ruang Kaca Trans7

Bara’ah dan Kesadaran Politik Umat

Salah satu tema sentral dalam pesan tersebut adalah konsep bara’ah min al-musyrikin, yakni berlepas diri dari kaum musyrik.

Bara’ah tidak berhenti pada ritual simbolik di musim haji, tetapi bergerak masuk ke dalam kesadaran sosial dan politik umat Islam.

Dalam salah satu bagian penting pesannya disebutkan:

“Karena itu, tahun ini persoalan bara’ah terhadap kaum musyrik memiliki arti yang berlipat ganda. Kedalaman dan cakupan bara’ah terhadap Amerika dan rezim Zionis melampaui ritual bara’ah di musim dan miqat haji semata. Di berbagai penjuru Iran dan dunia, bahkan setelah hari-hari mubarak ini berlalu, slogan ‘Maut bagi Amerika’ dan ‘Maut bagi Israel’ akan menjadi seruan umum umat Islam dan kaum tertindas dunia, khususnya generasi muda.”

Di dalam narasi itu, bara’ah tidak tampil sebagai simbol keagamaan yang berdiri sendiri. Bara’ah masuk ke dalam kesadaran politik umat terhadap kekuatan yang dipandang mendominasi dan menindas dunia Muslim.

Slogan “Maut bagi Amerika” dan “Maut bagi Israel” pun ditempatkan bukan hanya sebagai luapan kemarahan politik sesaat, melainkan bagian dari identitas perjuangan yang diyakini harus terus hidup.

Namun pesan itu tidak berhenti pada konfrontasi. Ada ajakan membangun persatuan umat, solidaritas, dan kerja sama demi membentuk “arsitektur masa depan kawasan dan dunia”.

Dominasi Amerika Serikat di Timur Tengah digambarkan terus mengalami kemunduran. Kawasan tidak lagi dipandang sebagai ruang aman bagi pangkalan militer Barat. Perubahan besar terasa sedang bergerak mendekat.

Jika pada dekade-dekade awal Revolusi Islam Iran lebih banyak berbicara tentang bertahan hidup dari tekanan global, kini yang muncul adalah bahasa tentang kebangkitan umat dan perubahan tatanan dunia.

Baca juga: Analisis Pidato Imam Ali Khamenei: Persatuan, Ilmu Pengetahuan, Martabat, dan Cermin Bagi Indonesia

Haji, Spiritualitas, dan Horizon Kebangkitan

Pesan tersebut ditutup dengan doa-doa bagi persatuan umat Islam, pembebasan Palestina dan Masjid Al-Aqsa, serta kemunculan Imam Mahdi menurut keyakinan Syiah Imamiyah.

Politik, spiritualitas, perjuangan, dan harapan eskatologis bertemu dalam satu narasi besar tentang masa depan umat Islam. Yang muncul bukan lagi khutbah haji tahunan, melainkan manifesto perlawanan dan kebangkitan umat yang diarahkan kepada seluruh dunia Muslim.

Di dalamnya bergema keyakinan tentang sebuah zaman baru yang sedang mendekat. Sebuah zaman ketika dunia Islam tidak lagi diposisikan sebagai objek dominasi global, tetapi tampil sebagai kekuatan sejarah yang berusaha menentukan arah peradabannya sendiri. []

Baca juga: Baliho Bicara Lebih Lantang dari Diplomasi