Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

USS Abraham Lincoln Jadi Simbol Krisis AS dalam Perang dengan Iran

Published

on

Sejumlah anggota Kongres AS mendesak pemerintah memberikan penjelasan mengenai kondisi USS Abraham Lincoln.
Sejumlah anggota Kongres AS mendesak pemerintah memberikan penjelasan mengenai kondisi USS Abraham Lincoln.

Media ABI, 17 Agustus 2026 — Kondisi kapal induk USS Abraham Lincoln dan kekhawatiran keluarga awaknya menjadi simbol meningkatnya kecemasan di Amerika Serikat mengenai kemampuan militer negara tersebut mengelola perang berkepanjangan melawan Iran. Penugasan panjang, persoalan logistik, serta kekhawatiran mengenai kesehatan mental awak kapal memicu tekanan baru terhadap Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.

Menurut laporan IRNA pada Minggu, 16 Agustus 2026, yang mengutip Financial Times, kontroversi mengenai USS Abraham Lincoln mencuat setelah keluarga awak kapal menyampaikan kepada media dan anggota Kongres mengenai kekurangan persediaan, persoalan kualitas air, serta masalah kesehatan mental di tengah penugasan yang telah berlangsung hampir sembilan bulan.

Baca juga: Fasilitas Aramco Meledak, Arab Saudi Konfirmasi Serangan di Jizan

Kapal tersebut membawa hampir 5.000 pelaut dan menjadi bagian dari pengerahan besar-besaran Angkatan Laut AS di Timur Tengah dalam perang melawan Iran.

Presiden AS Donald Trump pada Jumat menepis kekhawatiran yang disampaikan keluarga awak kapal dan mengatakan USS Abraham Lincoln akan segera digantikan oleh kapal induk lain.

Namun, menurut kolumnis Financial Times, persoalan di USS Abraham Lincoln muncul bersamaan dengan meningkatnya pesimisme publik Amerika terhadap perang melawan Iran yang dinilai berkembang menjadi konflik luar negeri lain yang panjang dan mahal.

Persoalan kapal tersebut juga menambah kekhawatiran mengenai besarnya biaya persenjataan sekaligus tekanan terhadap sumber daya militer AS akibat perang.

Tekanan terhadap Pete Hegseth meningkat

Kondisi USS Abraham Lincoln menjadi ujian baru bagi Hegseth yang sebelumnya telah menghadapi kritik setelah sejumlah jenderal senior militer AS diberhentikan dan terjadi upaya mengubah kultur militer sesuai pandangan yang disebut sebagai anti-woke.

Hegseth sendiri menolak laporan mengenai kondisi buruk awak kapal. Saat berada di Panama pada Kamis, dia mengatakan USS Abraham Lincoln telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik.

“USS Abraham Lincoln telah menjaga garis merah negara dan melakukan pekerjaan yang luar biasa,” kata Hegseth kepada wartawan.

Namun, Financial Times menilai tekanan terhadap Hegseth kemungkinan akan terus meningkat karena pemerintahan Trump dinilai semakin dianggap tidak memberikan perhatian memadai terhadap kekhawatiran keluarga para pelaut.

Baca juga: Kapal Tanker UEA Diserang di Selat Hormuz

Pemimpin minoritas Demokrat di Senat, Chuck Schumer, dalam beberapa hari terakhir secara terbuka menyerukan agar Hegseth dicopot dari jabatan Menteri Pertahanan. Sejumlah anggota Kongres juga mengirim surat yang mendesak Hegseth segera memberikan penjelasan mengenai kondisi kapal tersebut.

Scott Peters, anggota DPR AS sekaligus salah satu penyusun surat tersebut, mengatakan kepada Financial Times bahwa persoalan tersebut merupakan kebutuhan keamanan nasional dan keluarga awak USS Abraham Lincoln berhak mengetahui kondisi yang terjadi di kapal.

Penugasan panjang picu kekhawatiran kesiapan militer

USS Abraham Lincoln merupakan bagian dari pengerahan besar-besaran militer AS di Timur Tengah akibat perang melawan Iran.

Mantan Wakil Menteri Angkatan Laut AS Eric Raven mengatakan terdapat kekhawatiran di berbagai tingkatan militer bahwa pola penugasan dan tempo operasi tidak dikelola dengan baik.

“Di berbagai tingkat militer terdapat kekhawatiran besar bahwa rencana penugasan dan tempo operasi tidak dikelola dengan baik,” kata Raven.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya terjadi di Angkatan Laut, tetapi juga Angkatan Udara dan Angkatan Darat.

“Jika kita berasumsi bahwa semua personel harus berada di bawah tekanan yang lebih besar, saya pikir banyak pakar militer memahami bahwa hal tersebut akan berdampak jangka panjang terhadap kesiapan pasukan,” ujarnya.

Baca juga: Mearsheimer Bantah Klaim Trump soal Hormuz: Iran Masih Pegang Kendali

Rosemary Klanic, Direktur Program Timur Tengah di lembaga kajian Defense Priorities yang berbasis di Washington, menilai kemarahan terhadap kondisi USS Abraham Lincoln mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas mengenai tekanan terhadap militer AS.

“Kemarahan yang muncul akibat USS Abraham Lincoln mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas bahwa militer Amerika Serikat dipaksa untuk terus melanjutkan operasi dengan sumber daya yang terbatas,” kata Klanic.

Klanic juga menyoroti pentingnya pemenuhan kebutuhan dasar personel selama operasi militer.

“Saya sangat bersimpati kepada para prajurit dan keluarga mereka. Namun, dari sudut pandang analitis, jika kebutuhan dasar mereka tidak terpenuhi, kita tidak dapat menyebutnya sebagai kekuatan tempur. Memenuhi kebutuhan pasukan merupakan aturan pertama dalam perang, dan Amerika Serikat telah gagal melakukannya,” ujarnya. []

Baca juga: CIA Pun Ragukan Intelijen Israel soal Ancaman Iran terhadap Trump