Ikuti Kami Di Medsos

Nasional

Dubes Iran Mohammad Boroujerdi Tawarkan Kolaborasi Investasi, Riset, dan Sister Province untuk Jawa Tengah

Published

on

Dubes Iran untuk Indonesia, H.E. Mohammad Boroujerdi, memaparkan peluang kerja sama investasi, riset, dan kemitraan strategis Iran–Jawa Tengah dalam diskusi publik di Semarang.
Dubes Iran untuk Indonesia, H.E. Mohammad Boroujerdi, memaparkan peluang kerja sama Iran–Jawa Tengah dalam diskusi publik di Rumah Po Han, Semarang. (Foto: ABI)

Semarang, 24 Juli 2026 — Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, H.E. Mohammad Boroujerdi, melakukan rangkaian kunjungan kerja ke Jawa Tengah pada 22–23 Juli 2026 untuk memperkuat hubungan Indonesia–Iran melalui penjajakan kerja sama di bidang investasi, perdagangan, ketahanan pangan, pendidikan, riset, teknologi, kesehatan, serta kemitraan antardaerah melalui skema sister province dan sister city.

Salah satu agenda utamanya adalah menghadiri diskusi publik Understanding Nationalism and Development in Iran yang diselenggarakan DPW Partai PRIMA Jawa Tengah di Rumah Po Han, Kota Lama Semarang. Dalam berbagai agenda di Jawa Tengah, Boroujerdi berdialog dengan akademisi, tokoh masyarakat, mahasiswa, dan organisasi politik mengenai pembangunan nasional, nasionalisme, serta prospek penguatan kerja sama Indonesia–Iran di tingkat daerah.

Dalam pemaparannya, Boroujerdi menjelaskan bahwa kemajuan Iran bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu nasionalisme yang bertanggung jawab, kemandirian bangsa, serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurutnya, nasionalisme diwujudkan melalui tindakan nyata untuk menjaga kedaulatan, memperkuat kapasitas nasional, dan mengutamakan kepentingan bersama. Sementara itu, kemandirian berarti kemampuan suatu bangsa membangun kekuatan sendiri tanpa bergantung pada pihak asing, termasuk ketika menghadapi embargo maupun tekanan global.

Baca juga: Dubes Iran: Teheran Belum Pastikan Kehadiran Menlu Sugiono di Pemakaman Syahid Imam Ali Khamenei

“Iran menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan Israel bukan hanya di bidang militer, tetapi juga dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuan utamanya adalah menghilangkan kemandirian bangsa kami,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Boroujerdi, penguasaan sains, teknologi, riset, dan inovasi menjadi prioritas pembangunan Iran. Ia menegaskan bahwa kemandirian bukan berarti mengisolasi diri dari dunia internasional, melainkan membangun kemampuan nasional dengan bertumpu pada potensi dan karakter bangsa, sembari tetap membuka ruang kerja sama yang saling menguntungkan.

Boroujerdi menilai Jawa Tengah memiliki potensi besar menjadi salah satu mitra strategis Iran di Indonesia. Ia menawarkan kerja sama di bidang investasi, perdagangan, ketahanan pangan, pendidikan tinggi, kesehatan, teknologi, dan riset ilmiah. Menurutnya, hubungan tersebut dapat diperkuat melalui jejaring antarkampus, pertukaran mahasiswa dan dosen, penelitian bersama, pengembangan riset biomedis, teknologi alat kesehatan, inovasi sel punca (stem cell), serta pembentukan skema sister province dan sister city sebagai jembatan diplomasi antardaerah.

Selama kunjungannya di Jawa Tengah, Boroujerdi juga bertemu Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi untuk membahas peluang kemitraan ekonomi, perdagangan, investasi, serta rencana pembentukan hubungan sister city antara Kota Semarang dan Kota Yazd di Iran.

Rangkaian lawatan tersebut juga mencakup kunjungan ke Universitas Diponegoro (Undip), tempat Boroujerdi menyampaikan kuliah umum mengenai perspektif Teheran terhadap dinamika geopolitik dan konflik di Timur Tengah. Ia juga menghadiri seminar internasional Reconfiguring Middle Eastern Geopolitics di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Walisongo Semarang, serta mengunjungi Agung Putra University (APU) dan Stem Cell and Cancer Research (SCCR) Indonesia untuk membahas peluang kolaborasi di bidang riset biomedis, teknologi kesehatan, dan inovasi sel punca.

Baca juga: Negara Teluk dan Yordania Kutuk Iran, Bungkam soal Serangan AS dan Israel

“Iran memandang Indonesia bukan hanya sebagai mitra bisnis, tetapi sebagai sahabat yang dapat berkembang bersama dalam berbagai bidang strategis,” katanya.

Boroujerdi juga menegaskan bahwa masa depan Asia harus dibangun oleh bangsa-bangsa Asia sendiri melalui kolaborasi yang setara, bukan ditentukan oleh kepentingan negara-negara besar.

Sementara diskusi di Rumah Po Han berlangsung interaktif dan dihadiri kader Partai PRIMA Jawa Tengah, akademisi, aktivis, mahasiswa, serta masyarakat umum. Para peserta memanfaatkan forum tersebut untuk berdialog mengenai pembangunan nasional, pengembangan ilmu pengetahuan, peluang kerja sama Indonesia–Iran, dan dinamika geopolitik kawasan.

Menutup paparannya, Boroujerdi mengutip syair penyair Persia, Saadi Shirazi: “Bani Adam adalah anggota dari satu tubuh, diciptakan dari satu esensi. Apabila satu anggota tubuh merasakan sakit, anggota tubuh yang lain turut merasakan penderitaan yang sama.” Menurutnya, pesan tersebut menegaskan bahwa solidaritas, kemanusiaan, dan kerja sama merupakan fondasi penting dalam membangun hubungan antarbangsa.

Ketua DPW Partai PRIMA Jawa Tengah, Bagas Ardianto Saputra, menyambut baik rangkaian kunjungan Dubes Iran ke Jawa Tengah. Menurutnya, lawatan tersebut membuka peluang bagi terjalinnya kerja sama yang lebih erat antara Jawa Tengah dan Iran, terutama di bidang investasi, perdagangan, ketahanan pangan, pendidikan, teknologi, dan riset, yang diharapkan memberikan manfaat bagi kedua pihak. []

Baca juga: Kompleks Hunian Personel Militer AS di Kuwait Hancur