Nasional
Karhutla Tembus 1,92 Juta Hektare, Api Ancam Permukiman di Kalteng
![Karhutla Indonesia mencapai 1,92 juta hektare hingga akhir September 2026. Api mengancam permukiman warga di Kalimantan Tengah. (Foto: Ulet Ifansasti]](https://ahlulbaitindonesia.or.id/wp-content/uploads/2026/10/Karhutla.jpeg)
Kalteng, 22 Oktober 2026 – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia meluas hingga 1.916.588 hektare pada akhir September 2026. Di Kalimantan Tengah (Kalteng), kobaran api bahkan mengancam permukiman warga, memaksa sejumlah penduduk berjaga pada malam hari untuk mengantisipasi perambatan api.
Ancaman itu kian serius di tengah kemarau berkepanjangan. Vegetasi yang mengering dan terbatasnya pasokan air menyulitkan upaya pemadaman, sementara titik-titik kebakaran terus bermunculan.
Pada Rabu (21/10/2026), petugas pemadam kebakaran bersama warga berupaya menangani sejumlah titik api di Kalteng. Salah satu wilayah yang terdampak ancaman kebakaran adalah kawasan Perumahan Menara Permai, khususnya klaster 5, 6, dan 7.
Warga setempat mengaku khawatir karena kobaran api kali ini berada lebih dekat dengan permukiman dibandingkan kejadian yang pernah mereka alami sebelumnya. Sejumlah warga pun berkoordinasi dan bersiaga untuk mengantisipasi kemungkinan api menjalar ke rumah-rumah.
Kebakaran juga dilaporkan terjadi di lahan dekat kompleks pemakaman umum di Kabupaten Kotawaringin Timur. Lahan tersebut diduga milik perseorangan, tetapi penyebab awal kebakaran belum dipastikan. Kemungkinan pembakaran sengaja maupun perambatan api dari lokasi lain belum dapat dipastikan berdasarkan informasi yang tersedia.
Di tengah kondisi tersebut, ketersediaan air menjadi kendala utama. Berbulan-bulan tanpa hujan membuat sumber air terbatas, sehingga upaya pemadaman menghadapi tantangan lebih besar.
Luas Lahan Terdampak Melonjak
Ancaman kebakaran di sekitar permukiman Kalteng merupakan bagian dari krisis karhutla yang lebih luas. Data Nusantara Atlas mencatat, luas lahan terdampak kebakaran di Indonesia mencapai 1.916.588 hektare hingga akhir September 2026, meningkat dari 895.650 hektare pada Agustus.
Artinya, luas lahan terdampak bertambah sekitar 1,02 juta hektare dalam rentang tersebut. Angka kumulatif itu juga dilaporkan sekitar 38 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2019, ketika luas lahan terdampak mencapai sekitar 1,39 juta hektare.
Di Pulau Kalimantan, luas lahan terdampak diperkirakan mencapai 684.000 hektare. Kalimantan Tengah menyumbang sekitar 220.000 hektare, sedangkan Kalimantan Barat sekitar 275.000 hektare.
Angka tersebut perlu dibaca secara cermat. Luas lahan terdampak kebakaran tidak serta-merta menunjukkan seluruh vegetasi di dalamnya musnah atau terbakar habis. Karena itu, angka kumulatif tersebut lebih tepat menggambarkan cakupan wilayah yang terdampak kebakaran, bukan ukuran kerusakan vegetasi secara menyeluruh.
Sementara itu, hingga 20 Oktober 2026, tercatat sekitar 1,15 juta titik panas. Data titik panas dapat membantu mengidentifikasi indikasi aktivitas termal, tetapi tidak identik dengan jumlah kejadian kebakaran. Satu kejadian dapat terdeteksi melalui beberapa titik, sedangkan tidak semua titik panas berujung pada kebakaran yang terkonfirmasi.
Kabut Asap Meluas, Dampak Menyeberangi Perbatasan
Meluasnya karhutla bukan hanya mengancam permukiman dan ekosistem, melainkan juga memperbesar risiko kesehatan masyarakat. Paparan asap dilaporkan berkaitan dengan gangguan pernapasan yang dialami ratusan ribu orang. Kabut asap juga disebut menjangkau Singapura, Malaysia, hingga Timor-Leste.
Dampak kebakaran turut merembet ke sektor transportasi udara. Sejak 11 Agustus 2026, sebanyak 2.604 penerbangan domestik dilaporkan terdampak, dengan lebih dari 1.400 penerbangan mengalami pembatalan atau penundaan. Gangguan jarak pandang akibat asap menjadi salah satu risiko yang perlu diwaspadai dalam operasional penerbangan.
Besarnya dampak tersebut memperlihatkan bahwa karhutla tidak berhenti sebagai persoalan kebakaran di satu wilayah. Asap, gangguan kesehatan, dan hambatan transportasi dapat menjalar jauh melampaui lokasi sumber api.
Di Kalimantan Tengah, ancaman yang paling mendesak tetap keselamatan warga yang tinggal di dekat titik kebakaran. Keterbatasan air, kondisi lahan yang mengering, dan potensi perambatan api membuat penanganan karhutla membutuhkan respons cepat sekaligus koordinasi antara petugas dan masyarakat.
Bagi warga di sekitar kawasan rawan, berjaga pada malam hari menjadi bagian dari upaya menghadapi ancaman yang belum sepenuhnya terkendali. Namun, keselamatan mereka tidak semestinya bergantung pada kesiapsiagaan warga semata. Pengendalian kebakaran dan perlindungan permukiman menjadi kebutuhan mendesak di tengah meluasnya karhutla. []
Sumber:
- Video laporan lapangan: YouTube.
- Nusantara Atlas, Indonesia’s 2026 Fires: 1.9 Million Hectares Affected by Fire Through September.
- Reuters, Indonesia’s Burned Land Doubles in September as Fires Rage, Data Shows.







