Internasional
Iran Pegang Kendali Penuh Hormuz, Peringatkan Saudi dan Jepang

Media ABI, 12 September 2026 – Iran menegaskan Selat Hormuz berada di bawah kendali penuh Angkatan Bersenjata Iran. Pada saat yang sama, Teheran memperingatkan Arab Saudi dan Jepang atas dukungan mereka terhadap resolusi Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional atau IAEA yang ditujukan kepada Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Ismail Baghaei menyampaikan hal itu dalam program berita khusus televisi Iran, seperti dilaporkan Mehr News Agency pada Sabtu (12/9/26).
Baca juga: Trump Bantu Saudi Hadapi Yaman
Baghaei mengatakan Hormuz sebelumnya terbuka sepenuhnya hingga 28 Februari. Situasi berubah setelah Iran menghadapi kondisi yang menurutnya mengharuskan negara tersebut mengambil langkah untuk melindungi keamanan nasional. Keadaan di selat kemudian sempat lebih aman setelah tercapai kesepahaman di Islamabad dan Iran menjalankan komitmennya. Namun, menurut Baghaei, Amerika Serikat kembali melanggar kesepakatan tersebut setelah 23 hari.
Karena itu, dia menilai ketidakamanan di Hormuz merupakan akibat tindakan Amerika. Jika kenaikan harga bahan bakar menjadi kekhawatiran dunia internasional, menurut Baghaei, tekanan seharusnya diarahkan kepada Washington.
Persoalan IAEA juga menjadi perhatian Baghaei. Dia mempertanyakan langkah negara-negara yang mendorong resolusi Dewan Gubernur setelah sebelumnya menganggap mekanisme snapback telah diberlakukan dan sanksi-sanksi telah kembali. Iran, bersama China dan Rusia, tidak menerima pandangan tersebut. Baghaei juga mengkritik negara-negara Eropa yang menurutnya mengambil keputusan di bawah tekanan Amerika Serikat.
Dia mempertanyakan bagaimana Iran diminta memberikan akses ke lokasi-lokasi yang telah diserang ketika negara tersebut sendiri menjadi sasaran serangan.
Arab Saudi dan Jepang mendapat sorotan khusus. Baghaei mengatakan dukungan kedua negara terhadap resolusi IAEA tidak memiliki alasan yang dapat dibenarkan dan menegaskan bahwa Teheran akan meminta mereka bertanggung jawab atas konsekuensi keputusan tersebut.
Diplomasi tetap berjalan di tengah perang
Menurut Baghaei, aktivitas diplomasi Iran justru meningkat selama perang. Kementerian Luar Negeri tetap menjalankan pertemuan, konsultasi dan pembicaraan dengan berbagai negara ketika Angkatan Bersenjata Iran menjalankan tugas pertahanan.
Diplomasi itu, kata dia, diarahkan untuk mencegah terbentuknya dukungan internasional terhadap serangan yang dialami Iran sekaligus menjelaskan posisi Teheran kepada negara-negara lain. Dia menunjuk kehadiran Iran dalam pertemuan BRICS sebagai salah satu bentuk aktivitas tersebut. China, Rusia dan India, menurut Baghaei, memiliki posisi penting dalam percaturan global sehingga Iran memilih tetap aktif dalam forum internasional.
Baghaei menggambarkan Iran sebagai negara yang terluka tetapi tetap berdiri. Dia mengatakan Iran tidak pernah berada dalam kondisi sekuat sekarang pada masa kontemporer dan menyebut ketahanan tersebut sebagai hasil dari perlawanan rakyat.
Baca juga: Janji yang Terbukti, Pembukaan Front Baru Mulai Terwujud
Musuh Iran, menurut dia, semula berharap negara tersebut runtuh dalam hitungan hari. Kenyataannya berbeda. Serangan justru membuat masyarakat Iran semakin bersatu menghadapi ancaman terhadap negaranya.
“Kami kehilangan orang-orang yang luar biasa besar, tetapi Iran tetap bertahan,” kata Baghaei.
Dia menilai pihak yang menyerang Iran mulai menghadapi persoalan karena perang tanpa tujuan yang jelas akan semakin menguras kekuatan. Baghaei juga menuduh pihak lawan terus mengulang tudingan mengenai keberadaan bom nuklir Iran yang menurutnya tidak terbukti. Dia mengatakan semakin banyak negara memahami apa yang disebutnya sebagai kebohongan tersebut.
Bagi Baghaei, rakyat tetap menjadi kekuatan utama Iran. Dia mengatakan dukungan masyarakat merupakan kekuatan yang menjaga keberadaan Iran sepanjang sejarah. Pemerintah Iran juga menolak upaya memisahkan masyarakat dari negaranya. Menurut Baghaei, serangan terhadap Iran justru memperkuat rasa kebangsaan karena masyarakat Iran di dalam maupun luar negeri memiliki kecintaan yang sama terhadap tanah air.
Iran, lanjut dia, masih menganggap dirinya berada dalam perang selama sanksi, blokade laut dan tekanan terus berlangsung. Baghaei menyebut blokade laut sebagai bagian dari perang agresif berdasarkan ketentuan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Menurut Baghaei, Iran telah menggunakan diplomasi untuk mencegah konflik, tetapi perundingan tidak akan berjalan jika pihak lawan tidak memiliki kemauan mencari penyelesaian. Karena itu, kekuatan diperlukan agar pihak lawan memahami bahwa tekanan tidak akan memaksa Iran memberikan konsesi.
Pandangan tersebut disampaikan menjelang pertemuan para menteri luar negeri negara-negara pesisir Teluk Persia di Oman. Iran berharap pertemuan itu membuka jalan bagi sistem keamanan yang dibangun oleh negara-negara kawasan sendiri.
Baghaei mengatakan banyak pihak kini memahami bahwa kehadiran Amerika Serikat tidak otomatis membawa keamanan ke kawasan. Iran tetap berpegang pada prinsip bertetangga baik dan meminta negara-negara sekitar tidak memberikan wilayah mereka untuk digunakan dalam serangan terhadap Iran.
Baca juga: IRGC Tangkap Kapal Selam Nirawak AS, Operasi Jarak Jauh Amerika Terancam
Salah satu agenda pertemuan Oman adalah Selat Hormuz. Iran dan Oman dijadwalkan memberikan penjelasan mengenai hasil pembicaraan kedua negara terkait persoalan tersebut.
Baghaei mengatakan Iran tidak berharap kehadiran militer negara-negara luar kawasan berakhir dalam waktu singkat. Namun, menurut dia, negara-negara Teluk sudah waktunya mengambil tanggung jawab sendiri atas keamanan kawasan.
Dia juga menolak jika pertemuan tersebut hanya dilihat dari dampaknya terhadap harga minyak. Bagi Teheran, pertemuan itu merupakan hasil proses diplomatik yang berkembang selama enam bulan terakhir.
Iran ingin memastikan negara-negara tetangga tidak lagi menjadi tempat yang digunakan untuk menyerang wilayahnya. Negara-negara tersebut selama ini menyatakan tidak menyerahkan wilayah mereka kepada Amerika dan tidak terlibat dalam serangan terhadap Iran. Namun, menurut Baghaei, Iran tetap akan menuntut pertanggungjawaban atas kerugian yang dialami akibat serangan.
“Medan akan menjalankan tugasnya dan diplomasi akan menjadi pendamping medan,” ujar Baghaei. []
Baca juga: Angkatan Udara Irak Bombardir Persembunyian ISIS di Kirkuk







