Ikuti Kami Di Medsos

Nasional

Sembilan Belas Tahun HIKDMAT: Merawat Kepedulian dan Menguatkan Pengabdian

Published

on

HIKDMAT memperingati usia ke-19 pada Sabtu malam (17/10/2026), dengan meneguhkan komitmen pengabdian, memperkuat organisasi, dan menjaga fondasi keimanan.
HIKDMAT memperingati usia ke-19 pada Sabtu malam (17/10/2026), dengan meneguhkan komitmen pengabdian, memperkuat organisasi, dan menjaga fondasi keimanan.

Bangsri, 18 Oktober 2026 — Memasuki usia ke-19, Himpunan Komunitas Peduli Ummat (HIKDMAT) didorong untuk memperluas jaringan dan meningkatkan kapasitas organisasi tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi fondasi perjuangannya. Pesan tersebut disampaikan Pembina HIKDMAT, Ustadz Miqdad Turkan, dalam peringatan hari lahir (harlah) ke-19 organisasi itu pada Sabtu malam (17/10/2026).

Ustadz Miqdad mengingatkan bahwa perjalanan panjang tidak seharusnya membuat anggota berpuas diri. Capaian yang telah diraih perlu menjadi pijakan untuk memperkuat pengelolaan organisasi, mengembangkan potensi, dan memperluas jangkauan kegiatan.

Baca juga: HIKDMAT Hadir Membawa Bantuan dan Harapan bagi Warga Terdampak Krisis Air di Srikandang

Peringatan tersebut dihadiri perwakilan organisasi kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, lembaga pendidikan, pemerintah desa, aparat keamanan, serta tokoh masyarakat. Mereka antara lain berasal dari Gusdurian, Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu), Pemerintah Desa Banjaran, Kepolisian, BPBD Kabupaten Jepara, ABI Responsif, DPD ABI Jepara, Darut Taqrib, Pemuda Responsif, Pandu Jepara, tokoh masyarakat Sendang Sari, dan Ikatan Remaja Masjid (Irmas) Mbah Muhammad Arif.

Usia 19 Tahun, Saatnya Melangkah Lebih Jauh

Pembina HIKDMAT, Ustadz Miqdad Turkan, mengenang perjalanan organisasi yang bermula dari kesederhanaan hingga berkembang seperti sekarang. Ia memaknai usia 19 tahun sebagai fase transisi menuju kedewasaan, baik dalam kehidupan individu maupun organisasi di tengah masyarakat.

Menurutnya, kedewasaan menuntut kemampuan mengelola kehidupan secara tepat dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Karena itu, perjalanan HIKDMAT selama 19 tahun perlu menjadi pijakan untuk memperkuat organisasi, bukan alasan untuk merasa cukup dengan capaian yang telah diraih.

Ustadz Miqdad berharap HIKDMAT tetap eksis hingga kemunculan Imam Mahdi. Ia memandang pengabdian di tengah masyarakat sebagai bagian penting dari penantian tersebut. Penantian, dalam pandangan ini, bukan sikap pasif yang berhenti pada harapan, melainkan keyakinan yang diwujudkan melalui kerja nyata, kepedulian terhadap sesama, dan kesediaan menjalankan tanggung jawab sosial.

Atas dasar itu, ia mengingatkan anggota agar tidak menjadikan keinginan untuk dikenal sebagai tujuan utama. HIKDMAT perlu terus bekerja dan memberikan manfaat dengan tulus. Pengakuan masyarakat semestinya tumbuh dari apa yang dikerjakan, bukan menjadi alasan di balik pengabdian.

Ke depan, Ustadz Miqdad mendorong HIKDMAT memperluas jaringan dan mengembangkan kapasitas organisasi. Namun, pertumbuhan tersebut harus tetap bertumpu pada fondasi keimanan kepada Allah dan keyakinan kepada Ahlul Bait. Sebesar apa pun organisasi berkembang, landasan tersebut tidak boleh goyah.

Baca juga: Ketua DPW ABI Jawa Timur Tegaskan Tiga Pesan Utama dalam Kunjungan Kerja DPP ABI

Menjalankan Program di Tengah Keterbatasan

Dorongan untuk mengembangkan organisasi tidak terlepas dari pengalaman HIKDMAT menjalankan berbagai kegiatan dengan sumber daya terbatas. Ketua HIKDMAT, Abdullah Noor Kholis, menyampaikan penghargaan kepada seluruh anggota yang telah menjaga keberlangsungan organisasi selama 19 tahun.

Ia menegaskan bahwa HIKDMAT merupakan organisasi nonpartisan dan nirlaba yang menghimpun anggota dari beragam latar belakang mazhab, termasuk Syiah dan Sunni. Perbedaan tersebut tidak menghalangi anggota untuk bekerja bersama dalam kegiatan kemanusiaan.

HIKDMAT menjalankan layanan ambulans bagi masyarakat dari berbagai kalangan, mendistribusikan air bersih ke wilayah pegunungan yang mengalami kesulitan pasokan, serta menyelenggarakan program Jumat Berkah.

Melalui program Jumat Berkah, ibu-ibu HIKDMAT memasak dan membagikan makanan kepada para janda dan anak yatim. Kegiatan ini menjangkau lebih dari 50 penerima manfaat.

Abdullah mengakui bahwa keterbatasan dana menjadi tantangan dalam mempertahankan kegiatan tersebut. Biaya operasional dan program sosial sebagian besar bergantung pada donasi masyarakat. Dalam pelaksanaan Jumat Berkah, misalnya, para donatur membantu menyediakan beras, kotak makanan, dan kebutuhan lainnya. Sementara itu, distribusi air bersih dilakukan dengan memanfaatkan mobil tangki pinjaman.

Dukungan para donatur dan keterlibatan anggota menjadi penopang keberlangsungan program-program tersebut di tengah keterbatasan sumber daya.

Baca juga: Budidaya Pisang Raja Kresek DPD Lumajang Menarik Perhatian DPW ABI Jawa Tengah

Pemerintah Desa Tekankan Pentingnya Kekompakan

Jazeri, yang hadir mewakili Pemerintah Desa Banjaran, menyampaikan ucapan selamat atas harlah ke-19 HIKDMAT. Ia berharap organisasi tersebut terus berkembang, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Dalam sambutannya, Jazeri mengibaratkan organisasi kemasyarakatan sebagai kendaraan yang membutuhkan pengemudi, bahan bakar, dan roda. Pengemudi menggambarkan pimpinan, bahan bakar melambangkan donasi, sedangkan roda merepresentasikan anggota yang kompak.

Perumpamaan tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan, dukungan sumber daya, dan keterlibatan anggota harus berjalan beriringan. Kekompakan menjadi modal penting agar organisasi mampu menjalankan program, menghadapi tantangan, dan melanjutkan kegiatannya.

Api Unggun dan Filosofi Pengabdian

Peringatan harlah ke-19 HIKDMAT ditutup dengan penampilan teatrikal menyalakan api unggun oleh para anggota. Prosesi tersebut mengangkat filosofi yang terangkum dalam semangat HIKDMAT: peduli sebagai kesadaran, berbagi sebagai tindakan, dan mengabdi sebagai komitmen.

Dalam narasi yang mengiringi prosesi, narator mengajak hadirin mencermati kayu-kayu yang tersusun di hadapan mereka.

“Perhatikan kayu-kayu yang tersusun di hadapan kita. Bentuknya berbeda. Ukurannya tidak sama. Namun, ketika disusun dengan tepat dan disatukan dalam satu tujuan, semuanya dapat menopang nyala api yang sama.”

Gambaran tersebut menegaskan bahwa perbedaan tidak menghalangi orang untuk bergerak bersama. Setiap anggota memiliki peran dalam menjaga keberlangsungan organisasi, sebagaimana kayu-kayu yang menopang nyala api. Kepedulian menumbuhkan kesadaran, berbagi menerjemahkannya ke dalam tindakan, dan pengabdian menjaga keduanya tetap hidup dalam komitmen.

Nyala api unggun menjadi simbol harapan agar semangat HIKDMAT terus terpelihara, mempererat kebersamaan, dan mengiringi langkah organisasi dalam perjalanan mendatang. []

Baca juga: Muslimah ABI Pasuruan Bahas Program Sosial dan Perdalam Manifesto ABI