Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Kim Jong Un Tolak Ajakan Trump untuk Bertemu

Published

on

Donald Trump dan Kim Jong Un saat bertemu dalam rangkaian perundingan sebelumnya, yang berakhir tanpa kesepakatan mengenai program nuklir Korea Utara.
Donald Trump dan Kim Jong Un saat bertemu dalam rangkaian perundingan sebelumnya, yang berakhir tanpa kesepakatan mengenai program nuklir Korea Utara.

Media ABI, 23 Agustus 2026 — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuka kemungkinan bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dalam beberapa bulan mendatang. Namun, Pyongyang belum memberikan respons positif. Kim Yo Jong, adik sekaligus penasihat senior Kim, bahkan membantah klaim Trump bahwa komunikasi dengan pemimpin Korea Utara telah berlangsung.

Newsweek membahas keinginan Trump tersebut dalam laporan yang dilansir Fars News Agency pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Sehari sebelumnya, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya telah berbicara dengan Kim dan berharap pertemuan dapat berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

Kim Yo Jong segera membantah klaim tersebut. Dia mengatakan hubungan Kim Jong Un dengan Trump memang “sangat baik”, tetapi tidak membenarkan adanya komunikasi baru antara keduanya. Menurut Kim Yo Jong, “kebijakan bermusuhan AS” terhadap Korea Utara juga masih tetap berlaku.

Baca juga: Iran Siap Uji Sistem Senjata Baru di Medan Tempur

Langkah Trump mengurangi latihan militer bersama Korea Selatan pun belum mengubah sikap Pyongyang.

Pada Minggu, beberapa jam sebelum latihan militer tahunan AS dan Korea Selatan dimulai, Trump tiba-tiba memerintahkan pengurangan latihan tersebut. Dia menyebut latihan itu sebagai “sinyal yang tidak pantas dan bermusuhan” terhadap Korea Utara. Langkah tersebut dipandang sebagai tawaran untuk membuka jalan menuju perbaikan hubungan dengan Pyongyang.

Namun, Korea Utara tidak menganggapnya sebagai tanda niat baik. Kim Yo Jong meminta Washington tidak menyebut pengurangan latihan itu sebagai “gestur niat baik” dan memperingatkan bahwa Pyongyang tidak akan memberikan “respons yang diharapkan”.

Sikap tersebut tidak lepas dari hubungan yang memburuk sejak pertemuan Trump dan Kim di Hanoi pada 2019. Pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan mengenai sanksi maupun program nuklir Korea Utara.

Sejak kegagalan tersebut, Pyongyang terus mengembangkan kemampuan nuklirnya dan mempertahankan tuntutan agar statusnya sebagai negara bersenjata nuklir diakui.

Menteri Pertahanan Korea Selatan Ahn Gyu-baek mengatakan Seoul memperkirakan Korea Utara memiliki hingga 120 hulu ledak nuklir. Perkiraan itu jauh di atas angka 57 yang pernah disebut Trump. Pada awal 2026, para peneliti Stockholm International Peace Research Institute memperkirakan Pyongyang memiliki sekitar 60 hulu ledak nuklir.

Baca juga: Ancaman Perang Ekonomi Trump terhadap Iran Menyimpan Pesan Lain

Di sisi lain, Seoul berusaha menurunkan ketegangan sejak Lee Jae-myung menjabat sebagai presiden Korea Selatan pada Juni tahun lalu. Pemerintah Korea Selatan menghentikan siaran propaganda di sepanjang perbatasan sebagai bagian dari upaya tersebut.

Pyongyang justru mengambil langkah berlawanan. Pada Mei, Korea Utara meninggalkan tujuan reunifikasi dengan Korea Selatan yang telah dipertahankan selama puluhan tahun dan kembali menegaskan sikap bermusuhannya terhadap Seoul.

Seorang pejabat senior Korea Selatan mengatakan kepada Yonhap pada Jumat bahwa dialog langsung antara Washington dan Pyongyang merupakan jalan “paling realistis” untuk menghentikan program nuklir Korea Utara.

Namun, jalan menuju perundingan baru masih panjang. Ketidakpercayaan Pyongyang terhadap Washington tetap kuat, sementara program rudal dan nuklir Korea Utara terus berkembang.

Keinginan Trump untuk membuka kembali komunikasi belum mengubah posisi Korea Utara. Pengalaman pahit pertemuan Hanoi dan pernyataan keras sejumlah pejabat Amerika Serikat turut memperdalam ketidakpercayaan Pyongyang terhadap diplomasi dengan Washington.

Untuk saat ini, hubungan kedua negara masih berada dalam kebuntuan. Ajakan Trump belum mendapat sambutan dari Pyongyang, sementara masing-masing pihak masih mempertahankan posisi yang membuat perundingan baru sulit terwujud. []

Baca juga: Foreign Affairs: Tak Ada Lagi yang Percaya Amerika