Ikuti Kami Di Medsos

Nasional

Prof. Syukur Suparman: Semangat Imam Husain Menguatkan Ukhuwah Islamiyah, Diniyah, dan Insaniyah

Published

on

Tokoh Muhammadiyah Prof. Dr. H. Syukur, M.A. menyampaikan sambutan dalam peringatan Syahadah Imam Husain bertema "Suara Kebenaran di Tengah Kesunyian, Karbala Menjawab Zaman" yang diselenggarakan Yayasan Nurus Tsaqalain di Semarang, Minggu (28/6/2026).
Tokoh Muhammadiyah Prof. Dr. H. Suparman M.Ag menyampaikan sambutan dalam peringatan Syahadah Imam Husain bertema "Suara Kebenaran di Tengah Kesunyian, Karbala Menjawab Zaman" yang diselenggarakan Yayasan Nurus Tsaqalain di Semarang, Minggu (28/6/2026).

Semarang, 28 Juni 2026 — Tokoh Muhammadiyah Prof. Dr. H. Suparman M.Ag mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan perjuangan Imam Husain sebagai momentum memperkuat persatuan umat, membangun dialog lintas iman, serta meneguhkan persaudaraan kemanusiaan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Pesan tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan pada peringatan Syahadah Imam Husain yang diselenggarakan Yayasan Nurus Tsaqalain di Semarang, Minggu (28/6/2026), mengusung tema “Suara Kebenaran di Tengah Kesunyian, Karbala Menjawab Zaman”.

Mewakili Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, Prof. Syukur menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Nurus Tsaqalain atas terselenggaranya kegiatan yang dinilainya mampu menghadirkan ruang perjumpaan bagi tokoh agama, unsur pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam semangat saling menghormati serta membangun persaudaraan.

Menurutnya, persatuan merupakan fondasi utama kehidupan berbangsa dan beragama. Karena itu, semangat ukhuwah tidak boleh berhenti pada hubungan sesama Muslim, tetapi harus meluas menjadi persaudaraan antarumat beragama dan persaudaraan kemanusiaan.

Baca juga: Ustadz Syeikh Al Hamid: Karbala Menjawab Zaman, Suara Kebenaran Tak Pernah Padam

“Saya selalu berusaha mengedepankan al-wihdah al-Islamiyah, al-wihdah al-diniyah, dan al-wihdah al-insaniyah,” ujar Prof. Syukur.

Ia menegaskan bahwa perbedaan organisasi, mazhab, maupun agama merupakan kenyataan yang harus dikelola dengan sikap saling menghormati, bukan dijadikan alasan untuk mempertajam perpecahan. Setiap komunitas, menurutnya, memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga persatuan serta membangun kehidupan bersama yang damai.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Syukur juga mengutip ayat Al-Qur’an yang menegaskan pentingnya keimanan, amal saleh, dan penghormatan terhadap keyakinan setiap pemeluk agama. Nilai-nilai itu, menurutnya, menjadi landasan etis bagi terciptanya hubungan yang harmonis di tengah masyarakat yang majemuk.

Untuk menggambarkan pentingnya persatuan di tengah keberagaman, ia mengibaratkan organisasi-organisasi Islam seperti klub-klub dalam dunia sepak bola. Masing-masing memiliki identitas dan karakter yang berbeda, tetapi tetap berada dalam satu sistem permainan dengan tujuan yang sama. Analogi tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa perbedaan tidak harus berujung pada pertentangan.

Prof. Syukur juga berbagi pengalamannya saat berkunjung ke Kota Qom, Iran, dalam rangka mengikuti kegiatan akademik dan berdialog dengan sejumlah ulama. Pengalaman itu, katanya, semakin menguatkan keyakinannya bahwa persatuan umat Islam harus ditempatkan di atas perbedaan mazhab maupun organisasi.

Baca juga: Ustadz Husain Syahab: Di Tengah Heningnya 1,4 Miliar Umat, Karbala Tetap Bergema

Dalam sambutannya, ia turut menyampaikan pandangan mengenai dinamika kawasan Timur Tengah, termasuk posisi Iran dalam menghadapi Israel. Pandangan tersebut disampaikan sebagai pendapat pribadi dalam konteks sambutan dan tidak mewakili sikap resmi Muhammadiyah.

Menutup sambutannya, Prof. Syukur berharap Indonesia terus menjadi rumah bersama bagi seluruh warga bangsa. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat budaya dialog, saling menghormati, serta bekerja sama membangun peradaban yang damai, adil, dan berkeadaban.

“Persatuan tidak dibangun dengan menyeragamkan perbedaan, tetapi dengan menghadirkan rasa saling menghormati dan bekerja sama dalam kemaslahatan bersama,” tutupnya. []

Baca juga: Dari Karbala untuk Indonesia: Ustadz Zahir Yahya Tegaskan Asyura sebagai Landasan Martabat Bangsa