Nasional
Ustadz Ahmad Alaydrus: Empat Perspektif Memahami Pengorbanan Imam Husein a.s

Pasuruan, 28 Juni 2026 — Tragedi Karbala sering kali dipahami hanya sebagai peristiwa sejarah yang terjadi pada masa lalu. Namun, lebih dari sekadar catatan tentang sebuah konflik, Karbala menghadirkan pesan yang terus hidup tentang keberanian mempertahankan kebenaran, perjuangan melawan ketidakadilan, serta pengorbanan demi menjaga nilai-nilai agama dan kemanusiaan.
Pesan mendalam tersebut disampaikan oleh Ustadz Ahmad Alaydrus dalam ceramah malam kesebelas Muharram di Yayasan Ulul Albab Kota Pasuruan, Jumat malam (26/6). Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua DPW ABI Jawa Timur itu mengajak jamaah memahami pengorbanan agung Imam Husein a.s, melalui sudut pandang yang lebih luas dan mendasar.
Ustadz Ahmad mengawali penjelasannya dengan mengingat kembali sebuah peristiwa ketika Imam Hasan a.s, mengalami penderitaan akibat diracun. Saat melihat kondisi saudaranya, Imam Husein a.s, menangis. Namun Imam Hasan a.s, menghiburnya dengan ungkapan: “La yauma ki yawmika ya Aba Abdillah” — tiada hari sepertimu wahai Aba Abdillah.
Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa ujian yang akan dihadapi Imam Husein a.s, di Padang Karbala pada hari Asyura merupakan tragedi yang sangat besar dan memiliki dimensi perjuangan yang jauh melampaui penderitaan pribadi.
Baca juga: Prof. Syukur Suparman: Semangat Imam Husain Menguatkan Ukhuwah Islamiyah, Diniyah, dan Insaniyah
Menurut Ustadz Ahmad, memahami makna kalimat tersebut tidak cukup hanya dengan melihat peristiwa Karbala dari sisi sejarah, tetapi perlu melihat beberapa aspek penting yang menjadi ukuran sebuah pengorbanan.
Kemuliaan Pribadi yang Berkorban
Salah satu hal utama dalam memahami sebuah pengorbanan adalah melihat siapa yang melakukannya. Tidak semua pengorbanan memiliki nilai yang sama, karena nilai sebuah tindakan juga berkaitan dengan kemuliaan pribadi yang menjalankannya.
Ustadz Ahmad mengutip sabda Rasulullah SAW tentang keutamaan ilmu dan kedudukan orang berilmu dibandingkan orang yang tidak memahami. Dari hal tersebut, beliau menjelaskan bahwa semakin tinggi kemuliaan dan kedudukan seseorang, maka semakin besar pula nilai dari amal dan pengorbanannya.
Dalam konteks Imam Husein a.s, pengorbanan yang dilakukan bersama keluarga dan para sahabatnya di Karbala memiliki kedudukan yang sangat istimewa karena dilakukan oleh sosok yang memiliki kedudukan mulia dalam sejarah Islam.
Tujuan dan Motivasi Pengorbanan
Selain melihat siapa yang berkorban, sebuah pengorbanan juga harus dipahami melalui tujuan dan motivasi di baliknya.
Ustadz Ahmad menjelaskan bahwa pengorbanan yang memiliki nilai abadi adalah pengorbanan yang dilakukan karena Allah SWT. Beliau mengutip hadis:
“ما كان للهِ يَبقَى وما كانَ لِغَيرِهِ يَفنَى
‘Apa yang (diniatkan dan dilakukan) karena Allah akan kekal, dan apa yang (dilakukan) karena selain-Nya akan sirna.'”
Menurut beliau, perjuangan Imam Husein a.s, di Karbala bukan didasarkan pada kepentingan pribadi atau ambisi duniawi, melainkan sebagai bentuk ketaatan dan perjuangan mempertahankan ajaran Islam yang benar.
Besarnya Cakupan Pengorbanan
Perspektif berikutnya adalah melihat sejauh mana pengorbanan tersebut dilakukan.
Ustadz Ahmad mengaitkan pengorbanan Imam Husein a.s, dengan firman Allah SWT dalam Surat Ali ‘Imran ayat 92 tentang seseorang yang belum mencapai kebajikan sempurna sebelum memberikan sesuatu yang dicintainya.
Pengorbanan Imam Husein a.s,, menurut beliau, bukan hanya tentang kehilangan diri sendiri. Beliau mengorbankan keluarga, anak-anak, para sahabat setia, hingga nyawanya sendiri demi mempertahankan nilai-nilai Islam.
Baca juga: Kemenag Semarang: Jadikan Asyura Inspirasi Memperjuangkan Kebenaran dan Mempererat Persaudaraan
Karena itu, pengorbanan Karbala tidak dapat dipandang sebagai peristiwa biasa, sebab yang dipertaruhkan bukan hanya kehidupan pribadi, tetapi keberlangsungan nilai dan ajaran agama.
Hasil dan Dampak Pengorbanan
Aspek terakhir yang perlu dilihat adalah hasil yang lahir dari sebuah pengorbanan.
Ustadz Ahmad menyampaikan bahwa perjuangan Imam Husein a.s, di Karbala memberikan dampak besar bagi keberlangsungan nilai-nilai Islam hingga saat ini. Beliau menjelaskan bahwa pada masa tersebut terdapat upaya penyimpangan terhadap ajaran Islam dan penggunaan kekuasaan yang berpotensi menjauhkan umat dari nilai-nilai yang dibawa Rasulullah SAW.
Dalam pandangan beliau, kebangkitan Imam Husein a.s, menjadi titik penting yang menjaga kesadaran umat terhadap pentingnya mempertahankan kebenaran dan melawan penyimpangan.
“Islam ada dan berkembang karena kedatangan Rasulullah SAWW. Namun salah satu sebab mengapa nilai-nilai Islam tetap terjaga hingga hari ini adalah karena kebangkitan dan pengorbanan Imam Husein a.s, di Karbala,” jelas Ustad Ahmad.
Pada akhirnya, memahami makna pengorbanan Imam Husein a.s, membutuhkan cara pandang yang menyeluruh. Tidak cukup hanya melihat peristiwa yang terjadi, tetapi juga memahami siapa yang berkorban, apa tujuan perjuangannya, seberapa besar pengorbanannya, dan bagaimana dampaknya bagi umat manusia.
Karbala bukan hanya cerita masa lalu, tetapi menjadi refleksi tentang keberanian menjaga prinsip, mempertahankan kebenaran, dan menempatkan nilai-nilai Ilahi di atas kepentingan pribadi.
Ungkapan “tiada hari sepertimu wahai Aba Abdillah” menjadi pengingat bahwa terdapat pengorbanan yang tidak hanya dikenang oleh sejarah, tetapi juga terus memberikan makna bagi generasi setelahnya. [HMP Pasuruan Kota]
Baca juga: Ustadz Syeikh Al Hamid: Karbala Menjawab Zaman, Suara Kebenaran Tak Pernah Padam







