Internasional
Mearsheimer Bantah Klaim Trump soal Hormuz: Iran Masih Pegang Kendali

Ahlulbait Indonesia, 12 Agustus 2026 — Profesor ilmu politik Universitas Chicago John Mearsheimer membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Selat Hormuz terbuka dan berada di bawah kendali Amerika. Mearsheimer mengatakan Trump memahami bahwa Washington tidak menguasai jalur strategis tersebut dan Iran masih memegang kendalinya.
Dalam wawancara dengan analis politik Andrew Napolitano pada Selasa malam (11/8/2026) bertajuk Prof. John Mearsheimer, What Comes Next in Iran?, Mearsheimer juga menilai Amerika Serikat berulang kali gagal dalam perang karena menetapkan tujuan terlalu luas dan berupaya melakukan rekayasa sosial di negara lain.
“Saya memasuki militer Amerika Serikat pada masa Perang Vietnam, sebuah perang yang menjadi kekalahan tragis bagi Amerika. Sejak saat itu, menurut saya, kami hanya memiliki satu perang yang berhasil, yaitu Perang Teluk pertama pada 1991,” kata Mearsheimer.
Baca juga: Begini Taktik Iran Tembus Pertahanan AS hingga Jatuhkan F-15E
Menurut Mearsheimer, keberhasilan Perang Teluk 1991 berbeda dari sebagian besar perang Amerika karena Washington menetapkan tujuan terbatas, yakni mengusir pasukan Irak dari Kuwait.
“Kami tidak masuk ke Irak untuk melakukan rekayasa sosial. Kami melakukan itu pada 2003 dan kita semua tahu hasilnya,” ujarnya.
Mearsheimer mengatakan Amerika dapat memenangkan banyak pertempuran tetapi tetap kalah dalam perang, seperti yang terjadi di Vietnam. Menurutnya, persoalan mendasar muncul ketika Washington mencoba melakukan rekayasa sosial berskala besar di negara-negara yang sangat sulit dikelola.
“Kami bahkan menghadapi kesulitan melakukan rekayasa sosial di negara kami sendiri dan memiliki masalah besar dalam mengelola Amerika Serikat dengan baik dan harmonis,” katanya.
Menurut Mearsheimer, anggapan bahwa sejumlah warga Amerika dapat dikirim ke Vietnam, Afghanistan, atau Irak untuk melakukan rekayasa sosial dan menghasilkan kondisi yang diinginkan merupakan sebuah ilusi.
Mearsheimer Nilai Trump Kesulitan Mengakhiri Perang
Ketika ditanya mengenai pilihan yang tersedia bagi Trump dan posisi konflik Iran saat ini, Mearsheimer mengatakan persoalannya bukan hanya karena Trump lelah atau kehilangan kesabaran. Menurutnya, Trump sangat kecewa karena tidak mampu menghentikan perang dengan Iran.
Mearsheimer juga menyinggung keputusan pemerintahan Trump menarik diri dari kesepahaman Islamabad. Menurutnya, Washington secara keliru meninggalkan kesepakatan tersebut sehingga praktis menghapusnya dari sejarah.
Mearsheimer mengatakan Iran kini mengajukan sejumlah tuntutan baru dan dirinya tidak mengetahui bagaimana Trump dapat menerima tuntutan tersebut.
“Masalah lainnya adalah persoalan nuklir pada dasarnya telah disingkirkan dari meja dan Iran kini memiliki motivasi yang lebih besar daripada sebelumnya untuk memperoleh senjata nuklir,” katanya.
Iran berulang kali menyatakan senjata nuklir tidak memiliki tempat dalam doktrin pertahanannya dan menegaskan tidak berniat membangun senjata tersebut.
Baca juga: Kapal Pembawa Peralatan Militer Saudi Dihantam Yaman di Al-Mokha
Mearsheimer Bantah Klaim Trump soal Kendali Hormuz
Menanggapi klaim Trump bahwa Selat Hormuz terbuka dan berada di bawah kendali Amerika, Mearsheimer mengatakan Trump tidak pernah mau mengakui kekalahan.
“Presiden Trump tidak pernah menerima kekalahan. Dia selalu menang. Kami selalu mengendalikan keadaan, tetapi kenyataan tidak penting baginya. Apa yang dia katakan sepenuhnya keliru. Dia sangat tahu bahwa dirinya maupun Amerika tidak mengendalikan selat tersebut dan Iranlah yang memegang kendali,” kata Mearsheimer.
Mearsheimer mengatakan Trump telah berbulan-bulan berusaha mencari cara untuk membuka Selat Hormuz. Menurutnya, persoalan tersebut mendapat perhatian besar dari Trump maupun pejabat pemerintahannya.
“Masalahnya adalah, seperti yang saya katakan, mereka tidak dapat membuka selat tersebut,” ujarnya.
Mearsheimer juga mengaku tidak mengetahui bagaimana Trump dapat menerima tuntutan Iran. Namun, menurutnya, Trump juga sulit menolaknya karena Amerika pada akhirnya harus membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Mearsheimer Sebut Empat Target Washington Gagal Dicapai
Mearsheimer menilai semakin jelas bahwa Amerika Serikat tidak mencapai satu pun dari empat tujuan yang ditetapkan dalam perang.
Tujuan pertama adalah menghancurkan kemampuan Iran melakukan pengayaan nuklir. Kedua, mengakhiri kemampuan rudal jarak jauh Iran. Ketiga, mengurangi atau menghapus dukungan Iran terhadap Hamas, Hizbullah, dan Houthi. Keempat, yang menurut Mearsheimer merupakan tujuan paling penting, adalah mewujudkan perubahan rezim di Iran.
“Tiga tujuan pertama bergantung pada pencapaian tujuan keempat,” katanya.
Menurut Mearsheimer, Washington gagal mencapai perubahan rezim. Persoalan nuklir juga tidak terselesaikan dan dirinya tidak melihat peluang tercapainya kesepakatan nuklir dalam waktu dekat.
“Menurut saya, kami mengalami kekalahan besar dalam persoalan ini,” ujarnya.
Mearsheimer menambahkan bahwa Amerika juga mengalami kegagalan dalam sejumlah persoalan lain di luar empat tujuan tersebut. Struktur pangkalan militer Amerika di kawasan disebut praktis hancur, struktur aliansi Washington di Timur Tengah mengalami kerusakan berat, sementara ekonomi internasional juga mengalami dampak besar. []
Baca juga: Bentrokan Berdarah di Kapal Induk AS Abraham Lincoln, Tujuh Awak Tewas







