Nasional
Ustadz Syeikh Al Hamid: Karbala Menjawab Zaman, Suara Kebenaran Tak Pernah Padam

Peringatan Syahadah Imam Husain di Semarang, Minggu 28 Juni 2026. Ustadz Syeikh Al Hamid menegaskan Karbala bukan kisah masa lalu, melainkan panduan menghadapi krisis moral, disinformasi, dan ketidakadilan pada setiap zaman.
Semarang, 28 Juni 2026 — Ribuan hadirin dari berbagai daerah di Jawa Tengah memadati peringatan Syahadah Imam Husain yang diselenggarakan Yayasan Nurul Tsaqalain Semarang, Minggu (28/6/2026). Mengusung tema “Suara Kebenaran di Tengah Kesunyian, Karbala Menjawab Zaman”, acara tersebut menjadi ruang refleksi tentang makna perjuangan Imam Husain sebagai fondasi moral dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern.
Dalam ceramahnya, Ustadz Syeikh Al Hamid menegaskan bahwa tragedi Karbala bukan hanya peristiwa sejarah yang dikenang setiap Muharam, melainkan peristiwa yang terus hidup karena menghadirkan nilai-nilai universal tentang keberanian, kejujuran, pengorbanan, dan keteguhan mempertahankan kebenaran.
Menurutnya, majelis mengenang Imam Husain memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Islam karena menjadi tempat bertemunya keimanan, ilmu, dan penyucian jiwa. Ia mengutip berbagai riwayat yang menjelaskan besarnya keutamaan orang-orang yang menghadiri majelis duka Ahlulbait, termasuk doa para malaikat dan ampunan Allah bagi mereka yang hadir dengan niat tulus.
Ustadz Syeikh mengajak seluruh peserta meluruskan niat sebelum mengikuti majelis. Baginya, nilai sebuah amal tidak ditentukan oleh bentuk lahiriahnya, melainkan oleh keikhlasan yang melandasinya.
“Majelis ini menjadi mulia karena dihubungkan dengan manusia-manusia mulia. Karena itu hadirkan niat yang ikhlas agar keberkahan yang dijanjikan Allah benar-benar dapat diraih,” ujarnya.
Imam Husain Milik Seluruh Umat Manusia
Ustadz Syeikh menegaskan bahwa Imam Husain tidak boleh dipersempit hanya sebagai tokoh milik kelompok tertentu. Menurutnya, Imam Husain adalah cucu Rasulullah Muhammad SAW yang dihormati seluruh umat Islam, sementara nilai-nilai perjuangannya juga diterima oleh masyarakat dunia karena berbicara tentang keadilan, kemanusiaan, dan perlawanan terhadap kezaliman.
“Imam Husain bukan milik satu golongan. Beliau milik umat Islam, bahkan milik seluruh manusia yang mencintai keadilan,” katanya.
Baca juga: Ustadz Husain Syahab: Di Tengah Heningnya 1,4 Miliar Umat, Karbala Tetap Bergema
Ia menjelaskan bahwa banyak tokoh dunia menghormati Karbala bukan karena aspek identitas keagamaannya semata, melainkan karena pesan universal yang dikandungnya. Perjuangan Imam Husain, menurutnya, mengajarkan keberanian mempertahankan prinsip ketika kebenaran berada dalam posisi lemah.
Karbala Lahir dari Krisis Informasi dan Penyimpangan
Ustadz Syeikh kemudian membawa hadirin memahami latar belakang sejarah sebelum terjadinya tragedi Karbala.
Ia menggambarkan bagaimana penyimpangan informasi telah berlangsung sejak masa Imam Ali bin Abi Thalib. Salah satu contoh yang disampaikan adalah ketika kabar wafatnya Imam Ali di Masjid Kufah membuat sebagian masyarakat Syam terkejut karena propaganda yang beredar selama bertahun-tahun telah membentuk persepsi bahwa Imam Ali merupakan pihak yang berseberangan dengan Islam.
Menurutnya, peristiwa tersebut menunjukkan betapa berbahayanya manipulasi informasi yang mampu membalikkan fakta sejarah dan membentuk opini publik secara sistematis.
“Kebohongan yang diulang terus-menerus akhirnya dipercaya sebagai kebenaran. Inilah salah satu sebab mengapa Imam Husain bangkit,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kebangkitan Imam Husain bukan didorong ambisi politik ataupun perebutan kekuasaan, tetapi merupakan langkah menyelamatkan ajaran Islam yang ketika itu berada dalam ancaman serius akibat kepemimpinan Yazid bin Muawiyah.
Ustadz Syeikh mengutip pernyataan Imam Husain yang terkenal ketika menolak berbaiat kepada Yazid. “Apabila umat dipimpin oleh seseorang seperti Yazid, maka ucapkanlah selamat tinggal kepada Islam.”
Menurutnya, baiat bukan hanya ucapan formal, melainkan bentuk legitimasi terhadap sebuah kekuasaan. Karena itulah Imam Husain memilih menanggung seluruh konsekuensi daripada memberikan pembenaran terhadap kepemimpinan yang dianggap merusak agama.

Strategi Perjuangan Berubah Sesuai Zaman
Salah satu gagasan utama yang ditekankan Ustadz Syeikh adalah bahwa seluruh Imam Ahlul Bait memiliki tujuan perjuangan yang sama, tetapi menggunakan strategi berbeda sesuai kondisi zamannya.
Ia menjelaskan bahwa perdamaian Imam Hasan dan kebangkitan Imam Husain bukanlah dua sikap yang saling bertentangan, melainkan dua strategi berbeda dalam menghadapi realitas yang berbeda.
“Kalau Imam Hasan berada pada situasi Imam Husain, beliau akan melakukan hal yang sama. Sebaliknya, jika Imam Husain berada pada kondisi Imam Hasan, beliau juga akan memilih jalan yang sama.”
Prinsip tersebut, menurutnya, menjadi pelajaran penting bagi umat Islam agar mampu membaca perubahan zaman tanpa kehilangan prinsip-prinsip dasar agama.
Sayidah Zainab Melanjutkan Perjuangan dengan Lisan
Ceramah kemudian beralih kepada sosok Sayyidah Zainab yang disebut sebagai tokoh utama dalam menjaga pesan Karbala setelah syahidnya Imam Husain.
Ustadz Syeikh menjelaskan bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan dengan pedang. Setelah perang berakhir, medan perjuangan berpindah menjadi perjuangan melalui kata-kata, pendidikan, penyadaran, dan penyampaian kebenaran.
Baca juga: Dari Karbala untuk Indonesia: Ustadz Zahir Yahya Tegaskan Asyura sebagai Landasan Martabat Bangsa
Dalam perjalanan dari Kufah menuju Syam, Sayyidah Zainab dan Imam Ali Zainal Abidin membongkar propaganda yang selama ini dibangun penguasa. Melalui khutbah-khutbahnya, masyarakat yang sebelumnya termakan informasi sepihak mulai memahami hakikat tragedi Karbala.
“Sesudah Imam Husain syahid, perjuangan tidak berhenti. Strateginya berubah. Pedang digantikan oleh lisan. Inilah pelajaran besar bagi zaman kita,” ujarnya.
Menurutnya, perjuangan melalui ilmu, media, pendidikan, dakwah, dan penyampaian kebenaran merupakan bentuk jihad yang sangat relevan pada masa sekarang.
Asyura, Hari Kesadaran hingga Hari Kemenangan
Ustadz Syeikh kemudian menjelaskan bahwa tradisi Ahlul Bait mengenal Asyura bukan hanya sebagai hari syahadah Imam Husain, tetapi juga sebagai momentum yang memuat berbagai dimensi perjuangan manusia. Setiap penyebutan nama tersebut menggambarkan nilai yang lahir dari peristiwa Karbala dan terus relevan sepanjang zaman.
Ia menyebut Asyura sebagai Yaumul Yaqdhah atau hari kebangkitan kesadaran. Menurutnya, pengorbanan Imam Husain membangunkan umat dari panjangnya propaganda dan penyimpangan yang telah menutupi wajah Islam. Tragedi Karbala menjadi titik balik yang menggugah manusia untuk kembali membedakan kebenaran dan kebatilan.
Asyura juga disebut Yaumul Wafa, hari kesetiaan. Nilai itu tercermin dari para sahabat dan keluarga Imam Husain yang tetap teguh mendampingi pemimpinnya meski mengetahui bahwa jalan yang ditempuh akan berakhir dengan syahadah.
Selain itu terdapat Yaumut Tadhiyah, hari pengorbanan. Seluruh pengorbanan di Karbala, mulai dari keluarga, sahabat, hingga harta benda, dipersembahkan demi menjaga kelangsungan ajaran Rasulullah Muhammad SAW dan menolak legitimasi terhadap kezaliman.
Nilai berikutnya adalah Yaumus Sabr, hari kesabaran. Ustadz Syeikh menuturkan bahwa penderitaan yang dialami Imam Husain, keluarga, dan para tawanan tidak pernah menggoyahkan keyakinan mereka. Kesabaran itulah yang kemudian menjadi kekuatan moral dalam mempertahankan kebenaran.
Ia juga menyebut Asyura sebagai Yaumul Mahabbah, hari cinta. Menurutnya, seluruh pengorbanan yang terjadi di Karbala berakar pada kecintaan kepada Allah, Rasulullah, dan nilai-nilai Ilahi yang diperjuangkan Ahlul Bait.
Sementara itu Yaumul Buka, hari tangisan, dimaknai sebagai ungkapan empati dan keterikatan spiritual kepada perjuangan Imam Husain. Tangisan, menurut riwayat yang dikutipnya, bukan sekadar luapan emosi, tetapi menjadi simbol kesadaran, kecintaan, dan kedekatan seorang mukmin dengan nilai-nilai Karbala.
Baca juga: Ustadz Ahmad Hidayat: Muharram, Panggung Perlawanan terhadap Kezaliman demi Tegaknya Keadilan
Asyura juga dikenal sebagai Yaumut Taslim, hari penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Dalam pandangannya, Imam Husain dan seluruh pengikutnya memperlihatkan bentuk tertinggi kepasrahan kepada kehendak Ilahi tanpa mengorbankan prinsip-prinsip kebenaran.
Pada akhirnya, seluruh rangkaian itu bermuara pada Yaumun Nashr, hari kemenangan. Menurutnya, kemenangan Karbala tidak diukur dari hasil peperangan secara militer, melainkan dari tetap hidupnya ajaran Islam hingga hari ini. Pengorbanan Imam Husain berhasil menjaga kemurnian risalah Rasulullah dan menginspirasi perjuangan menegakkan keadilan lintas generasi.
Musuh Terbesar Ada dalam Diri Sendiri
Pada bagian penutup ceramah, Ustadz Syeikh mengingatkan bahwa seruan “Labbaik Ya Husain” tidak cukup diucapkan secara lisan apabila tidak disertai perubahan akhlak.
Ia mengutip pandangan ulama besar Ayatullah Bahjat bahwa setiap manusia memiliki potensi sifat-sifat Yazid dalam dirinya berupa kesombongan, kezaliman, penolakan terhadap kebenaran, dan kecenderungan mengikuti hawa nafsu.
Karena itu, menurutnya, perjuangan pertama yang harus dilakukan setiap pengikut Imam Husain adalah memperbaiki diri.
“Kita tidak mungkin menjadi penolong Imam Husain apabila masih memelihara sifat-sifat yang justru diperangi Imam Husain,” katanya.
Ia menegaskan bahwa membela Imam Husain berarti memerangi kezaliman yang ada dalam diri sendiri sebelum memerangi kezaliman di luar.
Karbala Menjawab Tantangan Setiap Generasi
Menutup ceramahnya, Ustadz Syeikh mengutip pidato bersejarah Sayyidah Zainab yang menegaskan bahwa seluruh upaya untuk memadamkan cahaya Ahlul Bait tidak akan pernah berhasil.
Pesan tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa perjuangan menegakkan kebenaran tidak pernah berhenti meskipun bentuk tantangannya terus berubah.
Ia mengajak seluruh hadirin menjadikan peringatan Asyura sebagai momentum memperkuat integritas, memperbaiki diri, membela keadilan, dan menghadirkan nilai-nilai Karbala dalam kehidupan sehari-hari.
Acara kemudian ditutup dengan pembacaan Surah Al-Fatihah yang dihadiahkan kepada Rasulullah SAW, Ahlul Bait, para syuhada Karbala, para ulama, orang tua, guru, kaum mukminin, serta doa untuk keselamatan bangsa Indonesia, kemenangan para pejuang yang membela keadilan, dan terwujudnya kehidupan yang lebih damai, adil, serta bermartabat. []
Baca juga: Ustadz Abdillah Baabud: Karbala Jadi Cetak Biru Perlawanan terhadap Tirani Global






