Ikuti Kami Di Medsos

Nasional

Menjembatani Peradaban: Akademisi Indonesia dan Iran Bahas Hubungan Historis Dua Bangsa

Published

on

Menjembatani Peradaban: Akademisi Indonesia dan Iran Bahas Hubungan Historis Dua Bangsa
Webinar internasional “Iran and the Malay-Indonesian World” mempertemukan akademisi Indonesia dan Iran untuk membahas diplomasi peradaban dan hubungan budaya di tengah dinamika geopolitik global. (Dok. ABI)

Malang, 20 Mei 2026 — Di tengah meningkatnya dinamika geopolitik Timur Tengah, dialog peradaban dinilai menjadi jalur penting untuk memperkuat hubungan antarbangsa. Perspektif tersebut mengemuka dalam webinar internasional bertajuk “Iran and the Malay-Indonesian World: Historical and Contemporary Relations” yang digelar secara virtual, Senin (18/5).

Baca juga: Iran Serang Balik Pernyataan Al-Azhar terkait Konflik dengan Israel

Forum ini mempertemukan akademisi, diplomat budaya, dan pegiat literasi dari Indonesia dan Iran untuk membahas jejak historis hubungan Iran dengan dunia Melayu-Indonesia serta peluang pengembangannya di masa depan. Diskusi menyoroti pentingnya melihat relasi kedua kawasan tidak semata melalui konflik geopolitik atau perbedaan teologis, melainkan melalui sejarah panjang pertukaran budaya, perdagangan, bahasa, sastra, dan spiritualitas.

Webinar menghadirkan Prof. Maziar Mozaffari Falarti dari Faculty of World Studies University of Tehran, Dr. Yahya Jahangiri selaku Cultural Counsellor Kedutaan Besar Republik Islam Iran, Koordinator Brawijaya Institute of Islamic Civilization and Middle East Studies (BICMES) Yusli Effendi, S.IP., M.A., serta CEO Green Palm Publications Dr. Hossein Bahrami. Diskusi dipandu Abdullah, S.Sos., M.Hub.Int., Direktur Iran Corner Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya.

Dalam pemaparannya, Dr. Yahya Jahangiri menyoroti kedekatan historis dan linguistik antara Iran dan Indonesia. Ia menyebut sejumlah kosakata Indonesia memiliki keterhubungan dengan bahasa Persia, termasuk kata “pasar” yang berkaitan dengan istilah “bazar”, sebagai jejak interaksi panjang antarkawasan.

Menurutnya, Iran dan Indonesia memiliki posisi strategis di dunia Islam. Iran dikenal sebagai salah satu pusat masyarakat Muslim Syiah, sementara Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim Sunni terbesar di dunia. Kondisi tersebut dinilai menjadi modal penting untuk membangun koeksistensi dan persaudaraan lintas mazhab.

Baca juga: Kemajuan Iran dan Pendidikan Perempuan

Sementara itu, Yusli Effendi mengangkat tema “Beyond War: Reimagining Iran and Indonesia Civilizational Encounter” melalui pendekatan cultural foresight. Ia menegaskan hubungan Iran dan dunia Melayu-Indonesia perlu dipahami sebagai perjumpaan dua peradaban yang setara.

Yusli memaparkan sejumlah bukti historis hubungan tersebut, mulai dari perdagangan kapur barus sejak masa kuno, makam Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik, hingga batu nisan di Aceh yang memperlihatkan pengaruh sastra Persia, termasuk karya Sa‘di Shirazi. Ia juga menyoroti pengaruh tasawuf Persia dalam tradisi intelektual Melayu, terutama dalam karya Hamzah Fansuri.

“Memori budaya dapat menjadi jalan untuk meredakan ketegangan geopolitik kontemporer dan membuka ruang baru bagi diplomasi berbasis kebudayaan,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Prof. Maziar Mozaffari Falarti. Akademisi University of Tehran itu menjelaskan hubungan Iran dengan Asia Tenggara telah berlangsung lebih dari seribu tahun, bahkan sejak era pra-Islam. Relasi tersebut berkembang melalui perdagangan, pelayaran, pertukaran pengetahuan, hingga pembentukan tradisi politik dan kebudayaan.

Baca juga: Dubes Iran Sampaikan Terima Kasih ke Indonesia, Buka Jalur Bantuan Kemanusiaan

Ia menambahkan, pengaruh Persia turut mewarnai tradisi kerajaan, bahasa, sastra, hingga praktik sosial-keagamaan masyarakat Melayu-Indonesia.

Dalam sesi lain, Dr. Hossein Bahrami menekankan pentingnya penerjemahan karya sastra, sejarah, buku anak, dan literatur akademik sebagai sarana memperkuat pemahaman antarbangsa. Melalui Green Palm Publications, berbagai karya tentang sejarah dan peradaban Iran diterbitkan dalam bahasa Indonesia dan Melayu guna memperluas akses masyarakat Nusantara terhadap khazanah intelektual Iran.

Webinar tersebut juga menegaskan peran Iran Corner Universitas Brawijaya sebagai ruang dialog budaya dan pendidikan. Lembaga itu diharapkan menjadi pusat pengembangan kerja sama riset, pertukaran pengetahuan, serta pengenalan sejarah dan peradaban Iran di lingkungan akademik Indonesia.

Pada akhir diskusi, para pembicara sepakat bahwa hubungan Indonesia dan Iran perlu terus diperkuat melalui jalur pendidikan, kebudayaan, dan dialog peradaban. Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif serta menjadi fondasi penting dalam membangun saling pengertian antarbangsa.[]

Baca juga: Webinar Internasional Bahas Iran: Media Barat Dinilai Kerap Sajikan Narasi Bias