Internasional
Perang Iran Makin Mahal bagi Rumah Tangga Amerika

Media ABI, 14 September 2026 – Perang dengan Iran yang telah berlangsung lebih dari enam bulan mulai menambah beban pengeluaran rumah tangga di Amerika Serikat. Mark Zandi, kepala ekonom Moody’s Analytics, memperkirakan biaya perang telah mencapai sekitar 1.650 dolar untuk setiap rumah tangga hingga pekan lalu dan masih akan meningkat.
Fars News Agency mengutip laporan Politico yang menyebut Presiden Donald Trump dalam Konvensi Pertengahan Masa Partai Republik di Dallas mengatakan perang dengan Iran akan berakhir “segera setelah” pemilu paruh waktu. Trump meminta warga Amerika menanggung harga bensin yang lebih tinggi sampai saat itu dengan alasan perang diperlukan untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
Baca juga: IRGC: Intelijen AS Gagal Membaca Realitas Medan
“Apakah Iran bisa memiliki senjata nuklir? Tentu tidak. Jadi, saya benar,” kata Trump.
Perkiraan Zandi menunjukkan sekitar 860 dolar dari beban tersebut berasal dari kenaikan biaya energi, 420 dolar dari biaya pinjaman dan 370 dolar dari pengeluaran militer. Menurut Zandi, tekanan keuangan akan semakin berat dan paling terasa bagi keluarga berpendapatan menengah serta rendah.
Harga minyak pada Kamis menembus 107 dolar per barel, level tertinggi sejak Mei. Gregory Brew, analis senior Eurasia Group, mengatakan kenaikan tersebut sebagian dipengaruhi pernyataan Trump yang menunjukkan Washington tidak mengharapkan kemajuan dalam persoalan Iran sebelum pemilu paruh waktu.
HSBC, Goldman Sachs dan Bank of America juga menaikkan proyeksi harga minyak untuk 2027 menjadi sekitar 85 dolar per barel.
Beban ekonomi itu muncul ketika dukungan publik Amerika terhadap perang masih rendah. Jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan hanya 31 persen warga Amerika mendukung perang, sementara 83 persen memperkirakan konflik akan berlangsung dalam waktu lama.
Baca juga: CNN Bongkar Campur Tangan Pentagon terhadap Pilot F-15 yang Jatuh di Iran
Brittany Martinez, strategis Partai Republik, mengatakan sulit meyakinkan pemilih bahwa penderitaan ekonomi akibat perang merupakan pengorbanan jangka pendek yang akan membawa manfaat. Menurutnya, pesan tersebut berhadapan langsung dengan kondisi ekonomi yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Gedung Putih menyatakan Trump berkomitmen menurunkan biaya energi. Pemerintah juga mengatakan harga akan kembali ke tingkat sebelum konflik setelah Amerika Serikat memperoleh kendali penuh atas Selat Hormuz.
Tekanan terhadap jalur energi kawasan belum berhenti. Arab Saudi sebelumnya memperluas jalur pipa menuju Laut Merah sehingga ketergantungan terhadap Selat Hormuz sedikit berkurang. Namun, jalur tersebut kini menghadapi peningkatan serangan dari gerakan Ansarullah Yaman. Pada Selasa, Ansarullah memperluas serangannya ke wilayah Arab Saudi dan menyasar infrastruktur energi.
Di Amerika Serikat, cadangan minyak strategis juga telah mencapai level terendah sejak era Presiden Ronald Reagan. Kondisi tersebut mempersempit ruang pemerintah untuk menggunakan cadangan strategis sebagai instrumen guna menahan kenaikan harga minyak. []
Baca juga: Stok Rudal Pencegat Menipis, Trump Pamer Senjata Laser







