Internasional
Newsweek: Saudi Kembali Minta Bantuan Washington Hadapi Yaman

Media ABI, 12 September 2026 – Arab Saudi kembali meminta bantuan Amerika Serikat setelah Ansarullah merebut Pelabuhan Al-Mokha dan Pulau Mayyun di Bab al-Mandab. Riyadh meminta Presiden AS Donald Trump mengambil tindakan terhadap pasukan Yaman, tetapi Washington menolak terlibat langsung dan memilih memberikan dukungan informasi serta data penargetan.
Fars News Agency pada Sabtu (12/9/26) mengutip analisis Newsweek yang menempatkan perkembangan ini dalam situasi yang lebih luas. Selat Hormuz masih terganggu akibat perang Amerika Serikat dan Iran, sementara Bab al-Mandab kini ikut berada di tengah konflik.
Baca juga: CIA Beberkan 71 Dokumen yang Selama Ini Dirahasiakan tentang 11 September
Ansarullah menguasai Al-Mokha pada Kamis dan bergerak ke Mayyun sehari kemudian. Pulau tersebut berada di Bab al-Mandab, selat yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Sekitar 12 persen perdagangan dunia biasanya melewati Bab al-Mandab, menurut Newsweek. Ketika lalu lintas di Hormuz terganggu, jalur ini menjadi semakin penting bagi pengiriman minyak dan barang antara kawasan Asia, Timur Tengah dan Eropa.
Arus minyak melalui Bab al-Mandab bahkan meningkat dari 5,4 juta barel per hari pada kuartal keempat 2025 menjadi 8,1 juta barel per hari pada kuartal kedua 2026. Dalam analisis Newsweek, penguasaan kawasan tersebut memberi Iran tambahan ruang untuk menekan Washington.
Pada saat yang sama, serangan Ansarullah menjangkau sejumlah wilayah Saudi. Abha, Khamis Mushait, Jazan dan Najran disebut menjadi sasaran pada pekan ini. Sejumlah fasilitas energi juga dilaporkan terbakar.
Citra satelit yang dikutip laporan tersebut memperlihatkan kerusakan pada jalur pipa East-West Saudi. Pipa ini menjadi jalur alternatif bagi pengiriman minyak mentah Saudi dengan melewati Selat Hormuz.
Baca juga: Rusia Tegaskan Perkuat Hubungan dengan Iran
Produksi minyak Saudi pada Agustus disebut mencapai titik terendah sejak 1990. Ekspor minyak mentah negara itu juga mengalami perubahan terbesar dalam 13 tahun terakhir.
Di tengah tekanan itu, Riyadh kembali mengandalkan Washington. Padahal, lima pekan sebelumnya Saudi baru menandatangani pakta pertahanan bersama Turki dan Pakistan di Makkah. Kesepakatan tersebut memuat prinsip pertahanan bersama dan dipandang sebagai langkah menuju kemandirian keamanan yang lebih besar.
Ketika serangan Ansarullah meningkat, Mohammed bin Salman justru menghubungi Trump. Menurut laporan yang dikutip Fars, Putra Mahkota Saudi itu tidak meminta bantuan kepada Ankara atau Islamabad, tetapi langsung meminta Washington melakukan serangan balasan terhadap Ansarullah.
Trump menolak permintaan untuk terlibat secara militer. Washington tetap menyetujui pemberian informasi dan data penargetan kepada Saudi untuk membantu menghadapi Ansarullah.
Baca juga: AS Seret China dalam Konflik dengan Iran
Pilihan Riyadh itu kembali memperlihatkan besarnya peran Amerika dalam pertahanan Saudi. Pakta dengan Turki dan Pakistan belum menggantikan hubungan militer yang selama puluhan tahun menjadi sandaran utama Riyadh.
Bagi pemerintahan Trump, persoalannya tidak berhenti di Saudi. Iran sebelumnya menjadikan penghentian serangan terhadap sekutunya di Yaman, Lebanon, Palestina dan Irak sebagai salah satu syarat untuk membuka kembali Hormuz sepenuhnya.
Kini, ketika Ansarullah menguasai posisi di sekitar Bab al-Mandab, tekanan terhadap Washington datang dari dua jalur laut sekaligus. Hormuz berada di tengah perang Iran dan Amerika, sedangkan Bab al-Mandab menghadirkan perkembangan baru di Yaman.
Newsweek menilai kondisi tersebut semakin menyulitkan perhitungan Washington. Saudi membutuhkan dukungan Amerika untuk menghadapi Ansarullah, sementara Trump harus mempertimbangkan apakah keterlibatan lebih jauh di Yaman akan membuka persoalan baru di tengah perang dengan Iran. []
Baca juga: Iran Pegang Kendali Penuh Hormuz, Peringatkan Saudi dan Jepang







